Angkot, alat transportasi massa yang terbilang murah dan ada kapanpun kita mau. Sebuah terobosan di masa lalu yang sampai saat ini pun masih terasa efeknya. Entah siapa yang pertama kali mempersingkat sebutan “angkutan kota” menjadi “angkot” sebagaimana yang sering kita ucapkan saat ini.
Berbagai proyeksi fenomena akan muncul sesaat setelah seseorang berkata “angkot!”. Banyak dan beragam tergantung sejauh mana kita memahami fenomena tentang angkot. Mulai benci, kotor, ngawur, kebut-kebutan, sesak, masyarakat dan sebagainya muncul dalam benak kita.
Angkot, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya sampai sekarang masih tetap survive. Tetap menjadi sesuatu yang menyesaki ibukota, tetap setia mengantarkan sejumlah masyarakat ke tempat mengais nafkah, tetap menjadi ikon sebuah kota (sebab namanya saja angkutan kota), dan tetap saja, mau tidak mau, kita menyapanya setiap hari.
Angkot, seringkali identik dengan kata ugal-ugalan, berhenti sembarangan, tidak terawat, tidak taat lalu lintas, pusat terarahnya umpatan saat berlalu lintas, dan segenap kekurangan lainnya. Sebab memang itu yang seringkali muncul pada diri angkot saat kita berkendara. Jarang sekali kita temukan angkot yang bersih, nyaman, dan taat lalu lintas. Memang seperti itulah kekurangan angkot.
Di ujung-ujung jalan, di sudut-sudut persimpangan, dan di depan pusat-pusat kerumunan masyarakat seringkali kita jumpai angkot ngetem di pinggir jalan, bahkan sering juga tidak di pinggir jalan. Di terminal, supir-supir berteriakan menawarkan jasa menuju tempat-tempat tertentu, sesuai izin trayek yang dimilikinya. Di warung-warung kopi, seringkali angkot menyempatkan berhenti, sekadar memenuhi nafsunya akan kebutuhan asap pengemudinya. Setiap kali terjadi penumpukan kendaraan, angkot tidak rela menghabiskan waktunya untuk antre di belakang kendaraan lain. Jalur lawan pun menjadi halal untuk dilalui, lengkap dengan segenap resikonya. Saat berkejaran dengan angkot lain yang searah, seakan-akan jalan umum jadi sirkuit bagi mereka, para supir angkot. Bunyi klakson yang beriring knalpot berdebu pun tidak lepas dari peredaran angkot. Ujung jalan menjadi tempat ngetem sudah biasa, bahkan lingkungan sekitar pasar pun tentu tidak bisa lepas dari angkot.
Ya, seperti itulah tadi sederet kekurangan angkot yang seringkali kita temukan di jalanan. Bahkan saat berlalu lintas pun tidak jarang sebagian dari kita melontarkan umpatan pada supir angkot, saking ngaco-nya si supir di jalanan.
Meski begitu, bukankah tetap ada sisi baik dari angkot? Meski mungkin tidak sebanding dengan sejumlah kekurangan yang dimilikinya.
Bukankah supir angkot adalah gambaran rakyat yang sangat patuh? Bukan patuh terhadap peraturan, melainkan pada penumpangnya. Setiap kali kita bilang “kiri, bang!” dengan sigap si supir pastilah menghentikan angkotnya. Setidaknya tindakan ini sebagai simbol pelayanan jasa yang maksimum tehadap konsumen. Adakah pelayanan semulia ini kita temukan di angkutan yang lebih “berkelas” seperti pesawat dan kereta api? Adakah pelayanan semulia ini kita temukan pada penyedia jenis jasa lainnya? Telekomunikasi misalnya? Boro-boro memberikan pelayanan maksimum, seringkali promosi yang ditawarkan malah tidak sebanding dengan apa yang kita nikmati.
Masih ada kelebihan lain dari angkot yang seringkali lepas dari alam sadar kita. Bukankah nyali supir-supir angkot bisa dibilang lebih dari supir kendaraan lainnya? Dengan menerobos lampu merah, bukankah sudah sekaligus dia mengantongi dua resiko? Ditilang pihak berwajib dan bertumbukan dengan kendaraan lain. Dengan mengambil jalur lawan saat terjadi kemacetan, bukankah sudah ibarat menggadaikan nyawa?
Ya, sekian kelebihan dan kekurangan angkot. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki angkot, sudah sepantasnya kita berterima kasih pada angkot. Seperti apapun kondisinya, seringkali langkah kita dipermulus dalam menempuh tempat kerja. Salam.
No comments:
Post a Comment