20.3.14

Kronologi

Kemarin sore, aku duduk di bangku ini. Bangku yang sama dengan yang kududuki saat ini. Anganku jalan-jalan memilih mimpi untuk tidurku malam harinya. Juga untuk diwujudkan esok paginya.

Semalam tadi, aku benar dapat mimpi. Mimpi pilihan anganku sore harinya. Tak seberapa indah, cukup lah membuat bangunku sedikit gelisah. Tapi yang paling membuatku gelisah, mimpiku tak mewujud pagi tadi.

Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku bangun, mandi, berangkat kerja, dan tak sepotong mimpi pun jadi wujud. Mimpiku tetap singgah di bawah sadar, dan aku masih tetap harus sabar.

Siangnya aku mencoba mengingat-ingat mimpi semalam. Tapi yang kuingat cuma sepotong. Potongan yang memuat kamu. Potongan kecil, tapi gambarnya paling detil. Gambarnya tajam, bahkan sampai cacat-cacatmu pun kelihatan.

Sore tadi, gambar-gambarnya mulai pudar. Mungkin pewarnanya luntur kena hujan. Hujan yang akhir-akhir ini suka membuntuti perjalananmu. Sebab ia masih punya perlu denganmu, menyampaikan rindu yang kutitipkan kemarin sore. Rindu yang kutulis selagi anganku memilih mimpi.

Malam ini, kalaupun mimpiku tak juga mewujud, semoga rinduku tak larut dan dibawa hanyut oleh air matamu. Air mata yang belum surut sejak lelakimu lupa bahwa kamu bukan perempuan yang patut disia-siakan.

No comments:

Post a Comment