10.5.12

Ternyata, Seperti Ini Rasanya

Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Bukan karenaku di dalam kulkas, ataupun terdampar di tengah badai salju. Hanya karena angin malam yang berhembus terlalu kencang, menurutku.

Aku menghadap ke belakang, menjadi saksi kendaraan yang melaju dengan kencang. Sekencang angin yang berhembus malam ini. Sinar lampu kendaraan lain mulai membuat mataku rabun. Bahkan nomor kendaraan di hadapku pun tak pernah bisa kubaca dengan jelas.

Kulitku mulai tampak pucat, entah benar pucat atau rabun mataku saja yang mulai tak ketulungan. Bibirku mulai bergetar mengikuti nafsu syaraf, seiring dengan hentakan-hentakan yang menggoyangkan tubuhku, naik-turun, ke kiri-ke kanan. Pakaianku terasa terlalu tipis untuk malam kukenakan malam ini. Padahal terasa begitu tebal siang tadi.

Wanita tua dan bocah laki-laki kecil di sampingku mulai memadukan nada dengkur. Kaki mereka membujur ke arahku menghadap. Mereka tampak lelah sekali, seakan sehari ini mereka mengelilingi Kalimantan dengan berjalan kaki.

Ternyata seperti ini rasanya, duduk bersandar di bak belakang pickup di malam hari menuju Bogor.

No comments:

Post a Comment