Menemani saudara ke mal membuat saya mempertanyakan sesuatu yang jarang dibahas. Saya tergelitik dengan keberadaan karyawan beberapa merk dagang yang terkenal butuh rupiah yang tidak sedikit untuk menebus produk yang dijual di dalamnya.
Saya ambil contoh merk dagang yang menjual atribut olahraga surfing dan skateboard. Mahal benar barang-barang yang dijual di dalamnya. Yang menggelitik saya, pernahkah karyawan toko itu pernah membeli baju di toko itu sendiri? Menurut saya belum tentu.
Bukannya merendahkan kemampuan finansial seorang karyawan toko, tapi berapa sih uang penghasilan karyawan toko dalam sebulan? Mungkin besarnya sama dengan sebuah produk yang ada di dalamnya. Asumsinya, ada produk di toko itu yang dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah.
Nah, pernahkah karyawan toko itu membeli produk dari toko yang dipromosikan olehnya? Ya, kalaupun pernah mungkin item yang dibeli bukanlah item dengan banderol harga yang tinggi. Betapa manusia dihargai begitu rendah di negeri ini? Sampai-sampai harga keringat manusia selama sebulan disetarakan dengan harga sebuah barang. Bahkan tak jarang, lebih rendah dari harga barang.
Sebenarnya kalau diperhatikan, kerja karyawan toko itu bisa lebih berat dari kerja tukang ojek. Meskipun, lingkungan kerjanya lebih nyaman. Bayangkan, berdiri di depan pintu masuk toko sambil terus menerus menyapa siapapun yang lewat dengan berkata ’silakan, ada promo spesial dari kami untuk produk X dengan diskon sekian persen’. Tidak boleh duduk dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hmmmm. Upacara peringatan HUT RI saja banyak yang mengeluh. Padahal hanya berdiri berapa menit lamanya. Paling lama 2 jam.
Di luar soal karyawan toko, ada sesuatuyang juga menarik. Pernahkah seorang juru masak atau pelayan di sebuah restoran menikmati makanan yang tertera dalam daftar menu makan dan minum di tempat bekerjanya? Jangankan untuk makan sebagian dari daftar menu, untuk sebentar menikmati gerakan lahapnya pengunjung pun seringkali terlewatkan oleh mereka (jika pada kondisi pengunjung berlebih).
Sebenarnya yang lebih parah adalah tenaga pabrik produsen kendaraan bermotor. Produknya dijual puluhan juta, tenaga kerjanya tidak mendapatkan setengah saja dari harga jual produknya. Nah, kepada pembaca yang budiman kalau anda menemukan fenomena ‘pelayan toko kurang ramah’, ‘pelayan restoran kurang lexat dipandang’ ataupun fenomena lain yang berkaitan dengan karyawan mohon dimaklumi.
Ya, bolehlah kita bilang ini tugas mereka. Tapi seperti apapun tugasnya, pasti ada puncak stress juga kan kalau tugas yang harus dikerjakan berlebih? Seperti berdiri tanpa duduk sama sekali di depan pintu masuk toko selama berjam-jam, atau bergelut dengan pemanas dan kompor tanpa sempat menikmati es teh manis untuk sejenak.
No comments:
Post a Comment