Kemana saja kamu cari selama ini? Ke ujung-ujung ruang? Ke balik semak gemuk? Sudah kautemukan? Maka kurasa, sebelum kau temukan, perlu kautahu dulu untuk apa kaucari.
Kamu cari uang? Untuk apa? Ketahuilah dulu kemana akan kaubawa pergi uang-uang yang kau dapatkan kelak. Bagaimana bisa kau hanya berencana mencari? Tanpa merencanakan pula kemana kaubuang? Mana mungkin? Cobalah bayangkan andai seseorang merencanakan untuk memperkaya ilmu, tapi tak tahu kemana mesti menuangkan ilmunya. Tunggu, jangan repot dulu kaubayangkan. Biar aku saja.
Kini kubayangkan, mereka mencari ilmu kemanapun pergi, mengumpulkan sepotong demi sepotong sampai sebesar durian montong. Terus menumpuk sampai tak cukup tanganmu memeluk. Tapi kemana perginya, entah, tak mereka rencanakan sama sekali. Lalu jadi apa ilmu-ilmu itu? Usang? Mungkin? Stagnan tanpa perkembangan? Pasti.
Biar kucoba bandingkan dengan ember dan isinya. Kuibaratkan ember adalah mereka, kapasitas mereka, kemampuan mereka, daya tampung mereka. Sedang kuibaratkan air, yang menjadi isi dalam ember adalah ilmu, uang, popularitas, materi, dan sebangsanya. Kucoba tuangkan sedikit air pada ember, tentu muat. Kutuang terus menerus, sampai meluber tak beraturan. Tapi coba kubayangkan, andai tak kutuang dengan tujuan memenuhi ember, melainkan kulobangi sisi ember sebesar butir kedelai, kurasa tak perlu banyak air meluber tak beraturan. Justru ketika kutuangkan menerus, ember akan tetap penuh terisi air, tanpa meluberkan air, tapi menyalurkan air yang terarah.
Pun begitu dengan ilmu, uang dan materi-materi semacamnya, kurasa. Sebelum kau rencanakan menumpuk, rencanakan dulu membuang. Apalah arti menabung, menumpuk harta, memperpanjang digit angka, tapi sayang untuk membiarkannya keluar secara teratur demi kenikmatan. Apa? Apalah artinya?
Karena sudah kubayangkan tentang analoginya, kini giliranmu membayangkan bagian ini.
Sudah selesai kaubayangkan? Setidaknya yang kaubayangkan itu yang terlintas di benakku.
No comments:
Post a Comment