10.12.12
Sebut Saja Tetuko
Tetuko, anggap saja begitu namanya, padanya penerimaan-penerimaan. Apapun yang terjadi, ia jalani, meski tak tentu dinikmati. Darinya, kubaca bahwa ia, sama sekali tak kehausan nama baik, tak kelaparan pengakuan. Ia hanya berjalan, hijrah, dari waktu ke waktu, dari kenangan menuju harapan, dengan segala kemungkinan.
Ia lelaki paruh baya, hidup melajang, tanpa pekerjaan jelas. Bagaimana bisa kujelaskan pekerjaannya, tutur katanya pun kadang tak jelas kumengerti. Tinggalnya di rumah petak, tak ada kompor, kulkas, ataupun komputer di rumahnya. Kupikir, ia lelaki yang hidup bersama nostalgia, pada era yang belum diperbudak digital, di mana segalanya masih nyata, bukan sekadar kehidupan angka-angka. Ada tumpukan koran yang rapi tersusun di luar kamarnya, beberapa judul kutemukan, dari koran nasional sama tabloid lokal. Pada tumpukan koran bekas itu, ia memodernisasi pemikirannya, meski kehidupannya sama sekali tak juga berubah jadi lebih modern.
Aku kenal dia di warung kopi terminal, sore hari sepulangku kerja. Ia duduk sendiri, matanya perhatikan sekeliling, seakan-akan ia mencari sesuatu. Mendekatlah kemudian aku padanya.
"Kau mau merokok, Bung?", kusodorkan kotak kretekku padanya.
"Terima kasih, Bung.", ia ambil sebatang dari yang kusodorkan.
"Perlu api?"
Ia tak menjawab, cuma mengangguk sambil menengok ke arahku. Kusulutkan api di ujung rokoknya.
"Kau lagi menunggu seseorang, Bung?"
"Tidak, aku tak pernah menunggu siapapun untuk datang kepadaku, Bung. Kalaupun ada yang ingin datang padaku, silakan saja.", dalam-dalam ia hisap kretek dariku.
Sungguh, orang yang banyak bicara, lawan bicara yang menarik, kupikir.
"Aku Kum, siapa namamu, Bung?"
"Tetuko."
"Kau biasa di sini sore begini, Bung?"
"Ya."
"Kau kerja di sini?"
"Aku kerja di manapun kumau."
"Apa kerjamu, kalau kuboleh tahu?"
"Berjalan."
Jawaban macam apa ini, pikirku. Bagaimana bisa berjalan dikatakan sebagai pekerjaan. Bagaimana bisa berjalan menghidupi seorang pejalan, pikirku.
"Apa definisimu tentang pekerjaan kalau begitu?"
"Apapun yang kukerjakan, itulah pekerjaan."
"Meski tak menghasilkan sekalipun?"
"Tak menghasilkan katamu?", menengoklah dia ke arahku dengan tatapan yang menganggap aneh pertanyaanku. Kuanggukkan kepalaku seusai pertanyaannya.
"Menghasilkan apa maksudmu, Bung? Menghasilkan uang? Kalau aku berjalan dengan meminta-minta, kupikir bisa juga hasilkan uang, Bung. Tapi memang, berjalanku tak menghasilkan uang. Aku hanya berjalan begitu saja.", tanpa kuminta ia bicara panjang begitu padaku.
"Lalu apa yang kaudapat?", kulanjut bertanya sambil menyesap kopiku. Masih cukup panas kurasa di lidahku.
"Pengalaman."
"Pengalaman macam apa?"
"Pengalaman berjalan."
"Maksudmu?"
"Aku tak bermaksud apa-apa."
Kemudian bicaraku dengannya berlanjut, sampai matahari mrengut, bosan pada dunia, lalu pergi meninggalkannya. Kopiku pun mulai dingin, sebab matahari tak lagi menghangatkan. Kretekku juga tinggal tersisa beberapa batang.
"Dimana kau tinggal, Bung?"
"Belakang terminal ini."
"Boleh kusinggah?"
"Dengan senang hati, Bung."
Kemudian aku menuju ke rumahnya, sambil meraba-raba jalan pikiran kawan ini. Sampai di rumahnya, kudengar panjang lebar ceritanya. Tentu, tentang hal yang sama, perjalanannya.
Kalau kau ingin tahu lebih banyak ceritanya, kawanku, temui saja Tetuko ini, pada setiap perjalananmu. Kuyakin, ia sedang berjalan di sana. Karena begitulah pekerjaannya.
30.11.12
Anakku
Berlarilah jauh, Anakku
Jauh,
Mencapai tepi
Melintas batas
Terbanglah tinggi, Anakku
Tinggi,
Sampai setara mantra
Sampai setinggi mimpi
Menyelamlah dalam, Anakku
Dalam,
Sampai dimana kelam tenggelam
Sampai dimana geram terbenam
Anakku,
Pada setiap saf nafsumu,
Kupatrikan mantraku
Jauh,
Mencapai tepi
Melintas batas
Terbanglah tinggi, Anakku
Tinggi,
Sampai setara mantra
Sampai setinggi mimpi
Menyelamlah dalam, Anakku
Dalam,
Sampai dimana kelam tenggelam
Sampai dimana geram terbenam
Anakku,
Pada setiap saf nafsumu,
Kupatrikan mantraku
26.10.12
Satiman
Kira-kira 15 tahun lalu, aku diceraikan istriku. Kurasa ia tak terima dengan apa yang kulakukan padanya. Bukan karena kekerasan yang kulangsungkan, hanya keberlangsungan hidup layak yang tak dapat kujanjikan. Penghasilanku tak tetap, bahkan pekerjaanku saja berubah tiap saat, sesuai kebutuhan dan keadaan. Mau tak mau, aku angkat kaki dari rumah yang konon rumahku sendiri.
Begitulah kira-kira yang kualami kawan. Selebihnya, kalau kau ingin tahu, tatap muka saja denganku, nanti kuberitahu.
Ke Baturetno aku menuju, desa kecil tak begitu jauh dari rumahku. Kupikir ada harapan untuk tinggal di sana. Dengan sedikit sisa uang, sekantong perlengkapan, dan secuil penyesalan, aku berjalan kaki. Dengan sejumlah lelah, sampailah aku di Baturetno.
Tak banyak beda antara di kampungku tinggal dulu dan di sini. Mudahnya, sama-sama kampung. Sama-sama tak banyak gula untuk dikerubuti semut. Tak seperti yang kutahu tentang Jakarta, dan kota-kota semacamnya yang menjanjikan banyak impian. Bedanya dengan kampungku, aku tak perlu tiap hari bermandi maki berbasuh caci seperti yang biasa dilakukan istriku, padaku. Ada kedamaian di sini, ada kebebasan di sini, kebebasan dari tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, setidaknya.
Aku tak punya kawan di sini. Handai taulan, apalagi. Aku benar-benar sendiri. Menapakkan telapak kakiku pertama kali di sudut terminal yang bau pesing itu. Sambil duduk bersila di warung tenda, kupesan kopi tanpa gula, biar setara pahitnya dengan kehidupanku. Waktu itu, kira-kira sepuluh tahun dari sekarang.
Siang-malam, pagi-petang kujalani tanpa beban atas pencapaian harapan. Aku menjalani begitu saja. Sesekali memang masih aku menggerutu, tentang masa laluku, bersama istriku. Ah, sudahlah, tak perlu banyak kukenang. Kini dia bukan lagi istriku, dia janda kembang di kampungku yang sedang gandrung dengan juragan beras. Setidaknya, begitulah kabar dari kawanku yang tak sengaja kujumpa di deretan warung tenda di sudut terminal.
Kawan, kukenalkan diriku. Aku Satiman, umurku berapa aku tak ingat pastinya. Yang kuingat, ketika Gestapu ramai diberitakan, aku seumuran anak kelas 6 sekolah dasar. Aku duda tua tunawisma, tak rupawan, tanpa pekerjaan jelas, tanpa tujuan hidup yang bisa dideskripsikan. Kalaupun ada yang bisa kubanggakan, adalah tiga lingkar cincin akik di tanganku. Satu jari manis kiriku, dua lagi di jari tengah dan jari manis tangan kananku. Dulu kupikir, lumayanlah untuk modal tipu-tipu. Meski sekarang kutahu, tak ada hebat-hebatnya barang-barang itu. Aku tinggal di emperan toko beras di utara terminal. Tidur beralas adukan semen kering, berbantal tas kecil isi pakaian, selimutku bulu kakiku yang tak kalah hangat dibanding selimut dari wol. Aku tak punya kamar, kawan. Kamar kecil sekalipun. Kalau aku harus buang hajat, toilet umum di terminal itulah tujuanku. Khusus bagiku, toilet itu tak berbayar, kawan.
Aku tak bekerja, kalau tak ada yang meminta. Kerjaku tak menentu, pura-pura jadi peramal aku mau, memijat otot-otot kekar para supir yang kelelahan pun kuiyakan, jadi bandar judi roulette pun bisa. Ah, apa kubilang? Jadi bandar judi kubilang pekerjaan? Bagimu mungkin tak masuk akal, tapi bagiku memang demikian adanya. Mau bagaimana lagi. Tapi yang paling sering, dan sampai sekarang masih menjadi yang utama bagiku, adalah memijat. Tak ada fasilitas plus-plus pada pijat yang kutawarkan. Mana mungkin, pria tua brewokan sepertiku menyediakan fasilitas plus-plus untuk pelanggan. Mustahil, kawan.
Aku belum ceritakan caraku tetap hidup, kawan? Makanku tak seberapa, kawan. Kalau kebetulan aku ada uang untuk makan, kubelikan makanan. Kalau lagi tak ada, dan kebetulan ada yang berbaik hati memberiku makan, kuterima. Begitu seterusnya. Perkara sembako, nasibku tak sama dengan perkara tembakau. Perkara tembakau, aku selalu punya di tas kecilku, yang isinya tiga potong pakaian. Supir-supir yang kupijat, seringkali memberiku tembakau sebagai upah. Hidupku adalah perjalanan, kawan. Bukan pencapaian harapan, atau penyesalan kenangan. Sama sekali bukan. Aku menjalani hidupku begitu saja, tanpa mimpi, tanpa sakit hati, tanpa prasangka. Setidaknya, aku demikian usai diceraikan istriku.
Dulu aku pernah punya mimpi juga, kawan. Sama sepertimu. Aku pernah punya mimpi jadi penyair, kawan. Padahal aku tak pernah tahu siapa saja penyair yang kondang di era itu. Sama sekali tak tahu. Tapi memang itu mimpiku, dulu. Kutulis puisi panjang lebar setiap saat, keliling kampung mencari inspirasi, termenung di pematang sawah kali-kali ada yang bisa kutuangkan jadi puisi. Tapi kenyataannya, bukannya aku berhasil jadi penyair kondang, justru istriku minta cerai, kawan. Mimpi yang sama sekali meleset dengan kenyataan, kawan. Kini, bahkan aku pernah punya mimpi seperti itu saja, tak ada orang sekitarku yang tahu. Hanya kuceritakan ini padamu, kawan.
Sekarang ini, aku tak mau lagi bermimpi, kawan. Aku bosan tidur untuk menggapai mimpi. Aku lebih suka terjaga tanpa mimpi. Aku hanya menjalani apa yang kurasa mesti dijalankan. Melewati apa yang diperintahkan padaku untuk kulewati. Tanpa pernah kutahu kemana aku menuju. Bahkan di mana aku memulai, aku sudah lupa. Ingatanku lebih pendek dari perjalananku. Kawan, kenangan tinggal lebih jauh dari awal perjalanan. Begitupun harapan. Mungkin ia tinggal lebih jauh dari ujung jalan yang kita tempuh. Tapi tak jarang, mimpi hadir di pinggiran jalan, yang dengan mudah kita dapatkan. Mimpi, dan kemudahan mendapatkannya, kurasa sangat tergantung pada perjalanan seperti apa yang kaujalani. Untuk perjalanan yang kujalani, sampai akhirpun kurasa tak ada lagi mimpi yang bisa kudapatkan.
Untuk mimpi dan harapan di sepanjang perjalananmu, kusemogakan kaudapatkan, kawan.
14.10.12
Luruh Seluruh Nafsu Atasmu
Sebagai pria yang normal, menaruh ketertarikan pada wanita sudah barang tentu hal yang wajar. Sangat wajar kubilang. Untuk lebih dari tertarikpun, tentu tak kalah wajar. Begitupun aku, terhadapmu. Kurasa wajar kalau sampai aku tertarik padamu, bahkan ketika bagian abstrak dariku turut tertarik, wajar.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
12.10.12
Pangkal Pagi
Terjawab
Ratus tanya yang menganga
Runtuh ia sekejap mata
Saat pandangku menujunya,
di pangkal pagi
Di pangkal pagi,
Batal aku menuju siang
Urung aku menggapai petang
Tak perluku sampai pada malam
Cukup di sini, di pangkal pagi
Citra yang diterima netraku
Tak cukup buram
Terlalu jernih malah
Sampai apa yang di baliknya
Tampak nyata menganga
Demi siang, petang, dan malammu
Kurelakan milikku
Kucukupkan di sini,
Di pangkal pagi
Kata Belum Mampu
Di tiap tikungan sunyi di ujung malam
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
11.10.12
Mampir Ngombe
Kita punya mimpi, ambisi, dan tujuan dalam hidup. Tentu. Kurasa semua orang pun demikian. Tak ada beda. Memang detil dari mimpi, ambisi, dan tujuan itu kuyakin beda tiap orangnya. Tapi toh, esensinya sama saja.
Mimpi, yang seringkali disetarakan dengan harapan yang seakan sulit dicapai, di alam bawah sadar seringkali jadi motivasi tersendiri untuk kita. Menjadi semacam tujuan yang benar-benar ingin dicapai, kendati dengan penuh kesadaran, bukan itu tujuan utama kita. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, justru memang mimpinya itulah yang jadi tujuan tujuan utamanya. Apa mimpimu, kawan? Aku tak perlu tahu. Kalau nanti kutahu, mungkin aku malah akan merebut mimpimu itu, kawan.
Tujuan, bermakna arah, maksud, haluan. Begitulah dalam hidup, kita punya tujuan, punya maksud, tentang untuk apa kita hidup. Tentu hal ini sesuai dengan kapasitas masing-masing, kawan. Kalau kapasitasku sebagai seorang dokter, tentu tak mungkin aku bermaksud menjadi arsitek yang hebat. Tentu bukan. Kalaupun ada inginku jadi arsitek, itu kugolongkan mimpi, kawan. Dan hampir semua dari kita, tentu menyusun jalur untuk mencapai tujuan, itu pasti. Kendati kadang, kita baru menetapkan tujuan setelah kita melewati beberapa jalur. Tentu ini analogi, kawan. Kuyakin kau mampu artikan ini.
Ambisi, setara dengan kata gairah, nafsu, hasrat, dalam hal ini konteksnya disangatkan. Memang ketika kita bicara tentang ambisi, seringkali imajinasi kita meluncur pada hal-hal yang sangat diinginkan. Sangat diusahakan. Apapun yang sangat. Tapi cobalah kau ingat kawan, ambisi ini setara nafsu. Apa memang tujuan kita membiarkan nafsu begitu liar? Kurasa tidak. Kendati demikian, percayalah, kita tetap perlu nafsu, kawan. Nafsu makan, misalnya.
Baiklah, kulanjutkan bicaraku, kawan. Tak lepas dari ketiga bahasan tadi, kawan. Kurasa kita tak perlu berlebihan menentukan ketiganya. Cukup dengan takaran yang pas. Tidak berlebih, tapi tidak kurang juga. Sulit ditentukan memang seberapa pasnya, kawan. Tapi kuyakin kau juga bisa menakar perlu seberapa, kawan. Kalau menurutku, selama kita berpijak pada realitas, semuluk apapun mimpi, tujuan dan ambisi kita, nantinya akan didapatkan takaran yang pas. Bahkan terkait takaran, ibarat kita masak, kawan. Selera tiap orang tak sama. Aku suka asin, kau tak suka. Kau suka manis, aku tak suka. Begitu, kawan. Tergantung pada selera.
Konteks lain yang ingin kusampaikan padamu, kawan. Adalah tentang keberadaan tiga hal tadi. Ketiganya berada dalam kehidupan. Merujuk pada pepatah Jawa bahwa urip mung mampir ngombe, hidup sekadar mampir untuk rehat minum. Kurasa kita perlu sadar bahwa hidup itu memang singkat, sesingkat waktu yang kita habiskan untuk ngombe, minum.
Tapi perlu kuingatkan padamu andai kaulupa, kawan. Dalam bahasa jawa, ngombe bisa pula bermakna minum minuman keras, meminum alkohol. Dan bukankah kau tahu kawan, bahwa orang-orang jawa punya hobi mengungkapkan kalimat-kalimat konotatif? Bisa jadi yang dimaksudkan ngombe dalam pengibaratan kehidupan ini adalah minum alkohol. Kalau benar diibaratkan demikian, maka bolehlah kuperpanjang ungkapannya menjadi urip mung mampir ngombe, ora perlu nganti mendem; hidup sekadar minum-minum, tak perlu sampai mabuk.
Mengapa kubilang begitu, kawan? Karena kurasa segala yang ada di kehidupan ini punya sifat membuai, mengadiksi, candu. Bisa saja kita kecanduan hidup, kita teradiksi kehidupan, mabuk pada kehidupan. Jadi kugambarkan saja bahwa hidup ini untuk minum-minum, tapi tak perlu sampai mabuk. Cukuplah sampai kita dapat kehangatan, seperti dilakukan orang-orang yang tinggal di wilayah dengan iklim dingin, bahkan iklim kutub. Setidaknya begitulah yang sedang terlintas di benakku, kawan.
Di Simpang Angan
Wahai sosok yang kerap kali tampak
di simpang angan
di hulu sendu
di ujung renung
Hendak singgahkah kamu?
Kalau memang hendak singgahlah
Tapi kurasa, wahai sosok
Kamu tak akan bisa singgah
di simpang angan
di hulu sendu
bahkan di ujung renung sekalipun
Kamu satu tak terbagi tak terpecah tak terpotong
Tak bersimpang, tak bersudut
Maka tak perlu kamu singgah
Nyawiji lah denganku
Tanpa menyinggahi bagian-bagianku
Apalagi sekadar singgah
di simpang angan
di hulu sendu
dan di ujung renung
di simpang angan
di hulu sendu
di ujung renung
Hendak singgahkah kamu?
Kalau memang hendak singgahlah
Tapi kurasa, wahai sosok
Kamu tak akan bisa singgah
di simpang angan
di hulu sendu
bahkan di ujung renung sekalipun
Kamu satu tak terbagi tak terpecah tak terpotong
Tak bersimpang, tak bersudut
Maka tak perlu kamu singgah
Nyawiji lah denganku
Tanpa menyinggahi bagian-bagianku
Apalagi sekadar singgah
di simpang angan
di hulu sendu
dan di ujung renung
Kepada Nama
hai nama,
adakah majikanmu sebagaimana kutahu?
adakah ia benar handal sebagaimana kukenal?
adakah ia pantas sebagaimana yang sering terlintas
di sela-sela hariku, di retakan malamku?
ah nama,
tahu apalah kamu tentangnya?
kurasa ia sendiripun masih sebatas nama
tak lebih
atau mungkin belum saja
adakah majikanmu sebagaimana kutahu?
adakah ia benar handal sebagaimana kukenal?
adakah ia pantas sebagaimana yang sering terlintas
di sela-sela hariku, di retakan malamku?
ah nama,
tahu apalah kamu tentangnya?
kurasa ia sendiripun masih sebatas nama
tak lebih
atau mungkin belum saja
1.10.12
Sanjiwani (Belum Selesai)
Sudah seharian aku mandi peluh, berkeliling sejagad Jakarta sedari subuh. Matahari mulai berlari ke barat demi mengetahui arah datangnya, timur. Sedangkan aku, justru masih tak tahu mesti ke utara atau selatan menuju, demi recehan yang belum tentu berjodoh denganku. Naik turun kotak melaju, dari Pasar Senen sampai Pasar Minggu, siapa tahu banyak puan dan tuan terhibur olehku.
Aku Sanjiwani, setiap hari berputar-putar Jakarta. Melagukan puisi, memuisikan lagu, tegak berdiri di hadapan putra-putri pertiwi yang rapi dan wangi, berharap mereka cecerkan recehan untukku, untuk bisa kubawa pulang. Sekadar untuk nasi dan kopi, juga beberapa linting tembakau.
Tak banyak yang tahu tentangku, apalagi mengenalku. Ada yang acuh padaku saja, kadang cuma mimpi. Ah, apa peduliku juga pada mereka? Tapi percayalah, sebenarnya aku kelewat peduli pada mereka. Sampai-sampai tanpa diminta pun, aku berdendang untuk mereka, kendati dengan suara sumbang. Semoga mereka senang.
Bung, kau tahu? Kadang aku cemburu, pada mereka yang lebih bermodal dariku namun tak lebih handal dariku, bisa menikmati tak sekadar recehan. Sedangkan aku, sampai bosan berputar-putar naik-turun angkutan umum pun, seringkali hanya cukup untuk makan. Kuralat Bung, tak hanya cukup makan maksudku, tapi juga masih ada sedikit sisa untuk merapikan tampilanku. Kupikir, setengah tahun sekali kubelanjakan penghasilanku untuk pakaian "kerja" bolehlah. Supaya tuan dan puan lebih rela kasih recehannya untukku.
Sungguh, Bung. Aku memendam cemburu pada mereka yang semata lebih mahal pakaiannya dan lebih canggih alat musiknya dariku, juga punya relasi yang punya kuasa. Lalu dengan begitu mereka dimudahkan masuk dapur rekaman. Tak hanya masuk dapur, Bung. Masakannya pun dihidangkan dalam tampilan yang mewah. Lebih membuatku cemburu lagi adalah banyak yang suka musik mereka, Bung. Padahal kurasa, tak jauh lebih baik dari yang kubisa lakukan. Kurasa. Menurutku saja ini, Bung.
Lalu mereka bergaya selebritis, menggandeng wanita-wanita idaman, berfoya-foya, membunuh seni, mengindustrikan selera mayoritas. Ah, sungguh aku cemburu, Bung! Kau tahu apa yang lebih membuatku cemburu, Bung? Kali ini, kumohon jangan kau ceritakan pada keluargaku di kampung, Bung. Kali ini tentang istriku, Bung. Aku tak lagi bersamanya. Dan kau tahu kemana perginya istriku, Bung? Kurasa kau cukup cerdas untuk menebak bahwa salah satu dari pria yang kebetulan tenar itu yang membawanya.
Kurasa sekian dulu keceritakan, Bung. Esok kubisa lanjutkan lagi.
Aku Sanjiwani, setiap hari berputar-putar Jakarta. Melagukan puisi, memuisikan lagu, tegak berdiri di hadapan putra-putri pertiwi yang rapi dan wangi, berharap mereka cecerkan recehan untukku, untuk bisa kubawa pulang. Sekadar untuk nasi dan kopi, juga beberapa linting tembakau.
Tak banyak yang tahu tentangku, apalagi mengenalku. Ada yang acuh padaku saja, kadang cuma mimpi. Ah, apa peduliku juga pada mereka? Tapi percayalah, sebenarnya aku kelewat peduli pada mereka. Sampai-sampai tanpa diminta pun, aku berdendang untuk mereka, kendati dengan suara sumbang. Semoga mereka senang.
Bung, kau tahu? Kadang aku cemburu, pada mereka yang lebih bermodal dariku namun tak lebih handal dariku, bisa menikmati tak sekadar recehan. Sedangkan aku, sampai bosan berputar-putar naik-turun angkutan umum pun, seringkali hanya cukup untuk makan. Kuralat Bung, tak hanya cukup makan maksudku, tapi juga masih ada sedikit sisa untuk merapikan tampilanku. Kupikir, setengah tahun sekali kubelanjakan penghasilanku untuk pakaian "kerja" bolehlah. Supaya tuan dan puan lebih rela kasih recehannya untukku.
Sungguh, Bung. Aku memendam cemburu pada mereka yang semata lebih mahal pakaiannya dan lebih canggih alat musiknya dariku, juga punya relasi yang punya kuasa. Lalu dengan begitu mereka dimudahkan masuk dapur rekaman. Tak hanya masuk dapur, Bung. Masakannya pun dihidangkan dalam tampilan yang mewah. Lebih membuatku cemburu lagi adalah banyak yang suka musik mereka, Bung. Padahal kurasa, tak jauh lebih baik dari yang kubisa lakukan. Kurasa. Menurutku saja ini, Bung.
Lalu mereka bergaya selebritis, menggandeng wanita-wanita idaman, berfoya-foya, membunuh seni, mengindustrikan selera mayoritas. Ah, sungguh aku cemburu, Bung! Kau tahu apa yang lebih membuatku cemburu, Bung? Kali ini, kumohon jangan kau ceritakan pada keluargaku di kampung, Bung. Kali ini tentang istriku, Bung. Aku tak lagi bersamanya. Dan kau tahu kemana perginya istriku, Bung? Kurasa kau cukup cerdas untuk menebak bahwa salah satu dari pria yang kebetulan tenar itu yang membawanya.
Kurasa sekian dulu keceritakan, Bung. Esok kubisa lanjutkan lagi.
Saya Pamit Pulang, Puan
"Saya pamit pulang, Puan
Terima kasih jamuannya
Sungguh senang saya dijamu Puan
Kudapan yang nikmat, wahai Puan"
"Kenapa buru-buru, Pria Kampung?
Kau tak ingin singgah dulu di sini?
Kau tak ingin tahu siapa yang kunanti
yang akan tiba malam ini, Pria Kampung?"
"Ribu terima kasih, Puan
Saya rasa tak perlu
Biar Puan dan Tuan nanti malam tak terganggu
Biar Puan dan Tuan nanti khusyuk berbagi peluk"
"Baiklah, Pria Kampung
Hati-hatilah di perjalanan pulang
Jaga dirimu, Pria Kampung
Kelak kalau kau mau tandanglah kemari"
Kalau kemarin kutahu apa yang kelak terjadi, wahai Puan
Tak akan kutelan kudapanmu
Tak akan kutandang ke purimu
Tak akan, Puan
Kini kutelah tahu, Puan
Puan tergila-gila Tuan
Tuan tergila-gila Puan
Aku pamit pulang, Puan
29.9.12
Yang Terhomat Masa Lalu
Yang terhormat masa lalu,
Adakah gelapmu mampu kuterangi?
Kalau jawabmu ya,
Kucoba cari pemantik
Kurasa kilatannya pun cukup
untuk sekadar menerangi
Masa lalu, seberapa peduli kau padamu?
Seberapa ingin kau diterangi?
Kalau pun kubisa, kucoba
Bisakah aku?
Mana mungkin
Pada masaku yang belum tiba pun
tak kuyakin bisa
Apalagi padamu
Sedang kau masa lalu,
Kau bukan milikku,
Kau tak dalam genggamku,
Kau masa lalu......
nya
Ah, apalah peduliku padamu
Bagiku kekinian puanmu
jauh lebih pantas masuk hitungan
24.9.12
Untukmu, Malaikat dan Iblis Nyawiji
Di sana
Di pusaran riuh
Di pusat ribut
Aku bersila, mengatupkan kelopak mata
Meramu doa, merapal mantra
Di sana
Di ramuan doa
Di rapalan mantra
Kamu lenggangkan pinggang, melepas tegang
Meluruhkan yang kamu kenakan
Dan di hadapmu
Di depan pusarmu
Dua puluh delapan pria
Menawarkan dekapan
Menawarkan ketegangan
yang sebelumnya kamu lepaskan
Dua puluh delapan pria
Meramu bujuk
Merapal rayu
Berharap bisa membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
meregang
menggelinjang
Terus menerus
Dan di sana
Di pusaran doa yang kuramu
Di pucuk mantra yang kurapal
Empat belas malaikat
Empat belas iblis
Nyawiji
Menghabisi
Dua puluh delapan pria
yang berharap bisa
membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
Di pusaran riuh
Di pusat ribut
Aku bersila, mengatupkan kelopak mata
Meramu doa, merapal mantra
Di sana
Di ramuan doa
Di rapalan mantra
Kamu lenggangkan pinggang, melepas tegang
Meluruhkan yang kamu kenakan
Dan di hadapmu
Di depan pusarmu
Dua puluh delapan pria
Menawarkan dekapan
Menawarkan ketegangan
yang sebelumnya kamu lepaskan
Dua puluh delapan pria
Meramu bujuk
Merapal rayu
Berharap bisa membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
meregang
menggelinjang
Terus menerus
Dan di sana
Di pusaran doa yang kuramu
Di pucuk mantra yang kurapal
Empat belas malaikat
Empat belas iblis
Nyawiji
Menghabisi
Dua puluh delapan pria
yang berharap bisa
membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
Berhitung, Bertarung, Belum Bisa
Mungkin sejauh ini kamu merasa kamulah yang berdaya tarung tinggi. Kutegaskan, daya tarung, bukan daya juang. Meski dalam pertarungan kau juga perlu berjuang. Ah, itupun kalau tujuanmu menang.
Setelah kubilang sejauh ini, kurasa kamu mulai lupa sejak kapan kamu mengawali perjalanan sebagai petarung. Kurasa kamu mulai lupa seperti apa tak bertarung, bahkan mungkin lupa siapa kamu sebelum ditahbiskan sebagai petarung.
Memang kini, mau tak mau, dunia memintamu bersarung identitas petarung. Tapi pikirku, tak selamanya kamu ingin bertarung. Bagaimana mungkin kamu ingin terus bertarung kalau kamu tak pernah merasakan tak bertarung?
Coba kutanya, apa tujuanmu bertarung? Memenangkan pertarungan? Andai benar, apa tujuanmu menang? Mendapati gelar sebagai pemenang? Andai lagi-lagi benar, apa tujuanmu mendapati gelar? Cobalah tanyakan perihal gelarmu pada orang-orang yang tak menggeluti pertarungan. Kurasa mereka enggan untuk acuh, apalagi memuji, jauh.
Sudahlah, katamu rindu kedamaian. Tapi tak juga mau kamu berhenti bertarung. Hidup bukan tentang persaingan, bukan tentang pertarungan, bukan tentang kemenangan, apalagi gelar. Tak semua harus dipersaingkan, diperbutkan, dipertarungkan. Tak usahlah buru-buru beradu, bulatkan dulu perjuanganmu. Berjuang untuk apa? Kurasa inginmu untuk kebaikan. Tapi apakah kemenangan sepihak dalam pertarungan kauanggap kebaikan? Kalaupun benar baik, berapa yang menganggapnya tidak baik? Kurasa kamu bisa berhitung tentang itu. Kalau benar kamu bisa berhitung tentang itu, syukurlah. Sebab aku belum bisa.
Ember
Kemana saja kamu cari selama ini? Ke ujung-ujung ruang? Ke balik semak gemuk? Sudah kautemukan? Maka kurasa, sebelum kau temukan, perlu kautahu dulu untuk apa kaucari.
Kamu cari uang? Untuk apa? Ketahuilah dulu kemana akan kaubawa pergi uang-uang yang kau dapatkan kelak. Bagaimana bisa kau hanya berencana mencari? Tanpa merencanakan pula kemana kaubuang? Mana mungkin? Cobalah bayangkan andai seseorang merencanakan untuk memperkaya ilmu, tapi tak tahu kemana mesti menuangkan ilmunya. Tunggu, jangan repot dulu kaubayangkan. Biar aku saja.
Kini kubayangkan, mereka mencari ilmu kemanapun pergi, mengumpulkan sepotong demi sepotong sampai sebesar durian montong. Terus menumpuk sampai tak cukup tanganmu memeluk. Tapi kemana perginya, entah, tak mereka rencanakan sama sekali. Lalu jadi apa ilmu-ilmu itu? Usang? Mungkin? Stagnan tanpa perkembangan? Pasti.
Biar kucoba bandingkan dengan ember dan isinya. Kuibaratkan ember adalah mereka, kapasitas mereka, kemampuan mereka, daya tampung mereka. Sedang kuibaratkan air, yang menjadi isi dalam ember adalah ilmu, uang, popularitas, materi, dan sebangsanya. Kucoba tuangkan sedikit air pada ember, tentu muat. Kutuang terus menerus, sampai meluber tak beraturan. Tapi coba kubayangkan, andai tak kutuang dengan tujuan memenuhi ember, melainkan kulobangi sisi ember sebesar butir kedelai, kurasa tak perlu banyak air meluber tak beraturan. Justru ketika kutuangkan menerus, ember akan tetap penuh terisi air, tanpa meluberkan air, tapi menyalurkan air yang terarah.
Pun begitu dengan ilmu, uang dan materi-materi semacamnya, kurasa. Sebelum kau rencanakan menumpuk, rencanakan dulu membuang. Apalah arti menabung, menumpuk harta, memperpanjang digit angka, tapi sayang untuk membiarkannya keluar secara teratur demi kenikmatan. Apa? Apalah artinya?
Karena sudah kubayangkan tentang analoginya, kini giliranmu membayangkan bagian ini.
Sudah selesai kaubayangkan? Setidaknya yang kaubayangkan itu yang terlintas di benakku.
Kamu cari uang? Untuk apa? Ketahuilah dulu kemana akan kaubawa pergi uang-uang yang kau dapatkan kelak. Bagaimana bisa kau hanya berencana mencari? Tanpa merencanakan pula kemana kaubuang? Mana mungkin? Cobalah bayangkan andai seseorang merencanakan untuk memperkaya ilmu, tapi tak tahu kemana mesti menuangkan ilmunya. Tunggu, jangan repot dulu kaubayangkan. Biar aku saja.
Kini kubayangkan, mereka mencari ilmu kemanapun pergi, mengumpulkan sepotong demi sepotong sampai sebesar durian montong. Terus menumpuk sampai tak cukup tanganmu memeluk. Tapi kemana perginya, entah, tak mereka rencanakan sama sekali. Lalu jadi apa ilmu-ilmu itu? Usang? Mungkin? Stagnan tanpa perkembangan? Pasti.
Biar kucoba bandingkan dengan ember dan isinya. Kuibaratkan ember adalah mereka, kapasitas mereka, kemampuan mereka, daya tampung mereka. Sedang kuibaratkan air, yang menjadi isi dalam ember adalah ilmu, uang, popularitas, materi, dan sebangsanya. Kucoba tuangkan sedikit air pada ember, tentu muat. Kutuang terus menerus, sampai meluber tak beraturan. Tapi coba kubayangkan, andai tak kutuang dengan tujuan memenuhi ember, melainkan kulobangi sisi ember sebesar butir kedelai, kurasa tak perlu banyak air meluber tak beraturan. Justru ketika kutuangkan menerus, ember akan tetap penuh terisi air, tanpa meluberkan air, tapi menyalurkan air yang terarah.
Pun begitu dengan ilmu, uang dan materi-materi semacamnya, kurasa. Sebelum kau rencanakan menumpuk, rencanakan dulu membuang. Apalah arti menabung, menumpuk harta, memperpanjang digit angka, tapi sayang untuk membiarkannya keluar secara teratur demi kenikmatan. Apa? Apalah artinya?
Karena sudah kubayangkan tentang analoginya, kini giliranmu membayangkan bagian ini.
Sudah selesai kaubayangkan? Setidaknya yang kaubayangkan itu yang terlintas di benakku.
Sok Tahuku Tentangmu
"sedang jatuhkah kamu?"
"untuk apa jatuh, kalau terlalu tinggi tempatku, parah pula cideraku"
"sedang mencintai kah kamu?"
"mungkin, aku sendiri belum tahu."
"boleh kutahu, siapa yang sedang kamu cintai?"
"tak perlu pura-pura tak tahu, kalau kuboleh sok tahu tentang benakmu"
"maksudmu?"
"kurasa kamu merasa, kutahu kamu tahu, dalam kerangka sok tahuku."
"memangnya apa yang kupikirkan?"
"untuk apa kamu tanyakan? toh kamu sudah tahu."
"untuk apa jatuh, kalau terlalu tinggi tempatku, parah pula cideraku"
"sedang mencintai kah kamu?"
"mungkin, aku sendiri belum tahu."
"boleh kutahu, siapa yang sedang kamu cintai?"
"tak perlu pura-pura tak tahu, kalau kuboleh sok tahu tentang benakmu"
"maksudmu?"
"kurasa kamu merasa, kutahu kamu tahu, dalam kerangka sok tahuku."
"memangnya apa yang kupikirkan?"
"untuk apa kamu tanyakan? toh kamu sudah tahu."
Tempatmu Baris Tak Genap!
"jadi kamu mau kemana?"
"kemanapun aku, apa pedulimu?"
"setidaknya aku tahu"
"lantas setelah kamu tahu?"
"bisa kusesuaikan kemudian"
"untuk apa kamu menyesuaikan?"
"supaya sesuai saja"
"sesuai dengan...?"
"denganmu"
"aku?"
"ya, kamu"
"memangnya, kenapa aku?"
"tak perlu ada kenapa. jadi kamu mau kemana? jawab dulu"
"kemanapun, sesukaku."
"setidaknya, aku ingin tahu kamu akan lurus ke depan atau memutar balik?"
"antara keduanya."
"biarkan aku tahu."
"tak perlu pura-pura. kamu sudah tahu kemana aku menuju."
"aku tak tahu."
"masih kamu lanjutkan saja pura-pura."
"baiklah, aku mengaku pura-pura."
"ya sudah, jadi kamu sudah tahu kan?"
"ya"
"kemanapun aku, apa pedulimu?"
"setidaknya aku tahu"
"lantas setelah kamu tahu?"
"bisa kusesuaikan kemudian"
"untuk apa kamu menyesuaikan?"
"supaya sesuai saja"
"sesuai dengan...?"
"denganmu"
"aku?"
"ya, kamu"
"memangnya, kenapa aku?"
"tak perlu ada kenapa. jadi kamu mau kemana? jawab dulu"
"kemanapun, sesukaku."
"setidaknya, aku ingin tahu kamu akan lurus ke depan atau memutar balik?"
"antara keduanya."
"biarkan aku tahu."
"tak perlu pura-pura. kamu sudah tahu kemana aku menuju."
"aku tak tahu."
"masih kamu lanjutkan saja pura-pura."
"baiklah, aku mengaku pura-pura."
"ya sudah, jadi kamu sudah tahu kan?"
"ya"
Cangkemanku
Kurasa tak aktual lagi kalau cerita ini kutulis sekarang. Tapi apalah aktual di hadapanku kini, pada akhirnya kutulis juga sekarang. Bukan kemarin. Sebab memang tidak mungkin kutulis pada hari kemarin. Pikirmu aku punya mesin waktu?
Tahukah kamu, nona? Angan-anganku selalu mampir ke alam entah tiap kuputar lagu "for fiona" milik "no use for a name" ini. Maaf, kukoreksi, bukan ke alam entah anganku mampir. Kalau boleh kubilang, anganku selalu mampir pada saat-saat kita melewatkan waktu berdua. Sekali lagi kutegaskan, berdua, nona. Bukan bertiga, beempat, berpura-pura ataupun berandai-andai. Sekali lagi maaf, nona, tulisanku melenceng kemana-mana.
Untuk kamu ketahui, dalam lagu itu, Tony Sly sempat menuturkan kalimat "if i could freeze our small amount of time together" pada bait kedua. Memang tidak ada yang istimewa, kecuali kalau memang ada yang istimewa di dalamku, atau mungkin (semoga) di antaraku dan kamu. Entah zat macam apa yang meliputi anganku saat terlintas kalimat itu, tiba-tiba saja anganku turut beku, mengeras dan terlempar pada saat-saat di mana hanya adaku dan kamu, serta bincang di antaranya. Ah, andai saja. Bahkan Tony Sly pun juga bilang "andai saja" waktu bisa dibekukan. Untuk apa dibekukan? Agar aku dan kamu tetap terperangkap dalam momen kebersamaan, dan tak meluber kemana-mana sehingga tak seorang pun terpaksa tahu.
Ah, nona, lagi-lagi Tony Sly melantunkan kalimat-kalimat yang senada dengan yang terlintas di benakku. Coba kupetikkan kalimatnya untukmu, nona. "When it ends it begins with you...", entah apa "it" yang dimaksud Tony Sly dalam kalimat itu, nona. Bukan karena aku tak bisa membaca pikiran orang. Melainkan karena aku tak pandai memahami bahasa inggris, nona. Ah sudahlah, bukan di situ konsentrasinya. Pastinya, yang kurasa senada adalah aku sedang mengakhiri sesuatu, pun di lain belahan aku sedang memulai sesuatu. Apa kau sempat berpikir bahwa yang kumaksud memulai adalah denganmu, nona? Kalau benar demikian, maka kamu cukup cerdas dan tanggap dengan maksudku, nona. Kuharap memang demikian.
Nona, lagu yang dilantunkan Tony Sly sudah usai. Kurasa tak perlu keperpanjang juga tulisan ini, nona. Karena mungkin sekian saja sudah membuatmu mual. Bukan karena kamu sedang di dalam kapal yang mengarungi ombak malam, tapi karena mencoba memahami ketiadarunutan tulisanku ini. Semoga ketidaksengajaan membawamu membca pesan ini, nona. Selamat petang.
Kantuk di Pelupuk
Terantuk kantuk yang berdesakan di pelupuk
Pada embun yang menggelayut di ufuk matamu
Kau bertutur teratur
Tentang resah yang mulai luntur
Tentang risau yang mulai kendur
Pada butir-butir cair di kerut bibirmu
Mengalir alur lirik-lirik
Perlahan kau luruhkan
Beriring lirih merdu nada terpadu
Di ujung hari
Di sepisau sepi
dan sepotong mimpi
Ingat Apa yang Kauingat?
Kau ingat sekian tahun silam?
Sebelum waktu membeku,
Sebelum rasa mencair
meluber
meruah sejauh ruang
Kau ingat apa yang kau ingat waktu itu?
Ketika kau lihat muslihat
yang terus kulontarkan tanpa tenggat
Tapi tak jua terbesit hasrat
di ceruk hatimu untuk selintas melihat
apalagi mendekat
Kau ingat apa yang kau ingat sebelum terjerat?
Saat pikat kau bilang hangat
remang kau bilang temaram
rayu menjadi candu
bujuk menjadi cambuk
Entahlah, aku pun enggan mengingat
Biar ia menjadi padat
terikat
erat
pada masa lalu yang terlampau berat
untuk sekadar diingat
Sebelum waktu membeku,
Sebelum rasa mencair
meluber
meruah sejauh ruang
Kau ingat apa yang kau ingat waktu itu?
Ketika kau lihat muslihat
yang terus kulontarkan tanpa tenggat
Tapi tak jua terbesit hasrat
di ceruk hatimu untuk selintas melihat
apalagi mendekat
Kau ingat apa yang kau ingat sebelum terjerat?
Saat pikat kau bilang hangat
remang kau bilang temaram
rayu menjadi candu
bujuk menjadi cambuk
Entahlah, aku pun enggan mengingat
Biar ia menjadi padat
terikat
erat
pada masa lalu yang terlampau berat
untuk sekadar diingat
Melenceng Tanpa Sesal
Kurasa tak pantas disalahkan atasku
Tentang jalan-jalan yang kutapaki
Kendati melenceng dari rute awalku
Kurasa tak pantas pula kusesali
Jalan-jalan tan gemerlap yang kujejaki
Derap demi derap yang kupijakkan
Pada jalan-jalan yang tak serapih
serunut
selurus
semulus rute awal pilihanku
Kurasa tak pantas pula kusesali
Adamu sebagai pemberi navigasi
Meski tak kau genggam kemudi
Arahku senada tuturmu
Dan kurasa memang tak pantas kusesali
Kendati pun harus kujalani di ujung hari
Tentang jalan-jalan yang kutapaki
Kendati melenceng dari rute awalku
Kurasa tak pantas pula kusesali
Jalan-jalan tan gemerlap yang kujejaki
Derap demi derap yang kupijakkan
Pada jalan-jalan yang tak serapih
serunut
selurus
semulus rute awal pilihanku
Kurasa tak pantas pula kusesali
Adamu sebagai pemberi navigasi
Meski tak kau genggam kemudi
Arahku senada tuturmu
Dan kurasa memang tak pantas kusesali
Kendati pun harus kujalani di ujung hari
15.8.12
Gardu Tanpa Garda
Kita dengan sadar memasuki gardu
yang terbuka lebar tanpa garda
Memasuki ruang resik
Berbagi rasa, risau, resah
Saling melempar desus, membagi desah
Sampai saat kendali kembali, kita telah basah
Berlumur gelisah
yang terbuka lebar tanpa garda
Memasuki ruang resik
Berbagi rasa, risau, resah
Saling melempar desus, membagi desah
Sampai saat kendali kembali, kita telah basah
Berlumur gelisah
Jangan Ada Hasrat
Aku hanya mencoba
Melenggang tanpa gerak
Mendekat tanpa hasrat
Menggenggam tanpa jemari
Menujumu, kepadamu
Aku hanya mencoba
Menjadi gelap
Sampai kamu tak mampu temukanku
Menjadi terang
Sampai kamu silau karenaku
Menjadi hangat
Sampai kamu tak perlu hadirku memeluk
Menjadi dingin
Sampai kamu merindu hadirku memeluk
Tanpa kamu ketahui
Diam-diam
Tak terasa tapi ada
Tak ada tapi terasa
Di dalammu
Di sisimu
Meliputimu
Kubiarkan tak ada hasrat
Sebab bisa jadi karenanya kita terjerat
Terikat erat
Tanpa bisa melepaskan
Dalam ikatan
yang sama sekali tak menguntungkan
Melenggang tanpa gerak
Mendekat tanpa hasrat
Menggenggam tanpa jemari
Menujumu, kepadamu
Aku hanya mencoba
Menjadi gelap
Sampai kamu tak mampu temukanku
Menjadi terang
Sampai kamu silau karenaku
Menjadi hangat
Sampai kamu tak perlu hadirku memeluk
Menjadi dingin
Sampai kamu merindu hadirku memeluk
Tanpa kamu ketahui
Diam-diam
Tak terasa tapi ada
Tak ada tapi terasa
Di dalammu
Di sisimu
Meliputimu
Kubiarkan tak ada hasrat
Sebab bisa jadi karenanya kita terjerat
Terikat erat
Tanpa bisa melepaskan
Dalam ikatan
yang sama sekali tak menguntungkan
26.7.12
Alufiru di Relung Remang
Kulihat separuh rautmu
di relung remang
di ujung ruang
sungguh jauh dari ruwet
dan tak perlu lagi diruwat
Telingaku meraih-raih
meriah suaramu
di tengah riuh
di relung remang
di ujung ruang
Tak kutemukan
Telingaku meraih
suaramu meracau
di antara racikan reramuan
mengerang
di relung remang
di ujung ruang
Kulihat separuh lagi rautmu
ruwet
meruah darah
di relung remang
di ujung ruang
Terjebak aku dalam alufru
tegang
Bersandar aku pada tiang ruai
di sisi lain
di relung remang
di ujung ruang
di relung remang
di ujung ruang
sungguh jauh dari ruwet
dan tak perlu lagi diruwat
Telingaku meraih-raih
meriah suaramu
di tengah riuh
di relung remang
di ujung ruang
Tak kutemukan
Telingaku meraih
suaramu meracau
di antara racikan reramuan
mengerang
di relung remang
di ujung ruang
Kulihat separuh lagi rautmu
ruwet
meruah darah
di relung remang
di ujung ruang
Terjebak aku dalam alufru
tegang
Bersandar aku pada tiang ruai
di sisi lain
di relung remang
di ujung ruang
20.7.12
Beda
Kita adalah dua insan
dari dua masa berbeda
dari ruang dan waktu
yang berlainan
Akulah selangkangan
sedang dirimu bola mata
bagaimana kita bersatu
bila demikian
Sihirku menjelma doa
Ceracaumu mantra
Di antaranya lah
kita bertemu
untuk kemudian kembali
saling merindu
dari dua masa berbeda
dari ruang dan waktu
yang berlainan
Akulah selangkangan
sedang dirimu bola mata
bagaimana kita bersatu
bila demikian
Sihirku menjelma doa
Ceracaumu mantra
Di antaranya lah
kita bertemu
untuk kemudian kembali
saling merindu
28.5.12
Nona, Pandai Benar Kamu
Nona nan biasa saja
Apalah arti kosmetika
Tanpanya pun kamu tetap berestetika
Apalah arti eksotika
Tanpanya pun kamu tetap mengalapkan logika
Nona nan malu-malu
Pandai benar kamu menggodaku
Sekalipun tak pernah kamu mau bergincu
Kamu selalu menjadi candu
Nona,
Caramu mengangkat kedua ujung bibirmu
Selalu membuat kelu lidahku
Sampai-sampai aku tak pernah mampu
Sekadar untuk menyeru namamu
Apalah arti kosmetika
Tanpanya pun kamu tetap berestetika
Apalah arti eksotika
Tanpanya pun kamu tetap mengalapkan logika
Nona nan malu-malu
Pandai benar kamu menggodaku
Sekalipun tak pernah kamu mau bergincu
Kamu selalu menjadi candu
Nona,
Caramu mengangkat kedua ujung bibirmu
Selalu membuat kelu lidahku
Sampai-sampai aku tak pernah mampu
Sekadar untuk menyeru namamu
24.5.12
Tanpa Tuan, Tanpa Tuhan
Aku tertawan,
Dalam sebuah cawan
Tanpa seorangpun kawan
Seisinya lawan
Aku berpura-pura tertawa
Mengajak serta ragaku mengkhianati jiwa
Aku berpura-pura bahagia
Mengelabui rasa dengan logika
Bertahun-tahun aku tertawan
Menjadi budak tanpa tuan
Melawan kawan
Berkawan lawan
Memeluk kesunyian tanpa Tuhan
14.5.12
Kita Terlalu
Kadang kita terlalu berlebihan
Saat mencoba memulai
Juga ketika berniat mengakhiri
Kadang kita terlalu berlebihan
Saat mengangkat beban
Sekalipun bagi kita terlalu ringan
Kadang kita terlalu cemburu
Saat sedang memburu
Berpura-pura terjebak dalam haru
Padahal kita sudah lama tahu
Bahwa seperti ini bukanlah hal baru
Kadang kita terlalu buru-buru
Bahkan tak jarang sok tahu
Memalsukan hasrat yang menggebu
Dengan melafalkan "aku mencintaimu"
Pandai benar kita memanipulasi
Mengelabui esensi
Demi menjerat sensasi
Saat mencoba memulai
Juga ketika berniat mengakhiri
Kadang kita terlalu berlebihan
Saat mengangkat beban
Sekalipun bagi kita terlalu ringan
Kadang kita terlalu cemburu
Saat sedang memburu
Berpura-pura terjebak dalam haru
Padahal kita sudah lama tahu
Bahwa seperti ini bukanlah hal baru
Kadang kita terlalu buru-buru
Bahkan tak jarang sok tahu
Memalsukan hasrat yang menggebu
Dengan melafalkan "aku mencintaimu"
Pandai benar kita memanipulasi
Mengelabui esensi
Demi menjerat sensasi
Kita Bermain Kata
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu tak bernyali
Saat bertatap muka
Apalagi saling memandang mata
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu kaku
Saat berperan dalam cerita
Apalagi terlibat cinta
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu malu
Saat mencoba melisankannya
Apalagi mementaskannya
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu bernafsu
Saat mencoba memulai cerita
Apalagi ketika kita jadi pemerannya
Tapi seringkali terlalu tak bernyali
Saat bertatap muka
Apalagi saling memandang mata
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu kaku
Saat berperan dalam cerita
Apalagi terlibat cinta
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu malu
Saat mencoba melisankannya
Apalagi mementaskannya
Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu bernafsu
Saat mencoba memulai cerita
Apalagi ketika kita jadi pemerannya
Semacam Deretan Pesan
Malam ini
Aku kehilangan kemampuan selain merindu
Aku pun kehilangan imaji
Selain kamu
Yang mampu kurasakan
Hanya semacam deretan pesan
Yang berusaha menyampaikan
Beberapa kalimat murahan
Tentang cerita yang belum terselesaikan
Aku kehilangan kemampuan selain merindu
Aku pun kehilangan imaji
Selain kamu
Yang mampu kurasakan
Hanya semacam deretan pesan
Yang berusaha menyampaikan
Beberapa kalimat murahan
Tentang cerita yang belum terselesaikan
Ananira, Semata Hanya Kamu
Ananira,
Tidakkah kau dengar teriakku?
Bukankah benar yang kuteriakkan adalah namamu?
Ananira,
Adakah surga begitu kedap suara?
Sampai-sampai tak kau dengar teriakku
Aku merindukanmu, Ananira
Bahkan aku sempat kesulitan
Menggambarkan betapaku merindukanmu
Bahkan sangat kesulitan
Memilah kata yang tepat untuk menggambarkan
Kerinduanku, padamu
Ananira,
Aku tak mampu lagi mengingat
Berserinya raut mukamu
Aku tak mampu lagi mengingat
Apa yang pernah kulakukan bersamamu
Sebab yang mampu kuingat
Semata hanya kamu
Tidakkah kau dengar teriakku?
Bukankah benar yang kuteriakkan adalah namamu?
Ananira,
Adakah surga begitu kedap suara?
Sampai-sampai tak kau dengar teriakku
Aku merindukanmu, Ananira
Bahkan aku sempat kesulitan
Menggambarkan betapaku merindukanmu
Bahkan sangat kesulitan
Memilah kata yang tepat untuk menggambarkan
Kerinduanku, padamu
Ananira,
Aku tak mampu lagi mengingat
Berserinya raut mukamu
Aku tak mampu lagi mengingat
Apa yang pernah kulakukan bersamamu
Sebab yang mampu kuingat
Semata hanya kamu
Lelaki, yang Pertama Kali Kehilangan Nyali
Sekali waktu, boleh jadi kita pandai menggoda, pandai menyayangi, pandai mengagumi, bahkan pandai mencintai dengan tulus. Namun pada waktu yang lain, belum tentu kita pandai dalam menata keberanian. Ya, setidaknya keberanian mengucapkan kesan.
Bukan atas alasan yang rumit, aku, seorang lelaki, tak pandai mengungkapkan kesan yang kurasakan. Pun bukan untuk alasan yang sangat sederhana aku tak berani. Hanya saja, pengaruh diluar perhitungan kerap kali menjadi masalah setelah mengungkapkan. Lebih dari resiko paling sederhana dari perkara mengungkapkan rasa, setidaknya.
Bukan pula semata karena malu atau ragu yang membuatku tak seketika bernyali mengucapkan sensasi yang menggebu. Sebab bagiku, yang demikian bukanlah suatu yang mempermalukanku, bahkan merusak keyakinanku. Sama sekali tidak.
Ah, kurasa yang demikian tak cuma terjadi padaku. Banyak yang merasakan ini dengan alasan yang jauh lebih sederhana. Setidaknya, mereka bukan merasakan hal ini sebagai yang pertama. Tak sepertiku, dulu tak begini yang terjadi padaku.
Bukan atas alasan yang rumit, aku, seorang lelaki, tak pandai mengungkapkan kesan yang kurasakan. Pun bukan untuk alasan yang sangat sederhana aku tak berani. Hanya saja, pengaruh diluar perhitungan kerap kali menjadi masalah setelah mengungkapkan. Lebih dari resiko paling sederhana dari perkara mengungkapkan rasa, setidaknya.
Bukan pula semata karena malu atau ragu yang membuatku tak seketika bernyali mengucapkan sensasi yang menggebu. Sebab bagiku, yang demikian bukanlah suatu yang mempermalukanku, bahkan merusak keyakinanku. Sama sekali tidak.
Ah, kurasa yang demikian tak cuma terjadi padaku. Banyak yang merasakan ini dengan alasan yang jauh lebih sederhana. Setidaknya, mereka bukan merasakan hal ini sebagai yang pertama. Tak sepertiku, dulu tak begini yang terjadi padaku.
10.5.12
Ternyata, Seperti Ini Rasanya
Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Bukan karenaku di dalam kulkas, ataupun terdampar di tengah badai salju. Hanya karena angin malam yang berhembus terlalu kencang, menurutku.
Aku menghadap ke belakang, menjadi saksi kendaraan yang melaju dengan kencang. Sekencang angin yang berhembus malam ini. Sinar lampu kendaraan lain mulai membuat mataku rabun. Bahkan nomor kendaraan di hadapku pun tak pernah bisa kubaca dengan jelas.
Kulitku mulai tampak pucat, entah benar pucat atau rabun mataku saja yang mulai tak ketulungan. Bibirku mulai bergetar mengikuti nafsu syaraf, seiring dengan hentakan-hentakan yang menggoyangkan tubuhku, naik-turun, ke kiri-ke kanan. Pakaianku terasa terlalu tipis untuk malam kukenakan malam ini. Padahal terasa begitu tebal siang tadi.
Wanita tua dan bocah laki-laki kecil di sampingku mulai memadukan nada dengkur. Kaki mereka membujur ke arahku menghadap. Mereka tampak lelah sekali, seakan sehari ini mereka mengelilingi Kalimantan dengan berjalan kaki.
Ternyata seperti ini rasanya, duduk bersandar di bak belakang pickup di malam hari menuju Bogor.
Aku menghadap ke belakang, menjadi saksi kendaraan yang melaju dengan kencang. Sekencang angin yang berhembus malam ini. Sinar lampu kendaraan lain mulai membuat mataku rabun. Bahkan nomor kendaraan di hadapku pun tak pernah bisa kubaca dengan jelas.
Kulitku mulai tampak pucat, entah benar pucat atau rabun mataku saja yang mulai tak ketulungan. Bibirku mulai bergetar mengikuti nafsu syaraf, seiring dengan hentakan-hentakan yang menggoyangkan tubuhku, naik-turun, ke kiri-ke kanan. Pakaianku terasa terlalu tipis untuk malam kukenakan malam ini. Padahal terasa begitu tebal siang tadi.
Wanita tua dan bocah laki-laki kecil di sampingku mulai memadukan nada dengkur. Kaki mereka membujur ke arahku menghadap. Mereka tampak lelah sekali, seakan sehari ini mereka mengelilingi Kalimantan dengan berjalan kaki.
Ternyata seperti ini rasanya, duduk bersandar di bak belakang pickup di malam hari menuju Bogor.
9.5.12
Nuwun, Gusti
Tuhan begitu sederhana membisikkan sesuatu
Begitu jelas mengabarkan sesuatu
Begitu melegakan
Sungguh, Tuhan Maha Keren
Begitu jelas mengabarkan sesuatu
Begitu melegakan
Sungguh, Tuhan Maha Keren
7.5.12
25 Tahun, Runyam
Besok aku bebas. Segala harapan dan kenangan berkecamuk
mencambuk urat syaraf dalam tubuhku. Antara riang karena kubisa pulang dan
bertemu anakku, pun ketakutanku jika nanti tak seorangpun yang mau menerimaku.
Tak mudah mengubah persepsi orang tentangku.
Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk
dilewatkan dalam pengasingan. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat
untuk dilewatkan dengan menyaksikan kekerasan setiap pagi. Pun bukan waktu yang
singkat untuk dilewatkan tanpa anak dan istriku.
Entah sudah seperti apa anakku kini, dua puluh lima tahun
bukanlah waktu yang singkat. Mungkin sekarang dia sudah kuliah pada satu
perguruan tinggi ternama, atau mungkin ia sudah bekerja pada kantor yang
nyaman, atau mungkin ia sudah tinggal serumah dengan teman hidupnya. Kalaupun
ia sudah menikah, semoga ia menjadi suami yang baik. Bukan sepertiku. Ah, entahlah,
toh ia juga sudah tak mau lagi bertemu denganku sejak saat itu.
Entah bagaimana istriku kini, masihkah dia cantik seperti
saat kutinggalkan. Kurasa masih. Entahlah, apakah ia sudah membangun rumah
tangga kembali bersama pria lain yang lebih baik. Atau malah, ah, aku tak
berani membayangkan yang terlalu jauh dari kuasaku. Andai saja ia masih mau
menerimaku kembali nanti. Ah, mana mungkin. Siapa yang mau menerima mantan narapidana
sepertiku. Bahkan mungkin dia juga sudah lupa siapa aku.
Entah bagaimana keadaan ibu dan ayahku kini, masihkah mereka
bugar? Entahlah, aku pun tak pernah berani menganggap diriku sebagai anak mereka.
Terlalu memalukan sepertinya.
Pagi ini, aku masih bisa berteman kopi dan bermesraan dengan
kretek. Tapi seminggu lagi, masih mungkinkah? Entahlah, setidaknya kalaupun aku
tak lagi bisa menikmati kopi dan kretek, aku akan sangat bersyukur bisa melihat
dunia. Terlalu lama aku terasing dari dunia nyata, dunia dimana aku bisa
mendengar jerit anak-anak kecil yang berlarian. Dunia dimana aku dapat menyaksikan
ratusan supir bus yang tampak ceria mengendarai senja.
“Jarwo, siapkan barang-barangmu. Besok kamu bebas.”
“Baik, pak. Sudah.”
Seorang petugas tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Ah, sampai
dimana tadi? Sampai dimana lamunanku? Sampai pada masa laluku yang kelam? Atau
sampai pada masa depan cerah yang kudambakan?
“Jarwo, waktunya sarapan.”
“Aku menyusul saja lah, Tim.”
“Ayolah, ini sarapan terakhirmu di tempat ini bukan?”
“Ya. Baiklah.”
Kulepaskan kata terakhirku sambil tersenyum lega menyambut
kebebasan yang dijanjikan padaku esok hari. Aku melangkah bersama Timo, kawan
yang lebih lama mendekami tempat terkutuk ini daripadaku.
******************
Senja sudah pergi, udara dingin mulai menghampiri, aku pun
masih duduk sendiri terpisah dari kawan-kawanku. Ilusi kegembiraan menyelinap diam-diam
ke dalam kepalaku. Masih saja ia hadir dalam wujud yang sama dengan ilusi pagi
tadi.
Dalam hening malam ini, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku
dengan halus dan perlahan. Aku enggan menengok, demi mempertahankan ilusiku.
“Sayang, sudah malam. Tidur dulu.”
“Ehmm, sedikit lagi, sayang.”
“Besok kamu mesti berangkat pagi ke kantor kan, sayang?”
“Iya, sayang.”
“Tidur dulu, sayang. Tidak ada deadline untuk ceritamu ini
bukan?”
“Hmmm, iya. Baiklah, sayang.”
Ah, sampai dimana ceritaku? Kali ini benar-benar buyar
ilusiku tentang penjara dan kebebasan yang dijanjikan esok pagi. Sampai dimana
Jarwo dan Timothy? Ah, ya sudah lah. Lebih baik aku tidur, toh aku juga sudah begitu
merindukan pelukan istriku. Selalu ada yang menyenangkan di malam seperti
sekarang ini bersama istriku. Mungkin lebih dari sekadar pelukan dan kecupan.
Sudahlah, kuakhiri cerita ini.
5.5.12
Andai Ia Wanita
Hans masih bertahan di bangku depan kedai kopi. Menghadap secangkir kopinya sambil menghirup-hirup aroma kopinya. Masih hangat, tampak dari uap yang keluar dari cangkir kopi Hans. Masih utuh, sebab hanya uapnya saja yang sudah dinikmatinya. Setiap kepulan membawanya semakin jauh dalam lamunannya tentang Diana. Semakin dalam ia menghirup aroma kopinya, semakin dalam kelarutannya dalam bayangan tentang Diana, kekasih yang sudah 5 tahun meninggalkannya.
“Seandainya hatimu adalah hadiah terindah yang bisa kau beri, aku tak akan menerimanya. Aku hanya menginginkanmu. Ya, kamu. bukan hatimu, Ana.” Masih jelas sekali apa yang pernah diucapkannya pada Diana sambil terisak dalam emosi yang berwarna-warni. Cinta, rindu, kesedihan, dan harapan.
“Andai aku bisa. Pasti aku berikan hadiah yang kamu mau. Andai aku bisa.”
“Apa kuperlu mengajarkanmu agar kau bisa?”
“Untuk apa? Hanya supaya kamu dapat hadiah yang kau harapkan? Hanya untuk menikmati hadiah itu, kemudian memasukkaannya ke dalam kardus kala hadiah itu sudah usang?”
Dengan sejuta emosi karena ekspektasi yang tidak terlampaui, Hans terdiam menunduk di hadapan Diana. Mengangkat kembali dagunya, menghadakan mukanya penuh harap pada Diana.
“Kamu bukan hanya akan menjadi hadiah bagiku, Ana.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin kamu menjadi pencetak hadiah bagiku, dan tentu bagimu juga. Mencipta hadiah-hadiah kecil yang akan kita kembangkan bersama. Ya, semakin besar lagi hadiah-hadiah kita itu sampai nantinya mereka saling menjadikan hadiah satu sama lainnya. Aku ingin itu. Bersamamu, Diana.”
“Andai kamu tahu yang sebenarnya, Hans. Andai kamu benar-benar tahu bagaimana, siapa, apa dan mengapa aku disini bersamamu, kuyakin kamu tak akan mengatakan itu padaku.”
“Diana….”
“Sudahlah, Hans.”
Kopi di hadapan Hans sama sekali belum berkurang. Masih tetap utuh, meski tak lagi beruap. Sebab uapnya telah habis dihirup penuh nafsu oleh Hans.
Semakin lesu, semakin kosong pandangnya, semakin dalam sedihnya, semakin membiru otot-otot tangannya. Ia mulai meneguk kopinya yang sudah dingin. Sangat cepat. lebih cepat dari waktu yang dihabiskannya untuk sekadar menghirup uap-uap kopinya.
“Andai dia wanita”
Kemudian Hans beranjak dari tempat duduknya. Berkendara menuju makam Diana di belakang rumahnya. Pria berperilaku dan berperangai wanita, yang sudah seminggu dihabisinya. Yang dulu dicintainya, diharapkan menjadi hadiah baginya.
27.4.12
Ananira
Kapan lagi kita berbincang sampai larut?
Sambil memecah keheningan di teras rumahmu
Bukankah kamu pun masih ingat, Ananira
Saat rindu tak pernah mau hadir
Karena ia begitu malu pada kita
Apa kabarmu di surga, Ananira?
Semoga baik-baik saja,
Bukankah Tuhan tiada pernah memiliki kemustahilan?
Bagaimana keadaan surga saat ini, Ananira?
Adakah hangat sebagaimana pelukanku disana?
Kurasa ya,
Bukankah Tuhan menyampaikan pelukanku padamu, Ananira?
Ananira,
Bukankah darahku tetap mengalir di nadimu?
Sebab degupmu pun masih setia di jantungku
Ananira,
Bukankah aku tetap menjadi melodi dalam tiap senandungmu?
Sebab kau pun tetap menjadi tokoh utama dalam ceritaku
Ananira,
Kutahu pergimu sekadar alasan untuk dapat merinduku
Sama sekali bukan untuk meninggalkanku
Bukan benar begitu?
Sambil memecah keheningan di teras rumahmu
Bukankah kamu pun masih ingat, Ananira
Saat rindu tak pernah mau hadir
Karena ia begitu malu pada kita
Apa kabarmu di surga, Ananira?
Semoga baik-baik saja,
Bukankah Tuhan tiada pernah memiliki kemustahilan?
Bagaimana keadaan surga saat ini, Ananira?
Adakah hangat sebagaimana pelukanku disana?
Kurasa ya,
Bukankah Tuhan menyampaikan pelukanku padamu, Ananira?
Ananira,
Bukankah darahku tetap mengalir di nadimu?
Sebab degupmu pun masih setia di jantungku
Ananira,
Bukankah aku tetap menjadi melodi dalam tiap senandungmu?
Sebab kau pun tetap menjadi tokoh utama dalam ceritaku
Ananira,
Kutahu pergimu sekadar alasan untuk dapat merinduku
Sama sekali bukan untuk meninggalkanku
Bukan benar begitu?
Memangnya Aku Peduli?
Apa tah ia yang merintangi,
Memangnya aku peduli?
Apalah ia yang tak bosan menerpakan pedih,
Memangnya aku rentan pada perih?
Sama sekali tidak
Tak peduli lah seberapa debu di hadapku,
Tak acuhlah seberapa tebal kabut menutupi mimpiku,
Adakah aku tak pantas memegang harap?
Meski aku sesekali terpaksa merangkak
Memangnya aku peduli?
Apalah ia yang tak bosan menerpakan pedih,
Memangnya aku rentan pada perih?
Sama sekali tidak
Tak peduli lah seberapa debu di hadapku,
Tak acuhlah seberapa tebal kabut menutupi mimpiku,
Adakah aku tak pantas memegang harap?
Meski aku sesekali terpaksa merangkak
Entah
Entah akan cerah atau cenderung gerah,
Tiada lah daya kupunya kecuali pasrah
Pun menjaga agar hati senantiasa merendah
Apalah kumampu?
Bahkan tahupun tak tertoreh padaku
Tinggal sedikit nafsu dan gerutu,
Tanpa sedikitpun mau berjibaku
Apalah kupunya?
Bahkan tak sedikitpun kubisa
Tinggal sedikit asa yang berkecamuk di antara
Rasa dan logika
Apalah bisa kuagungkan kecuali kesetiaan Tuhan?
Bahkan nalarpun tak lagi bisa kuandalkan
Meski rasa masih tetap bertahan
Tiada lah daya kupunya kecuali pasrah
Pun menjaga agar hati senantiasa merendah
Apalah kumampu?
Bahkan tahupun tak tertoreh padaku
Tinggal sedikit nafsu dan gerutu,
Tanpa sedikitpun mau berjibaku
Apalah kupunya?
Bahkan tak sedikitpun kubisa
Tinggal sedikit asa yang berkecamuk di antara
Rasa dan logika
Apalah bisa kuagungkan kecuali kesetiaan Tuhan?
Bahkan nalarpun tak lagi bisa kuandalkan
Meski rasa masih tetap bertahan
20.4.12
Angkot, Mohon Dimaklumi
Angkot, alat transportasi massa yang terbilang murah dan ada kapanpun kita mau. Sebuah terobosan di masa lalu yang sampai saat ini pun masih terasa efeknya. Entah siapa yang pertama kali mempersingkat sebutan “angkutan kota” menjadi “angkot” sebagaimana yang sering kita ucapkan saat ini.
Berbagai proyeksi fenomena akan muncul sesaat setelah seseorang berkata “angkot!”. Banyak dan beragam tergantung sejauh mana kita memahami fenomena tentang angkot. Mulai benci, kotor, ngawur, kebut-kebutan, sesak, masyarakat dan sebagainya muncul dalam benak kita.
Angkot, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya sampai sekarang masih tetap survive. Tetap menjadi sesuatu yang menyesaki ibukota, tetap setia mengantarkan sejumlah masyarakat ke tempat mengais nafkah, tetap menjadi ikon sebuah kota (sebab namanya saja angkutan kota), dan tetap saja, mau tidak mau, kita menyapanya setiap hari.
Angkot, seringkali identik dengan kata ugal-ugalan, berhenti sembarangan, tidak terawat, tidak taat lalu lintas, pusat terarahnya umpatan saat berlalu lintas, dan segenap kekurangan lainnya. Sebab memang itu yang seringkali muncul pada diri angkot saat kita berkendara. Jarang sekali kita temukan angkot yang bersih, nyaman, dan taat lalu lintas. Memang seperti itulah kekurangan angkot.
Di ujung-ujung jalan, di sudut-sudut persimpangan, dan di depan pusat-pusat kerumunan masyarakat seringkali kita jumpai angkot ngetem di pinggir jalan, bahkan sering juga tidak di pinggir jalan. Di terminal, supir-supir berteriakan menawarkan jasa menuju tempat-tempat tertentu, sesuai izin trayek yang dimilikinya. Di warung-warung kopi, seringkali angkot menyempatkan berhenti, sekadar memenuhi nafsunya akan kebutuhan asap pengemudinya. Setiap kali terjadi penumpukan kendaraan, angkot tidak rela menghabiskan waktunya untuk antre di belakang kendaraan lain. Jalur lawan pun menjadi halal untuk dilalui, lengkap dengan segenap resikonya. Saat berkejaran dengan angkot lain yang searah, seakan-akan jalan umum jadi sirkuit bagi mereka, para supir angkot. Bunyi klakson yang beriring knalpot berdebu pun tidak lepas dari peredaran angkot. Ujung jalan menjadi tempat ngetem sudah biasa, bahkan lingkungan sekitar pasar pun tentu tidak bisa lepas dari angkot.
Ya, seperti itulah tadi sederet kekurangan angkot yang seringkali kita temukan di jalanan. Bahkan saat berlalu lintas pun tidak jarang sebagian dari kita melontarkan umpatan pada supir angkot, saking ngaco-nya si supir di jalanan.
Meski begitu, bukankah tetap ada sisi baik dari angkot? Meski mungkin tidak sebanding dengan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Bukankah supir angkot adalah gambaran rakyat yang sangat patuh? Bukan patuh terhadap peraturan, melainkan pada penumpangnya. Setiap kali kita bilang “kiri, bang!” dengan sigap si supir pastilah menghentikan angkotnya. Setidaknya tindakan ini sebagai simbol pelayanan jasa yang maksimum tehadap konsumen. Adakah pelayanan semulia ini kita temukan di angkutan yang lebih “berkelas” seperti pesawat dan kereta api? Adakah pelayanan semulia ini kita temukan pada penyedia jenis jasa lainnya? Telekomunikasi misalnya? Boro-boro memberikan pelayanan maksimum, seringkali promosi yang ditawarkan malah tidak sebanding dengan apa yang kita nikmati. Masih ada kelebihan lain dari angkot yang seringkali lepas dari alam sadar kita. Bukankah nyali supir-supir angkot bisa dibilang lebih dari supir kendaraan lainnya? Dengan menerobos lampu merah, bukankah sudah sekaligus dia mengantongi dua resiko? Ditilang pihak berwajib dan bertumbukan dengan kendaraan lain. Dengan mengambil jalur lawan saat terjadi kemacetan, bukankah sudah ibarat menggadaikan nyawa?
Ya, sekian kelebihan dan kekurangan angkot. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki angkot, sudah sepantasnya kita berterima kasih pada angkot. Seperti apapun kondisinya, seringkali langkah kita dipermulus dalam menempuh tempat kerja. Salam.
Angkot, seringkali identik dengan kata ugal-ugalan, berhenti sembarangan, tidak terawat, tidak taat lalu lintas, pusat terarahnya umpatan saat berlalu lintas, dan segenap kekurangan lainnya. Sebab memang itu yang seringkali muncul pada diri angkot saat kita berkendara. Jarang sekali kita temukan angkot yang bersih, nyaman, dan taat lalu lintas. Memang seperti itulah kekurangan angkot.
Di ujung-ujung jalan, di sudut-sudut persimpangan, dan di depan pusat-pusat kerumunan masyarakat seringkali kita jumpai angkot ngetem di pinggir jalan, bahkan sering juga tidak di pinggir jalan. Di terminal, supir-supir berteriakan menawarkan jasa menuju tempat-tempat tertentu, sesuai izin trayek yang dimilikinya. Di warung-warung kopi, seringkali angkot menyempatkan berhenti, sekadar memenuhi nafsunya akan kebutuhan asap pengemudinya. Setiap kali terjadi penumpukan kendaraan, angkot tidak rela menghabiskan waktunya untuk antre di belakang kendaraan lain. Jalur lawan pun menjadi halal untuk dilalui, lengkap dengan segenap resikonya. Saat berkejaran dengan angkot lain yang searah, seakan-akan jalan umum jadi sirkuit bagi mereka, para supir angkot. Bunyi klakson yang beriring knalpot berdebu pun tidak lepas dari peredaran angkot. Ujung jalan menjadi tempat ngetem sudah biasa, bahkan lingkungan sekitar pasar pun tentu tidak bisa lepas dari angkot.
Ya, seperti itulah tadi sederet kekurangan angkot yang seringkali kita temukan di jalanan. Bahkan saat berlalu lintas pun tidak jarang sebagian dari kita melontarkan umpatan pada supir angkot, saking ngaco-nya si supir di jalanan.
Meski begitu, bukankah tetap ada sisi baik dari angkot? Meski mungkin tidak sebanding dengan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Bukankah supir angkot adalah gambaran rakyat yang sangat patuh? Bukan patuh terhadap peraturan, melainkan pada penumpangnya. Setiap kali kita bilang “kiri, bang!” dengan sigap si supir pastilah menghentikan angkotnya. Setidaknya tindakan ini sebagai simbol pelayanan jasa yang maksimum tehadap konsumen. Adakah pelayanan semulia ini kita temukan di angkutan yang lebih “berkelas” seperti pesawat dan kereta api? Adakah pelayanan semulia ini kita temukan pada penyedia jenis jasa lainnya? Telekomunikasi misalnya? Boro-boro memberikan pelayanan maksimum, seringkali promosi yang ditawarkan malah tidak sebanding dengan apa yang kita nikmati. Masih ada kelebihan lain dari angkot yang seringkali lepas dari alam sadar kita. Bukankah nyali supir-supir angkot bisa dibilang lebih dari supir kendaraan lainnya? Dengan menerobos lampu merah, bukankah sudah sekaligus dia mengantongi dua resiko? Ditilang pihak berwajib dan bertumbukan dengan kendaraan lain. Dengan mengambil jalur lawan saat terjadi kemacetan, bukankah sudah ibarat menggadaikan nyawa?
Ya, sekian kelebihan dan kekurangan angkot. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki angkot, sudah sepantasnya kita berterima kasih pada angkot. Seperti apapun kondisinya, seringkali langkah kita dipermulus dalam menempuh tempat kerja. Salam.
Melayani, Belum Tentu Menikmati
Menemani saudara ke mal membuat saya mempertanyakan sesuatu yang jarang dibahas. Saya tergelitik dengan keberadaan karyawan beberapa merk dagang yang terkenal butuh rupiah yang tidak sedikit untuk menebus produk yang dijual di dalamnya.
Saya ambil contoh merk dagang yang menjual atribut olahraga surfing dan skateboard. Mahal benar barang-barang yang dijual di dalamnya. Yang menggelitik saya, pernahkah karyawan toko itu pernah membeli baju di toko itu sendiri? Menurut saya belum tentu. Bukannya merendahkan kemampuan finansial seorang karyawan toko, tapi berapa sih uang penghasilan karyawan toko dalam sebulan? Mungkin besarnya sama dengan sebuah produk yang ada di dalamnya. Asumsinya, ada produk di toko itu yang dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah.
Nah, pernahkah karyawan toko itu membeli produk dari toko yang dipromosikan olehnya? Ya, kalaupun pernah mungkin item yang dibeli bukanlah item dengan banderol harga yang tinggi. Betapa manusia dihargai begitu rendah di negeri ini? Sampai-sampai harga keringat manusia selama sebulan disetarakan dengan harga sebuah barang. Bahkan tak jarang, lebih rendah dari harga barang.
Sebenarnya kalau diperhatikan, kerja karyawan toko itu bisa lebih berat dari kerja tukang ojek. Meskipun, lingkungan kerjanya lebih nyaman. Bayangkan, berdiri di depan pintu masuk toko sambil terus menerus menyapa siapapun yang lewat dengan berkata ’silakan, ada promo spesial dari kami untuk produk X dengan diskon sekian persen’. Tidak boleh duduk dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hmmmm. Upacara peringatan HUT RI saja banyak yang mengeluh. Padahal hanya berdiri berapa menit lamanya. Paling lama 2 jam.
Di luar soal karyawan toko, ada sesuatuyang juga menarik. Pernahkah seorang juru masak atau pelayan di sebuah restoran menikmati makanan yang tertera dalam daftar menu makan dan minum di tempat bekerjanya? Jangankan untuk makan sebagian dari daftar menu, untuk sebentar menikmati gerakan lahapnya pengunjung pun seringkali terlewatkan oleh mereka (jika pada kondisi pengunjung berlebih).
Sebenarnya yang lebih parah adalah tenaga pabrik produsen kendaraan bermotor. Produknya dijual puluhan juta, tenaga kerjanya tidak mendapatkan setengah saja dari harga jual produknya. Nah, kepada pembaca yang budiman kalau anda menemukan fenomena ‘pelayan toko kurang ramah’, ‘pelayan restoran kurang lexat dipandang’ ataupun fenomena lain yang berkaitan dengan karyawan mohon dimaklumi.
Ya, bolehlah kita bilang ini tugas mereka. Tapi seperti apapun tugasnya, pasti ada puncak stress juga kan kalau tugas yang harus dikerjakan berlebih? Seperti berdiri tanpa duduk sama sekali di depan pintu masuk toko selama berjam-jam, atau bergelut dengan pemanas dan kompor tanpa sempat menikmati es teh manis untuk sejenak.
Saya ambil contoh merk dagang yang menjual atribut olahraga surfing dan skateboard. Mahal benar barang-barang yang dijual di dalamnya. Yang menggelitik saya, pernahkah karyawan toko itu pernah membeli baju di toko itu sendiri? Menurut saya belum tentu. Bukannya merendahkan kemampuan finansial seorang karyawan toko, tapi berapa sih uang penghasilan karyawan toko dalam sebulan? Mungkin besarnya sama dengan sebuah produk yang ada di dalamnya. Asumsinya, ada produk di toko itu yang dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah.
Nah, pernahkah karyawan toko itu membeli produk dari toko yang dipromosikan olehnya? Ya, kalaupun pernah mungkin item yang dibeli bukanlah item dengan banderol harga yang tinggi. Betapa manusia dihargai begitu rendah di negeri ini? Sampai-sampai harga keringat manusia selama sebulan disetarakan dengan harga sebuah barang. Bahkan tak jarang, lebih rendah dari harga barang.
Sebenarnya kalau diperhatikan, kerja karyawan toko itu bisa lebih berat dari kerja tukang ojek. Meskipun, lingkungan kerjanya lebih nyaman. Bayangkan, berdiri di depan pintu masuk toko sambil terus menerus menyapa siapapun yang lewat dengan berkata ’silakan, ada promo spesial dari kami untuk produk X dengan diskon sekian persen’. Tidak boleh duduk dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hmmmm. Upacara peringatan HUT RI saja banyak yang mengeluh. Padahal hanya berdiri berapa menit lamanya. Paling lama 2 jam.
Di luar soal karyawan toko, ada sesuatuyang juga menarik. Pernahkah seorang juru masak atau pelayan di sebuah restoran menikmati makanan yang tertera dalam daftar menu makan dan minum di tempat bekerjanya? Jangankan untuk makan sebagian dari daftar menu, untuk sebentar menikmati gerakan lahapnya pengunjung pun seringkali terlewatkan oleh mereka (jika pada kondisi pengunjung berlebih).
Sebenarnya yang lebih parah adalah tenaga pabrik produsen kendaraan bermotor. Produknya dijual puluhan juta, tenaga kerjanya tidak mendapatkan setengah saja dari harga jual produknya. Nah, kepada pembaca yang budiman kalau anda menemukan fenomena ‘pelayan toko kurang ramah’, ‘pelayan restoran kurang lexat dipandang’ ataupun fenomena lain yang berkaitan dengan karyawan mohon dimaklumi.
Ya, bolehlah kita bilang ini tugas mereka. Tapi seperti apapun tugasnya, pasti ada puncak stress juga kan kalau tugas yang harus dikerjakan berlebih? Seperti berdiri tanpa duduk sama sekali di depan pintu masuk toko selama berjam-jam, atau bergelut dengan pemanas dan kompor tanpa sempat menikmati es teh manis untuk sejenak.
Subscribe to:
Comments (Atom)