5.5.12

Andai Ia Wanita



Hans masih bertahan di bangku depan kedai kopi. Menghadap secangkir kopinya sambil menghirup-hirup aroma kopinya. Masih hangat, tampak dari uap yang keluar dari cangkir kopi Hans. Masih utuh, sebab hanya uapnya saja yang sudah dinikmatinya. Setiap kepulan membawanya semakin jauh dalam lamunannya tentang Diana. Semakin dalam ia menghirup aroma kopinya, semakin dalam kelarutannya dalam bayangan tentang Diana, kekasih yang sudah 5 tahun meninggalkannya.

“Seandainya hatimu adalah hadiah terindah yang bisa kau beri, aku tak akan menerimanya. Aku hanya menginginkanmu. Ya, kamu. bukan hatimu, Ana.” Masih jelas sekali apa yang pernah diucapkannya pada Diana sambil terisak dalam emosi yang berwarna-warni. Cinta, rindu, kesedihan, dan harapan.

“Andai aku bisa. Pasti aku berikan hadiah yang kamu mau. Andai aku bisa.”

“Apa kuperlu mengajarkanmu agar kau bisa?”

“Untuk apa? Hanya supaya kamu dapat hadiah yang kau harapkan? Hanya untuk menikmati hadiah itu, kemudian memasukkaannya ke dalam kardus kala hadiah itu sudah usang?”

Dengan sejuta emosi karena ekspektasi yang tidak terlampaui, Hans terdiam menunduk di hadapan Diana. Mengangkat kembali dagunya, menghadakan mukanya penuh harap pada Diana.

“Kamu bukan hanya akan menjadi hadiah bagiku, Ana.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin kamu menjadi pencetak hadiah bagiku, dan tentu bagimu juga. Mencipta hadiah-hadiah kecil yang akan kita kembangkan bersama. Ya, semakin besar lagi hadiah-hadiah kita itu sampai nantinya mereka saling menjadikan hadiah satu sama lainnya. Aku ingin itu. Bersamamu, Diana.”

“Andai kamu tahu yang sebenarnya, Hans. Andai kamu benar-benar tahu bagaimana, siapa, apa dan mengapa aku disini bersamamu, kuyakin kamu tak akan mengatakan itu padaku.”

“Diana….”

“Sudahlah, Hans.”

Kopi di hadapan Hans sama sekali belum berkurang. Masih tetap utuh, meski tak lagi beruap. Sebab uapnya telah habis dihirup penuh nafsu oleh Hans.
Semakin lesu, semakin kosong pandangnya, semakin dalam sedihnya, semakin membiru otot-otot tangannya. Ia mulai meneguk kopinya yang sudah dingin. Sangat cepat. lebih cepat dari waktu yang dihabiskannya untuk sekadar menghirup uap-uap kopinya.

“Andai dia wanita”

Kemudian Hans beranjak dari tempat duduknya. Berkendara menuju makam Diana di belakang rumahnya. Pria berperilaku dan berperangai wanita, yang sudah seminggu dihabisinya. Yang dulu dicintainya, diharapkan menjadi hadiah baginya.

No comments:

Post a Comment