11.10.12

Mampir Ngombe

Kita punya mimpi, ambisi, dan tujuan dalam hidup. Tentu. Kurasa semua orang pun demikian. Tak ada beda. Memang detil dari mimpi, ambisi, dan tujuan itu kuyakin beda tiap orangnya. Tapi toh, esensinya sama saja.

Mimpi, yang seringkali disetarakan dengan harapan yang seakan sulit dicapai, di alam bawah sadar seringkali jadi motivasi tersendiri untuk kita. Menjadi semacam tujuan yang benar-benar ingin dicapai, kendati dengan penuh kesadaran, bukan itu tujuan utama kita. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, justru memang mimpinya itulah yang jadi tujuan tujuan utamanya. Apa mimpimu, kawan? Aku tak perlu tahu. Kalau nanti kutahu, mungkin aku malah akan merebut mimpimu itu, kawan.

Tujuan, bermakna arah, maksud, haluan. Begitulah dalam hidup, kita punya tujuan, punya maksud, tentang untuk apa kita hidup. Tentu hal ini sesuai dengan kapasitas masing-masing, kawan. Kalau kapasitasku sebagai seorang dokter, tentu tak mungkin aku bermaksud menjadi arsitek yang hebat. Tentu bukan. Kalaupun ada inginku jadi arsitek, itu kugolongkan mimpi, kawan. Dan hampir semua dari kita, tentu menyusun jalur untuk mencapai tujuan, itu pasti. Kendati kadang, kita baru menetapkan tujuan setelah kita melewati beberapa jalur. Tentu ini analogi, kawan. Kuyakin kau mampu artikan ini.

Ambisi, setara dengan kata gairah, nafsu, hasrat, dalam hal ini konteksnya disangatkan. Memang ketika kita bicara tentang ambisi, seringkali imajinasi kita meluncur pada hal-hal yang sangat diinginkan. Sangat diusahakan. Apapun yang sangat. Tapi cobalah kau ingat kawan, ambisi ini setara nafsu. Apa memang tujuan kita membiarkan nafsu begitu liar? Kurasa tidak. Kendati demikian, percayalah, kita tetap perlu nafsu, kawan. Nafsu makan, misalnya.

Baiklah, kulanjutkan bicaraku, kawan. Tak lepas dari ketiga bahasan tadi, kawan. Kurasa kita tak perlu berlebihan menentukan ketiganya. Cukup dengan takaran yang pas. Tidak berlebih, tapi tidak kurang juga. Sulit ditentukan memang seberapa pasnya, kawan. Tapi kuyakin kau juga bisa menakar perlu seberapa, kawan. Kalau menurutku, selama kita berpijak pada realitas, semuluk apapun mimpi, tujuan dan ambisi kita, nantinya akan didapatkan takaran yang pas. Bahkan terkait takaran, ibarat kita masak, kawan. Selera tiap orang tak sama. Aku suka asin, kau tak suka. Kau suka manis, aku tak suka. Begitu, kawan. Tergantung pada selera.

Konteks lain yang ingin kusampaikan padamu, kawan. Adalah tentang keberadaan tiga hal tadi. Ketiganya berada dalam kehidupan. Merujuk pada pepatah Jawa bahwa urip mung mampir ngombe, hidup sekadar mampir untuk rehat minum. Kurasa kita perlu sadar bahwa hidup itu memang singkat, sesingkat waktu yang kita habiskan untuk ngombe, minum.

Tapi perlu kuingatkan padamu andai kaulupa, kawan. Dalam bahasa jawa, ngombe bisa pula bermakna minum minuman keras, meminum alkohol. Dan bukankah kau tahu kawan, bahwa orang-orang jawa punya hobi mengungkapkan kalimat-kalimat konotatif? Bisa jadi yang dimaksudkan ngombe dalam pengibaratan kehidupan ini adalah minum alkohol. Kalau benar diibaratkan demikian, maka bolehlah kuperpanjang ungkapannya menjadi urip mung mampir ngombe, ora perlu nganti mendem; hidup sekadar minum-minum, tak perlu sampai mabuk.

Mengapa kubilang begitu, kawan? Karena kurasa segala yang ada di kehidupan ini punya sifat membuai, mengadiksi, candu. Bisa saja kita kecanduan hidup, kita teradiksi kehidupan, mabuk pada kehidupan. Jadi kugambarkan saja bahwa hidup ini untuk minum-minum, tapi tak perlu sampai mabuk. Cukuplah sampai kita dapat kehangatan, seperti dilakukan orang-orang yang tinggal di wilayah dengan iklim dingin, bahkan iklim kutub. Setidaknya begitulah yang sedang terlintas di benakku, kawan.

No comments:

Post a Comment