4.5.14
Suatu Siang di Jakarta (2)
"Syukurlah, sehat."
"Mukamu kelihatan sedih. Kenapa?"
"Tidak sedih."
"Kamu merasakan apa?"
"Merasakan yang biasa saya rasakan."
"Apa itu?"
"Entahlah. Boleh aku meminta sedikit pendapat pada sampeyan?"
"Silakan. Dengan senang hati kalau saya layak berpendapat, saya akan berpendapat."
"Sampeyan layak."
"Baiklah. Kamu mau pendapat saya soal apa?"
"Kalau saya tak pernah punya apa-apa, kemudian saya berharap punya, lantas harapan saya sia-sia, artinya saya tetap tidak berpunya saat ini. Apa pantas saya berang? Apa pantas saya kecewa?"
"Kenapa tidak pantas? Semua orang pantas saja memainkan adegan berang ataupun kecewa."
"Benar begitu? Saya tidak pernah berpunya lho, lantas saya tetap tidak berpunya. Apa alasan saya pantas kecewa? Bukankah harusnya sudah biasa saya seperti itu?"
"Ya, biasa. Biasa kecewa? Kamu biasa tidak berpunya, tapi kamu kecewa atas keadaanmu yang tidak berpunya. Kemudian kamu beranikan diri berharap berpunya, lantas tidak kesampaian. Lantas kamu tetap tidak berpunya, maka wajar saja kalau kamu kembali kecewa. Kondisi awalmu kan kecewa."
"Saya ndak ngerti maksud sampeyan."
"Tak harus kamu mengerti. Kamu cuma minta pendapat kan?"
"Tapi saya ingin mengerti pendapat sampeyan maksudnya apa."
"Nanti kalau kamu gagal mengerti atau memahami maksud saya, kamu kecewa lagi?"
"Tidak juga."
"Lalu, kenapa ketika kamu dari tidak berpunya kembali tidak berpunya kok kecewa?"
"Entahlah."
"Lha, begini Le. Kamu tidak harus kecewa. Kecewa itu muncul karena harapanmu sendiri. Kamu berharap itu kan maumu sendiri. Lha kalau yang kamu harapkan ndak mau? Ya jangan maksa. Semua itu udah ada yang ngatur. Itu kalau kamu percaya bahwa Gusti Allah itu ada lho ya. Saya ndak maksa kamu percaya Gusti Allah itu ada, termasuk rencana-rencana besar-Nya."
"Jadi saya tidak pantas kecewa ketika saya harus kembali pada kenyataan bahwa saya tidak berpunya? Atau bahkan mungkin, belum pantas berpunya atau tak pantas berpunya?"
"Ya, pendapat saya seperti itu. Tapi kamu tidak harus sepakat dengan pendapat saya. Kamu punya kedaulatanmu sendiri sebagai manusia. Kalau kamu memang merasa perlu kecewa ya silakan. Selama kamu tidak lantas jadi takut punya berharap."
"Boleh saya tanya pendapat sekali lagi?"
"Silakan."
"Apa saya ini kira-kira sudah kelihatan sebagai suami yang baik?"
"Tidak."
"Benar?"
"Ya. Karena kamu belum punya istri."
Dan, aku menutup jajak pendapat ihwal kekecewaan siang itu dengan tertawa. Dia pun begitu, sambil pergi sambil tertawa. Entah bahagia, entah menertawaiku.
Suatu siang di Jakarta, Mei 2014.
18.4.14
Surat Untuk Nona yang Aku Suka Sekali (2)
Nona manis yang aku suka sekali, aku punya sedikit tawaran buatmu. Mungkin akan sedikit berbusa-busa, seperti yang biasa kamu temui dari salesman berbagai produk. Semoga kamu tak keberatan. Langsung saja kumulai, nona.
Aku bukan pria pemberani, bukan pula pria dengan dada bidang dan lengan berisi. Aku bukan pria yang pandai membahagiakan perempuan dengan jutaan kata dan sikap manis. Aku pria penakut, pengecut. Aku pria biasa saja yang tak pandai merayu wanita. Apalagi wanita sepertimu, tak mungkin termakan rayuku, melirik saja mungkin kamu malas.
Tapi kalau kamu masih punya sedikit tenaga untuk percaya padaku, aku punya sedikit waktu untuk mempertunjukkan bahwa aku tak pernah bercanda dalam mencintaimu.
Aku tahu kamu tak akan kenyang makan cinta dariku. Tak akan bisa membayar cicilan rumah dengan cinta dariku. Tak mungkin bisa membelikan baju bagus untuk anakmu kelak dengan modal cinta seperti ini. Tapi semoga kau sudah tahu, dengan ini aku siap menyisakan waktuku untuk kamu dan anakmu kelak. Siap menabung tenaga untuk bisa bermesra dengan kamu dan anakmu kelak sepulangku kerja.
Kerjaku biasa saja. Tak banyak upah yang kudapatkan dari pekerjaanku. Kalau dibandingkan denganmu, mungkin tak imbang. Tapi kalau kamu bisa merasa cukup dengan upah kerjaku ini, aku akan berusaha mencukup-cukupkan ini untuk menafkahi kamu dan anakmu kelak. Kalaupun tidak, tak jadi soal buatku. Aku sadar betul, kamu harus realistis. Realistis dengan masa depanmu, realistis dengan kelangsungan hidup anakmu, realistis dengan kesehatanmu, jasmani dan rohani.
Apa iya modalku cuma cinta? Mungkin kamu tak percaya, tak apa. Aku juga tak percaya. Tak mungkin modalku cuma cinta. Apalagi demi wanita sepertimu. Tentu mustahil.
Mungkin selain cinta, aku bisa menawarkan setia. Itu kalau kamu percaya. Kalaupun tak percaya, tak apa. Apapun yang tak tampak memang seringkali sulit dipercaya. Aku tahu itu. Bahkan, konon, pada keberadaan Tuhan saja ada yang tak percaya, tak apa juga. Begitu saja, tak perlu kuperluas bahasannya. Kamu tentu juga sudah bisa mengira bagaimana kalimat berikutnya, andai itu kuteruskan.
Sudah, itu saja yang kupunya? Itu saja yang kubisa? Itu saja yang kutawarkan? Kalau kujawab "ya" mungkin kamu tak akan percaya. Karena memang bukan cuma itu yang kutawarkan. Tapi memang, cuma itu saja yang kurasa perlu kusampaikan lewat pesan ini. Untuk yang lain, aku bisa menjelaskannya lebih lanjut padamu kelak kalau kita bertemu. Di manapun pertemuan itu, kereta, bus kota, pasar, atau bahkan di mimpi sekalipun. Ah, kamu tahu yang terakhir ini tentu tak mungkin. Aku bukan orang suci yang bisa bertemu dan berdialog dengan orang lain lewat mimpi. Seperti yang dilakukan Kalijaga dan Khidr suatu kali.
Nona manis yang aku suka sekali, kalau kamu mau menyisihkan waktu dan tenaga untuk mempercayaiku, aku akan senang sekali. Terlebih kalau kamu juga mau meluangkan kesempatan pada segala keterbatasanku ini untuk beraksi. Tentu aku bahagia. Kurasa kamu juga tahu bahwa aku tak akan mungkin melewatkan kesempatan itu dengan sia-sia. Tapi begitulah, semua itu mempersyaratkan keberkenananmu. Kalau kebetulan kamu tidak berkenan, tak apa. Aku bisa mengerti alasanmu.
Kalau kamu sempat membaca pesanku sampai bagian ini, aku sangat berterimakasih. Kalau tidak sampai bagian ini, tidak apa-apa juga. Aku mengerti kamu sibuk. Tidak banyak waktu yang bisa kamu luangkan untuk hal-hal tanpa tujuan jelas seperti pesanku ini.
Sampai bertemu lain waktu, nona manis.
16.4.14
Dialog Imajiner: Suatu Siang di Jakarta
"Ya pasti ingin lah. Tapi siapalah saya berani berharap sejauh itu?"
"Lho, ya jangan pesimis begitu to."
"Bukan pesimis. Cuma realistis. Optimis yang melihat sekitar. Bukan waton nggebrus."
"Kamu kan begini, begitu, bisa ini, bisa itu."
"Ya, tapi apa dengan begitu lantas saya jadi punya hak untuk berharap yang tinggi-tinggi? Kan ndak."
"Kalau saya jadi kamu, saya pasti akan begini begitu, membeginikan anu, membegitukan anu."
"Ya, mungkin sampeyan memang mampu untuk itu. Saya belum."
"Ah, ya sudah lah, Le. Semoga kamu begini begitu ya."
"Terima kasih. Semoga Tuhan mendengar dan bersedia mengabulkan."
Suatu siang di Jakarta.
15.4.14
Katakan
Kalau memang kau bosan kurindukan
Biar aku belajar cara merelakan kepergian
Kalau memang kau bosan kucintai
Biar aku belajar cara menanam benci
Kalau memang kau tak tahu cara mencintaiku
Biar kuajarkan padamu cara melenyapkanku
Kau cuma perlu mengatakan
Takut Mendoakanmu
Aku terlampau buruk untuk minta banyak-banyak
Pada-Mu
Mendoakannya? Tentu juga tak berani
Takut kalau nanti yang Kau berikan padanya justru
Kebalikan dari doa-doaku
Aku cuma berani turut mengamini doa-doanya
Pun doa-doa baik dari mereka yang mencintainya
Untuk segala kebaikan yang didoakan untuknya,
Amin....
31.3.14
Surat Untuk Nona yang Aku Suka Sekali (1)
Kepadamu, nona manis yang aku suka sekali.
Aku sadar betul apa yang terjadi, setidaknya dari sudut pandangku. Aku maunya kamu, tapi aku sendiri ragu-ragu. Ragu-ragunya tak cuma satu. Pertama, aku ragu kamu siap menghabiskan sisa umurmu denganku. Kedua, aku ragu kamu memang mempersiapkan diri menghabiskan sisa umurmu denganku. Ketiga, aku ragu kamu berpikir bahwa selama ini aku masih ragu untuk mau menghabiskan sisa umurku denganmu.
Kalau menurutmu kalimatku ruwet, maklumi saja. Demikian juga pikiranku, terlalu ruwet dimengerti, bahkan olehku sendiri. Kalau kamu mau, mungkin kamu bisa membantuku mengerti pikiranku sendiri. Syukurlah kalau demikian. Kalau pun tidak, tak jadi soal buatku. Sebenarnya lebih penting, kamu tak ikut-ikutan ruwet sepertiku.
Karena kalau aku ruwet, kamu kuperlukan untuk mengurai keruwetan. Begitupun waktu kamu (mungkin) sedang ruwet, mestinya aku jadi pihak yang membantu mengurainya. Kendati kamu tak mewajibkanku bertindak demikian.
Nona manis yang aku suka sekali, kalau boleh aku mau menyita waktumu. Bukan untuk kepentingan negara, cuma untuk kepentinganku sendiri. Aku minta waktu untuk menyelesaikan ragu-raguku dulu, sebelum kelak aku benar-benar memutuskan untuk tidak ragu-ragu menghabiskan sisa umurku denganmu. Aku juga minta sedikit tenagamu, untuk turut menyelesaikan ragu-ragumu untuk menghabiskan sisa umurmu denganku. Itupun kalau saat ini kamu masih ragu-ragu. Kalau kamu memang sudah tak ragu dan tak bersedia menghabiskan sisa umurmu denganku, tak masalah. Setidaknya kamu bisa menghemat tenagamu, dan aku juga bisa menghemat waktuku. Barangkali tenagamu bisa untuk menyelesaikan soal lain. Soal yang lebih penting daripada sekadar soal ragu-ragu belaka. Karena kamu tentu punya soal-soal lain. Aku tahu itu. Kamu tak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk memberitahuku.
Kucukupkan sekian dulu suratku. Sekian saja kurasa sudah membuatmu turut ruwet. Tapi yang demikian itu terjadi jika dan hanya jika kamu berusaha mengerti maksud suratku. Padahal, belum tentu juga kamu ada niat untuk tahu maksud surat ini, bahkan mungkin isi surat ini.
Yang suka sekali padamu,
Radimin
24.3.14
Kelingan Ngomah
20.3.14
Kronologi
2.3.14
Yang Penting...
"Mempermainkan? Permainan seperti apa maksudmu?"
"Tak perlu-perlu pura-pura tak tahu. Kuyakin kamu tahu maksudku, kutahu kamu mengerti apa yang terjadi." Dua tanduk kecil warna merah menyala mulai menyembul dari kepalamu.
"Maaf kalau begitu. Maaf atas aku yang tak merasa tahu apapun yang terjadi. Maaf kalau atas ketidaksengajaanku aku telah mempermainkanmu. Secara sadar, aku mengakui sepenuhnya bahwa kamu tak pantas dipermainkan. Kuulangi sekali lagi, maaf."
Dipagari Nalar
9.2.14
Pohon Sakit Hati
6.2.14
Lana Bhanurasmi: Yang Tak Pernah Kembali
Lalu mengapa kubilang di awal aku adalah Radimin? Begini, kawan. Aku belum siap menyandang nama dari Bapak, nama yang mengharapkanku menjadi penjaga keselamatan. Menjaga keselamatan bukan hal yang remeh, kawan. Tugas yang hampir sama beratnya dengan tugas yang dilimpahkan pada Yesus dan Muhammad. Sudah banyak kisah tentang kepedihan mereka mencapai kedamaian, memperjuangkan keselamatan duniawi dan surgawi umat mereka. Aku belum berani melangkah seperti mereka, kawan. Itulah mengapa kusebut diriku Radimin. Bila namaku dipecah, akan muncul dua kata pembentuk, Radi dan Min. Radi artinya agak, rada. Sedangkan Min itu kurang, minus. Jadi, arti namaku sekarang agak kurang, tidak utuh sepenuhnya.
Radimin ini nama panggungku, kawan. Orang-orang lebih mengenalku sebagai Radimin, bukan Reksa Adhiarja. Meski kubilang nama panggung, aku tak memiliki panggung, kawan. Aku bukan musisi, bukan pesulap, bukan penyanyi ataupun penari yang selalu disediakan panggung baginya beraksi.
*
Minggu pagi itu, aku duduk menghadap easel yang kusandari kanvas, seperti pagi kemarin. Kupandangi gambar yang belum jadi, gambar masa depan yang masih tak keruan. Tak satupun dari jemariku yang menyentuh kuas, menyandang palette, ataupun berlumur cat. Masih bersih, bersih dari benda, bebas dari warna. Bahkan jemari kakiku sekalipun, masih bersih.
Rasmi berjalan dari ruang tengah mengarah padaku, kedua tangannya menopang nampan. Kulihat di atas nampan sepiring gorengan, dan dua cangkir yang mengepulkan asap. Tampak hangat meski belum kusesap, terlebih aura Rasmi turut larut di dalamnya. Kalau benar kiraku, dua cangkir itu berisi minuman yang berbeda. Cangkir yang mengepulkan asap putih berisi kopiku, dan cangkir satu lagi menampung teh dan cinta, yang dari dalamnya mengepul asap merah jambu.
Rasmi mendarat di bangku, menurunkan nampan perlahan ke meja kecil di samping tempat dudukku. Satu per satu isinya mendarat. Secangkir kopi turun pertama kali, diikuti ramuan teh dan cinta, baru sepiring gorengan menyusul ke meja.
"Kopinya, Mas."
Kata-katanya singkat. Tapi sensasinya tak lekas bersijingkat. Rasmi ambil suara, ujung bibirnya ditarik ke atas, orkestra sederhana yang hangat.
"Makasih," aku membalas dengan senyum yang tak kalah hangat.
3.2.14
Lalu, Untuk Apa Ragu?
Untuk apa meragu? Bukankah tak ada keraguan dalam basmalah yang kau ucapkan bahwa Tuhan benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang?
Untuk apa memalsukan? Terlepas dari apapun yang kau palsukan. Bukankah kau masih ingat Tuhan berulang-ulang menyatakan bahwa Ia Maha Melihat dan Mendengar?
Kucoba iseng kaitkan tiga pernyataan itu saja. Bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang, serta Maha Melihat dan Mendengar. Kalau kau ragu dalam perjalananmu, ingatlah bahwa Tuhanmu Maha Besar, jauh melebihi besar apapun. Dengan kebesaran-Nya, Ia pun Melihat dan Mendengar. Melihat dengan jelas apa yang terjadi padamu, mendengar dengan jelas rintihan dalam hatimu. Pun Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, mana mungkin tega membiarkanmu dikerubuti kemalangan dan kesedihan?
Ini bukan pertanyaanku, ini sekadar ceracauku. Ceracauku dari perspektif yang tak jauh beda dari yang biasa kau kenakan dalam argumenmu.
"Maka nikmat Tuhan mana yang kau ragukan?" (An Najm: 55)
Jakarta, Februari 2014
Adu Mulut dengan Kopi
Kopinya sedang tak enak hati
Baru ngobrol sebentar,
Obrolan kami dibawanya menuju debat
Kopinya menggebu-gebu
Mulutku kalah beradu
Aku menyerah
Kopinya malah marah-marah,
Katanya tak pantas aku menyerah,
Padahal debat baru dimulai
Debatnyapun bukan debat kusir,
Kusir tak berani ikut debat, dia tak berani melawan kopi
Kopi yang bersungut-sungut pagi ini
Kopi yang mengorbankan mulutku pagi ini
Warung Kopi, Februari 2014