Showing posts with label Menata Kata. Show all posts
Showing posts with label Menata Kata. Show all posts

15.4.14

Katakan

Katakan,
Kalau memang kau bosan kurindukan
Biar aku belajar cara merelakan kepergian

Katakan,
Kalau memang kau bosan kucintai
Biar aku belajar cara menanam benci

Dan katakan,
Kalau memang kau tak tahu cara mencintaiku
Biar kuajarkan padamu cara melenyapkanku

Untuk melenyapkanku,
Kau cuma perlu mengatakan
"Aku bosan kaurindukan"
"Aku bosan kaucintai"
Kepadaku

Takut Mendoakanmu

Tuhan, aku tak berani minta banyak-banyak
Aku terlampau buruk untuk minta banyak-banyak
Pada-Mu

Mendoakannya? Tentu juga tak berani
Takut kalau nanti yang Kau berikan padanya justru
Kebalikan dari doa-doaku

Aku cuma berani turut mengamini doa-doanya
Pun doa-doa baik dari mereka yang mencintainya

Untuk segala kebaikan yang didoakan untuknya,
Amin....

2.3.14

Dipagari Nalar

Mauku memelukmu, sekadar membagi hangat padamu
Kasihan aku melihatmu menggigil berselimut kesepian.

Mauku menciummu, mengalirkan kasih sayang untukmu
Kasihan aku mendengar suaramu serak berbasuh kekeringan.

Tapi apalah bisaku, tanganku dijerat pikiran. Karenanya pelukanku tak sampai padamu.
Bibirku pun kekeringan, kasih sayangnya habis disesapi logika. 

6.2.14

Lana Bhanurasmi: Yang Tak Pernah Kembali

Aku Radimin. Sekeluarnya aku dari rahim Ibu, Bapak menghadiahiku nama Reksa Adhiarja. Reksa punya makna menjaga, sedangkan Adhiarja artinya keselamatan. Mungkin maksud Bapak menamaiku seperti itu agar aku menjadi orang yang mampu menjaga keselamatan, sebab setahuku Bapak salah satu orang yang percaya bahwa asma kinarya japa, nama adalah doa. Sedangkan doa adalah rangkuman harapan. Maka kupikir itulah harapannya, anaknya menjadi penjaga keselamatan. Kurasa, keselamatan yang diharapkannya adalah keselamatan dalam konteks makro, keselamatan umat, tak semata keselamatanku saja. Sungguh doa yang agung bukan?

Lalu mengapa kubilang di awal aku adalah Radimin? Begini, kawan. Aku belum siap menyandang nama dari Bapak, nama yang mengharapkanku menjadi penjaga keselamatan. Menjaga keselamatan bukan hal yang remeh, kawan. Tugas yang hampir sama beratnya dengan tugas yang dilimpahkan pada Yesus dan Muhammad. Sudah banyak kisah tentang kepedihan mereka mencapai kedamaian, memperjuangkan keselamatan duniawi dan surgawi umat mereka. Aku belum berani melangkah seperti mereka, kawan. Itulah mengapa kusebut diriku Radimin. Bila namaku dipecah, akan muncul dua kata pembentuk, Radi dan Min. Radi artinya agak, rada. Sedangkan Min itu kurang, minus. Jadi, arti namaku sekarang agak kurang, tidak utuh sepenuhnya.

Radimin ini nama panggungku, kawan. Orang-orang lebih mengenalku sebagai Radimin, bukan Reksa Adhiarja. Meski kubilang nama panggung, aku tak memiliki panggung, kawan. Aku bukan musisi, bukan pesulap, bukan penyanyi ataupun penari yang selalu disediakan panggung baginya beraksi.

*

Minggu pagi itu, aku duduk menghadap easel yang kusandari kanvas, seperti pagi kemarin. Kupandangi gambar yang belum jadi, gambar masa depan yang masih tak keruan. Tak satupun dari jemariku yang menyentuh kuas, menyandang palette, ataupun berlumur cat. Masih bersih, bersih dari benda, bebas dari warna. Bahkan jemari kakiku sekalipun, masih bersih.

Rasmi berjalan dari ruang tengah mengarah padaku, kedua tangannya menopang nampan. Kulihat di atas nampan sepiring gorengan, dan dua cangkir yang mengepulkan asap. Tampak hangat meski belum kusesap, terlebih aura Rasmi turut larut di dalamnya. Kalau benar kiraku, dua cangkir itu berisi minuman yang berbeda. Cangkir yang mengepulkan asap putih berisi kopiku, dan cangkir satu lagi menampung teh dan cinta, yang dari dalamnya mengepul asap merah jambu.

Rasmi mendarat di bangku, menurunkan nampan perlahan ke meja kecil di samping tempat dudukku. Satu per satu isinya mendarat. Secangkir kopi turun pertama kali, diikuti ramuan teh dan cinta, baru sepiring gorengan menyusul ke meja.

"Kopinya, Mas."

Kata-katanya singkat. Tapi sensasinya tak lekas bersijingkat. Rasmi ambil suara, ujung bibirnya ditarik ke atas, orkestra sederhana yang hangat.

"Makasih," aku membalas dengan senyum yang tak kalah hangat.

"Lukisannya belum selesai, Mas?"

"Hampir, dik. Sedikit lagi", aku menjawabnya seakan-akan lukisanku tinggal dipajang saja.

Kau tahu mengapa kujawab begitu pertanyaannya, kawan? Padahal kau tahu, lukisanku masih tak keruan. Cuma ada beberapa warna yang saling kutimpakan sehingga yang tampak cuma hitam. Tapi begitulah Rasmi, ia mengerti apa yang kulakukan, ia paham betul bahwa lukisanku ini sudah hampir jadi. Kendati yang tampak hanya hitam, itupun tak merata kepekatannya. Ia tahu, bahwa setelah kuas kuoleskan pada palette berisi cat, lalu kugoreskan kuas itu ke kanvas, maka lukisanku sudah setengah jadi. Sebab sebelum itu lukisanku masih terperangkap di kepalaku. Dan momen melahirkan lukisan dalam kepalaku ke kanvas, itu adalah perkara besar, berat, menguras tenaga. Hampir setingkat dengan nyeri yang dirasakan wanita saat bayinya menelusup keluar dari rahim.

Rasmi tak banyak bicara, bahkan jarang sekali bicara denganku. Kegemarannya menyanyi. Setiap waktu ia menyanyi, apapun lagunya. Setiap kalimat yang mengucur dari bibirnya adalah lagu. Setiap liuk senyumnya adalah koreografi yang rumit dan magis. Sarat estetika.

Matanya menyala disulut teh dan cinta yang larut dalam cangkirnya. Nyalanya sampai ke mataku. Mataku kelelahan beradu dengan matanya. Kusesap kopi di cangkirku, biar melek maksudku, tapi tak juga. Mataku makin redup, nyali mataku dihabisi nyala mata Rasmi. Tiba-tiba sudah malam. Matakupun padam.

**

Suara pagi mengetuk telingaku, hangatnya membuka mataku. Mataku berdecit, seperti daun pintu rumah tua yang ditinggal lama-lama penghuninya. Tubuhku pulang, darah di kaki dan tanganku hidup lagi. Aku bangun dari mimpi panjangku. Mimpi yang tak sempat kubuatkan kopi, bahkan teh hangat sekalipun. Mimpi yang kasihan, sowan ke hati yang tak berpenghuni. Hati usangku yang dihuni serangga dan laba-laba sepeninggalmu.

"Pak, obatnya diminum dulu. Biar cepat sehat", seorang suster muncul di teras mukaku. Senyumnya manis, tapi tak semanis senyum Rasmi.

"Tapi bukankah aku sudah sehat, Suster?" aku mengajukan pertanyaan yang mudah.

"Hampir, pak. Sedikit lagi," balasnya dengan mencuri kata-kataku pada Rasmi.

Suster itu pergi, setelah sukses menurunkan nampan ke meja di samping ranjangku. Nampan berbeda dengan yang dibawa Rasmi, lebih banyak isinya. Kulihat ada segelas air putih, sepotong roti, dan beberapa potong buah.

Jalannya seperti tari, tangannya melambai ke kanan-kiri, meraih apapun yang berserak di kamarku. Kamar sempit yang bau obat-obatan. Kamar yang cahayanya terlalu terang, seperti nyala mata Rasmi.

Di dekat pintu, seorang wanita yang lebih tua dari suster itu berdiri sambil membawa kain putih. Entah selimut, entah kafan, yang kutau putih warnanya. Seperti pendaran warna-warni cahaya yang disatukan. Putih cerah.

Kudengar ia bicara pada suster itu, "Kasihan dia, berbakat, tapi harus berdiam di tempat seperti ini. Tiap pagi memandangi tembok sambil senyum-senyum sendiri. Sejak istrinya, pedangdut tenar itu meninggal karena kecelakaan."

Suara suster dan wanita itu makin jauh, makin tak terdengar oleh telingaku. Aku teringat tentang Rasmi, kemana saja ia pergi selama ini?



Jakarta, 15 Maret 2014

3.2.14

Adu Mulut dengan Kopi

Aku duduk menghabiskan pagi bersama kopi
Kopinya sedang tak enak hati
Baru ngobrol sebentar,
Obrolan kami dibawanya menuju debat
Kopinya menggebu-gebu
Mulutku kalah beradu
Aku menyerah

Kopinya malah marah-marah,
Katanya tak pantas aku menyerah,
Padahal debat baru dimulai
Debatnyapun bukan debat kusir,
Kusir tak berani ikut debat, dia tak berani melawan kopi
Kopi yang bersungut-sungut pagi ini
Kopi yang mengorbankan mulutku pagi ini



Warung Kopi, Februari 2014

10.8.13

Bajingan

Kamu bajingan, setahuku.
Tapi, mereka bilang kamu teladan.
Setahuku,
Mereka bukan bajingan.
Lalu, bagaimana bisa meneladani bajingan?

14.7.13

Gadis Suku Timur

Kamu ngebrok di kepalaku
Menggigil dipeluk angin malam.
Kamu nembang di telingaku
Lagunya sunyi, gamelannya suara rindu.

Kamu berbaring di mimpiku,
Njingkrung memeluk kesendirian.
Kamu nyender di harapanku,
Mesem,
mecucu,
nyawiji di kemayumu.

30.11.12

Anakku

Berlarilah jauh, Anakku
Jauh,
Mencapai tepi
Melintas batas

Terbanglah tinggi, Anakku
Tinggi,
Sampai setara mantra
Sampai setinggi mimpi

Menyelamlah dalam, Anakku
Dalam,
Sampai dimana kelam tenggelam
Sampai dimana geram terbenam

Anakku,
Pada setiap saf nafsumu,
Kupatrikan mantraku

12.10.12

Pangkal Pagi

Terjawab
Ratus tanya yang menganga
Runtuh ia sekejap mata
Saat pandangku menujunya,
di pangkal pagi

Di pangkal pagi,
Batal aku menuju siang
Urung aku menggapai petang
Tak perluku sampai pada malam
Cukup di sini, di pangkal pagi

Citra yang diterima netraku
Tak cukup buram
Terlalu jernih malah
Sampai apa yang di baliknya
Tampak nyata menganga

Demi siang, petang, dan malammu
Kurelakan milikku
Kucukupkan di sini,
Di pangkal pagi

Kata Belum Mampu

Di tiap tikungan sunyi di ujung malam
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam

Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu

Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu

Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita

11.10.12

Di Simpang Angan

Wahai sosok yang kerap kali tampak
di simpang angan
di hulu sendu
di ujung renung

Hendak singgahkah kamu?
Kalau memang hendak singgahlah

Tapi kurasa, wahai sosok
Kamu tak akan bisa singgah
di simpang angan
di hulu sendu
bahkan di ujung renung sekalipun

Kamu satu tak terbagi tak terpecah tak terpotong
Tak bersimpang, tak bersudut
Maka tak perlu kamu singgah
Nyawiji lah denganku
Tanpa menyinggahi bagian-bagianku
Apalagi sekadar singgah
di simpang angan
di hulu sendu
dan di ujung renung

Kepada Nama

hai nama,
adakah majikanmu sebagaimana kutahu?
adakah ia benar handal sebagaimana kukenal?
adakah ia pantas sebagaimana yang sering terlintas
di sela-sela hariku, di retakan malamku?

ah nama,
tahu apalah kamu tentangnya?
kurasa ia sendiripun masih sebatas nama
tak lebih
atau mungkin belum saja

1.10.12

Saya Pamit Pulang, Puan

"Saya pamit pulang, Puan
Terima kasih jamuannya
Sungguh senang saya dijamu Puan
Kudapan yang nikmat, wahai Puan"

"Kenapa buru-buru, Pria Kampung?
Kau tak ingin singgah dulu di sini?
Kau tak ingin tahu siapa yang kunanti
yang akan tiba malam ini, Pria Kampung?"

"Ribu terima kasih, Puan
Saya rasa tak perlu
Biar Puan dan Tuan nanti malam tak terganggu
Biar Puan dan Tuan nanti khusyuk berbagi peluk"

"Baiklah, Pria Kampung
Hati-hatilah di perjalanan pulang
Jaga dirimu, Pria Kampung
Kelak kalau kau mau tandanglah kemari"

Kalau kemarin kutahu apa yang kelak terjadi, wahai Puan
Tak akan kutelan kudapanmu
Tak akan kutandang ke purimu
Tak akan, Puan
Kini kutelah tahu, Puan
Puan tergila-gila Tuan
Tuan tergila-gila Puan
Aku pamit pulang, Puan

29.9.12

Yang Terhomat Masa Lalu

Yang terhormat masa lalu,
Adakah gelapmu mampu kuterangi?
Kalau jawabmu ya,
Kucoba cari pemantik
Kurasa kilatannya pun cukup
untuk sekadar menerangi

Masa lalu, seberapa peduli kau padamu?
Seberapa ingin kau diterangi?
Kalau pun kubisa, kucoba

Bisakah aku?
Mana mungkin
Pada masaku yang belum tiba pun
tak kuyakin bisa
Apalagi padamu

Sedang kau masa lalu,
Kau bukan milikku,
Kau tak dalam genggamku,
Kau masa lalu......
nya

Ah, apalah peduliku padamu
Bagiku kekinian puanmu
jauh lebih pantas masuk hitungan

24.9.12

Untukmu, Malaikat dan Iblis Nyawiji

Di sana
Di pusaran riuh
Di pusat ribut
Aku bersila, mengatupkan kelopak mata
Meramu doa, merapal mantra

Di sana
Di ramuan doa
Di rapalan mantra
Kamu lenggangkan pinggang, melepas tegang
Meluruhkan yang kamu kenakan

Dan di hadapmu
Di depan pusarmu
Dua puluh delapan pria
Menawarkan dekapan
Menawarkan ketegangan
yang sebelumnya kamu lepaskan
Dua puluh delapan pria
Meramu bujuk
Merapal rayu
Berharap bisa membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
meregang
menggelinjang
Terus menerus

Dan di sana
Di pusaran doa yang kuramu
Di pucuk mantra yang kurapal
Empat belas malaikat
Empat belas iblis
Nyawiji
Menghabisi
Dua puluh delapan pria
yang berharap bisa
membuatmu tegang
meregang
menggelinjang

Ingat Apa yang Kauingat?

Kau ingat sekian tahun silam?
Sebelum waktu membeku,
Sebelum rasa mencair
meluber
meruah sejauh ruang

Kau ingat apa yang kau ingat waktu itu?
Ketika kau lihat muslihat
yang terus kulontarkan tanpa tenggat
Tapi tak jua terbesit hasrat
di ceruk hatimu untuk selintas melihat
apalagi mendekat

Kau ingat apa yang kau ingat sebelum terjerat?
Saat pikat kau bilang hangat
remang kau bilang temaram
rayu menjadi candu
bujuk menjadi cambuk

Entahlah, aku pun enggan mengingat
Biar ia menjadi padat
terikat
erat
pada masa lalu yang terlampau berat
untuk sekadar diingat

Melenceng Tanpa Sesal

Kurasa tak pantas disalahkan atasku
Tentang jalan-jalan yang kutapaki
Kendati melenceng dari rute awalku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Jalan-jalan tan gemerlap yang kujejaki
Derap demi derap yang kupijakkan
Pada jalan-jalan yang tak serapih
serunut
selurus
semulus rute awal pilihanku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Adamu sebagai pemberi navigasi
Meski tak kau genggam kemudi
Arahku senada tuturmu

Dan kurasa memang tak pantas kusesali
Kendati pun harus kujalani di ujung hari

15.8.12

Gardu Tanpa Garda

Kita dengan sadar memasuki gardu
yang terbuka lebar tanpa garda
Memasuki ruang resik
Berbagi rasa, risau, resah
Saling melempar desus, membagi desah
Sampai saat kendali kembali, kita telah basah
Berlumur gelisah

Jangan Ada Hasrat

Aku hanya mencoba
Melenggang tanpa gerak
Mendekat tanpa hasrat
Menggenggam tanpa jemari
Menujumu, kepadamu

Aku hanya mencoba
Menjadi gelap
Sampai kamu tak mampu temukanku
Menjadi terang
Sampai kamu silau karenaku
Menjadi hangat
Sampai kamu tak perlu hadirku memeluk
Menjadi dingin
Sampai kamu merindu hadirku memeluk
Tanpa kamu ketahui

Diam-diam
Tak terasa tapi ada
Tak ada tapi terasa
Di dalammu
Di sisimu
Meliputimu

Kubiarkan tak ada hasrat
Sebab bisa jadi karenanya kita terjerat
Terikat erat
Tanpa bisa melepaskan
Dalam ikatan
yang sama sekali tak menguntungkan

26.7.12

Alufiru di Relung Remang

Kulihat separuh rautmu
di relung remang
di ujung ruang
sungguh jauh dari ruwet
dan tak perlu lagi diruwat

Telingaku meraih-raih
meriah suaramu
di tengah riuh
di relung remang
di ujung ruang
Tak kutemukan

Telingaku meraih
suaramu meracau
di antara racikan reramuan
mengerang
di relung remang
di ujung ruang

Kulihat separuh lagi rautmu
ruwet
meruah darah
di relung remang
di ujung ruang

Terjebak aku dalam alufru
tegang
Bersandar aku pada tiang ruai
di sisi lain
di relung remang
di ujung ruang