1.10.12

Sanjiwani (Belum Selesai)

Sudah seharian aku mandi peluh, berkeliling sejagad Jakarta sedari subuh. Matahari mulai berlari ke barat demi mengetahui arah datangnya, timur. Sedangkan aku, justru masih tak tahu mesti ke utara atau selatan menuju, demi recehan yang belum tentu berjodoh denganku. Naik turun kotak melaju, dari Pasar Senen sampai Pasar Minggu, siapa tahu banyak puan dan tuan terhibur olehku.

Aku Sanjiwani, setiap hari berputar-putar Jakarta. Melagukan puisi, memuisikan lagu, tegak berdiri di hadapan putra-putri pertiwi yang rapi dan wangi, berharap mereka cecerkan recehan untukku, untuk bisa kubawa pulang. Sekadar untuk nasi dan kopi, juga beberapa linting tembakau.

Tak banyak yang tahu tentangku, apalagi mengenalku. Ada yang acuh padaku saja, kadang cuma mimpi. Ah, apa peduliku juga pada mereka? Tapi percayalah, sebenarnya aku kelewat peduli pada mereka. Sampai-sampai tanpa diminta pun, aku berdendang untuk mereka, kendati dengan suara sumbang. Semoga mereka senang.

Bung, kau tahu? Kadang aku cemburu, pada mereka yang lebih bermodal dariku namun tak lebih handal dariku, bisa menikmati tak sekadar recehan. Sedangkan aku, sampai bosan berputar-putar naik-turun angkutan umum pun, seringkali hanya cukup untuk makan. Kuralat Bung, tak hanya cukup makan maksudku, tapi juga masih ada sedikit sisa untuk merapikan tampilanku. Kupikir, setengah tahun sekali kubelanjakan penghasilanku untuk pakaian "kerja" bolehlah. Supaya tuan dan puan lebih rela kasih recehannya untukku.

Sungguh, Bung. Aku memendam cemburu pada mereka yang semata lebih mahal pakaiannya dan lebih canggih alat musiknya dariku, juga punya relasi yang punya kuasa. Lalu dengan begitu mereka dimudahkan masuk dapur rekaman. Tak hanya masuk dapur, Bung. Masakannya pun dihidangkan dalam tampilan yang mewah. Lebih membuatku cemburu lagi adalah banyak yang suka musik mereka, Bung. Padahal kurasa, tak jauh lebih baik dari yang kubisa lakukan. Kurasa. Menurutku saja ini, Bung.

Lalu mereka bergaya selebritis, menggandeng wanita-wanita idaman, berfoya-foya, membunuh seni, mengindustrikan selera mayoritas. Ah, sungguh aku cemburu, Bung! Kau tahu apa yang lebih membuatku cemburu, Bung? Kali ini, kumohon jangan kau ceritakan pada keluargaku di kampung, Bung. Kali ini tentang istriku, Bung. Aku tak lagi bersamanya. Dan kau tahu kemana perginya istriku, Bung? Kurasa kau cukup cerdas untuk menebak bahwa salah satu dari pria yang kebetulan tenar itu yang membawanya.

Kurasa sekian dulu keceritakan, Bung. Esok kubisa lanjutkan lagi.

No comments:

Post a Comment