10.12.12
Sebut Saja Tetuko
Tetuko, anggap saja begitu namanya, padanya penerimaan-penerimaan. Apapun yang terjadi, ia jalani, meski tak tentu dinikmati. Darinya, kubaca bahwa ia, sama sekali tak kehausan nama baik, tak kelaparan pengakuan. Ia hanya berjalan, hijrah, dari waktu ke waktu, dari kenangan menuju harapan, dengan segala kemungkinan.
Ia lelaki paruh baya, hidup melajang, tanpa pekerjaan jelas. Bagaimana bisa kujelaskan pekerjaannya, tutur katanya pun kadang tak jelas kumengerti. Tinggalnya di rumah petak, tak ada kompor, kulkas, ataupun komputer di rumahnya. Kupikir, ia lelaki yang hidup bersama nostalgia, pada era yang belum diperbudak digital, di mana segalanya masih nyata, bukan sekadar kehidupan angka-angka. Ada tumpukan koran yang rapi tersusun di luar kamarnya, beberapa judul kutemukan, dari koran nasional sama tabloid lokal. Pada tumpukan koran bekas itu, ia memodernisasi pemikirannya, meski kehidupannya sama sekali tak juga berubah jadi lebih modern.
Aku kenal dia di warung kopi terminal, sore hari sepulangku kerja. Ia duduk sendiri, matanya perhatikan sekeliling, seakan-akan ia mencari sesuatu. Mendekatlah kemudian aku padanya.
"Kau mau merokok, Bung?", kusodorkan kotak kretekku padanya.
"Terima kasih, Bung.", ia ambil sebatang dari yang kusodorkan.
"Perlu api?"
Ia tak menjawab, cuma mengangguk sambil menengok ke arahku. Kusulutkan api di ujung rokoknya.
"Kau lagi menunggu seseorang, Bung?"
"Tidak, aku tak pernah menunggu siapapun untuk datang kepadaku, Bung. Kalaupun ada yang ingin datang padaku, silakan saja.", dalam-dalam ia hisap kretek dariku.
Sungguh, orang yang banyak bicara, lawan bicara yang menarik, kupikir.
"Aku Kum, siapa namamu, Bung?"
"Tetuko."
"Kau biasa di sini sore begini, Bung?"
"Ya."
"Kau kerja di sini?"
"Aku kerja di manapun kumau."
"Apa kerjamu, kalau kuboleh tahu?"
"Berjalan."
Jawaban macam apa ini, pikirku. Bagaimana bisa berjalan dikatakan sebagai pekerjaan. Bagaimana bisa berjalan menghidupi seorang pejalan, pikirku.
"Apa definisimu tentang pekerjaan kalau begitu?"
"Apapun yang kukerjakan, itulah pekerjaan."
"Meski tak menghasilkan sekalipun?"
"Tak menghasilkan katamu?", menengoklah dia ke arahku dengan tatapan yang menganggap aneh pertanyaanku. Kuanggukkan kepalaku seusai pertanyaannya.
"Menghasilkan apa maksudmu, Bung? Menghasilkan uang? Kalau aku berjalan dengan meminta-minta, kupikir bisa juga hasilkan uang, Bung. Tapi memang, berjalanku tak menghasilkan uang. Aku hanya berjalan begitu saja.", tanpa kuminta ia bicara panjang begitu padaku.
"Lalu apa yang kaudapat?", kulanjut bertanya sambil menyesap kopiku. Masih cukup panas kurasa di lidahku.
"Pengalaman."
"Pengalaman macam apa?"
"Pengalaman berjalan."
"Maksudmu?"
"Aku tak bermaksud apa-apa."
Kemudian bicaraku dengannya berlanjut, sampai matahari mrengut, bosan pada dunia, lalu pergi meninggalkannya. Kopiku pun mulai dingin, sebab matahari tak lagi menghangatkan. Kretekku juga tinggal tersisa beberapa batang.
"Dimana kau tinggal, Bung?"
"Belakang terminal ini."
"Boleh kusinggah?"
"Dengan senang hati, Bung."
Kemudian aku menuju ke rumahnya, sambil meraba-raba jalan pikiran kawan ini. Sampai di rumahnya, kudengar panjang lebar ceritanya. Tentu, tentang hal yang sama, perjalanannya.
Kalau kau ingin tahu lebih banyak ceritanya, kawanku, temui saja Tetuko ini, pada setiap perjalananmu. Kuyakin, ia sedang berjalan di sana. Karena begitulah pekerjaannya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment