14.10.12

Luruh Seluruh Nafsu Atasmu

Sebagai pria yang normal, menaruh ketertarikan pada wanita sudah barang tentu hal yang wajar. Sangat wajar kubilang. Untuk lebih dari tertarikpun, tentu tak kalah wajar. Begitupun aku, terhadapmu. Kurasa wajar kalau sampai aku tertarik padamu, bahkan ketika bagian abstrak dariku turut tertarik, wajar.

Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.

Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.

Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.

Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.

Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.

Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.


Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.

No comments:

Post a Comment