26.10.12
Satiman
Kira-kira 15 tahun lalu, aku diceraikan istriku. Kurasa ia tak terima dengan apa yang kulakukan padanya. Bukan karena kekerasan yang kulangsungkan, hanya keberlangsungan hidup layak yang tak dapat kujanjikan. Penghasilanku tak tetap, bahkan pekerjaanku saja berubah tiap saat, sesuai kebutuhan dan keadaan. Mau tak mau, aku angkat kaki dari rumah yang konon rumahku sendiri.
Begitulah kira-kira yang kualami kawan. Selebihnya, kalau kau ingin tahu, tatap muka saja denganku, nanti kuberitahu.
Ke Baturetno aku menuju, desa kecil tak begitu jauh dari rumahku. Kupikir ada harapan untuk tinggal di sana. Dengan sedikit sisa uang, sekantong perlengkapan, dan secuil penyesalan, aku berjalan kaki. Dengan sejumlah lelah, sampailah aku di Baturetno.
Tak banyak beda antara di kampungku tinggal dulu dan di sini. Mudahnya, sama-sama kampung. Sama-sama tak banyak gula untuk dikerubuti semut. Tak seperti yang kutahu tentang Jakarta, dan kota-kota semacamnya yang menjanjikan banyak impian. Bedanya dengan kampungku, aku tak perlu tiap hari bermandi maki berbasuh caci seperti yang biasa dilakukan istriku, padaku. Ada kedamaian di sini, ada kebebasan di sini, kebebasan dari tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, setidaknya.
Aku tak punya kawan di sini. Handai taulan, apalagi. Aku benar-benar sendiri. Menapakkan telapak kakiku pertama kali di sudut terminal yang bau pesing itu. Sambil duduk bersila di warung tenda, kupesan kopi tanpa gula, biar setara pahitnya dengan kehidupanku. Waktu itu, kira-kira sepuluh tahun dari sekarang.
Siang-malam, pagi-petang kujalani tanpa beban atas pencapaian harapan. Aku menjalani begitu saja. Sesekali memang masih aku menggerutu, tentang masa laluku, bersama istriku. Ah, sudahlah, tak perlu banyak kukenang. Kini dia bukan lagi istriku, dia janda kembang di kampungku yang sedang gandrung dengan juragan beras. Setidaknya, begitulah kabar dari kawanku yang tak sengaja kujumpa di deretan warung tenda di sudut terminal.
Kawan, kukenalkan diriku. Aku Satiman, umurku berapa aku tak ingat pastinya. Yang kuingat, ketika Gestapu ramai diberitakan, aku seumuran anak kelas 6 sekolah dasar. Aku duda tua tunawisma, tak rupawan, tanpa pekerjaan jelas, tanpa tujuan hidup yang bisa dideskripsikan. Kalaupun ada yang bisa kubanggakan, adalah tiga lingkar cincin akik di tanganku. Satu jari manis kiriku, dua lagi di jari tengah dan jari manis tangan kananku. Dulu kupikir, lumayanlah untuk modal tipu-tipu. Meski sekarang kutahu, tak ada hebat-hebatnya barang-barang itu. Aku tinggal di emperan toko beras di utara terminal. Tidur beralas adukan semen kering, berbantal tas kecil isi pakaian, selimutku bulu kakiku yang tak kalah hangat dibanding selimut dari wol. Aku tak punya kamar, kawan. Kamar kecil sekalipun. Kalau aku harus buang hajat, toilet umum di terminal itulah tujuanku. Khusus bagiku, toilet itu tak berbayar, kawan.
Aku tak bekerja, kalau tak ada yang meminta. Kerjaku tak menentu, pura-pura jadi peramal aku mau, memijat otot-otot kekar para supir yang kelelahan pun kuiyakan, jadi bandar judi roulette pun bisa. Ah, apa kubilang? Jadi bandar judi kubilang pekerjaan? Bagimu mungkin tak masuk akal, tapi bagiku memang demikian adanya. Mau bagaimana lagi. Tapi yang paling sering, dan sampai sekarang masih menjadi yang utama bagiku, adalah memijat. Tak ada fasilitas plus-plus pada pijat yang kutawarkan. Mana mungkin, pria tua brewokan sepertiku menyediakan fasilitas plus-plus untuk pelanggan. Mustahil, kawan.
Aku belum ceritakan caraku tetap hidup, kawan? Makanku tak seberapa, kawan. Kalau kebetulan aku ada uang untuk makan, kubelikan makanan. Kalau lagi tak ada, dan kebetulan ada yang berbaik hati memberiku makan, kuterima. Begitu seterusnya. Perkara sembako, nasibku tak sama dengan perkara tembakau. Perkara tembakau, aku selalu punya di tas kecilku, yang isinya tiga potong pakaian. Supir-supir yang kupijat, seringkali memberiku tembakau sebagai upah. Hidupku adalah perjalanan, kawan. Bukan pencapaian harapan, atau penyesalan kenangan. Sama sekali bukan. Aku menjalani hidupku begitu saja, tanpa mimpi, tanpa sakit hati, tanpa prasangka. Setidaknya, aku demikian usai diceraikan istriku.
Dulu aku pernah punya mimpi juga, kawan. Sama sepertimu. Aku pernah punya mimpi jadi penyair, kawan. Padahal aku tak pernah tahu siapa saja penyair yang kondang di era itu. Sama sekali tak tahu. Tapi memang itu mimpiku, dulu. Kutulis puisi panjang lebar setiap saat, keliling kampung mencari inspirasi, termenung di pematang sawah kali-kali ada yang bisa kutuangkan jadi puisi. Tapi kenyataannya, bukannya aku berhasil jadi penyair kondang, justru istriku minta cerai, kawan. Mimpi yang sama sekali meleset dengan kenyataan, kawan. Kini, bahkan aku pernah punya mimpi seperti itu saja, tak ada orang sekitarku yang tahu. Hanya kuceritakan ini padamu, kawan.
Sekarang ini, aku tak mau lagi bermimpi, kawan. Aku bosan tidur untuk menggapai mimpi. Aku lebih suka terjaga tanpa mimpi. Aku hanya menjalani apa yang kurasa mesti dijalankan. Melewati apa yang diperintahkan padaku untuk kulewati. Tanpa pernah kutahu kemana aku menuju. Bahkan di mana aku memulai, aku sudah lupa. Ingatanku lebih pendek dari perjalananku. Kawan, kenangan tinggal lebih jauh dari awal perjalanan. Begitupun harapan. Mungkin ia tinggal lebih jauh dari ujung jalan yang kita tempuh. Tapi tak jarang, mimpi hadir di pinggiran jalan, yang dengan mudah kita dapatkan. Mimpi, dan kemudahan mendapatkannya, kurasa sangat tergantung pada perjalanan seperti apa yang kaujalani. Untuk perjalanan yang kujalani, sampai akhirpun kurasa tak ada lagi mimpi yang bisa kudapatkan.
Untuk mimpi dan harapan di sepanjang perjalananmu, kusemogakan kaudapatkan, kawan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment