24.3.14

Kelingan Ngomah

Pikiranku sedang pelesir ke awal sampai tengah tahun lalu. Waktu aku sempat bertutur untuk tak memikirkan perihal pasangan dulu, dan soal kesenangan-kesenangan lain sebelum aku mendapat kejelasan tentang nasib pekerjaanku. Aku seorang pengangguran kala itu. Tak punya penghasilan sama sekali. Kalaupun ada yang bisa kuanggap sebagai penghasilan, mungkin uang buat beli rokok dari Bapak yang waktu itu belum pensiun.

Waktu itu, menerima tawaran bersenang-senang saja hampir aku tak berani. Semacam Gajahmada ketika bersumpah untuk tak bersenang-senang sebelum menyatukan nusantara. Tiap malam kerjaku nongkrong di angkringan. Angkringannya pindah-pindah, obrolannya pun berubah-ubah, tapi jajanku ya tetap saja sama, kopi hitam segelas sama gorengan barang satu dua potong. Kalau laparku sedang agak berlebihan, biasanya aku minta tiwul goreng. Enak, kenyang, murah. Tak berani yang mewah-mewah.

Pagi-pagi, kalau Ibu sedang ingin diantar berangkat mengajar, sesekali kuantarkan. Siangnya kujemput lagi. Biasalah, Ibu juga kadang suka manja kalau anaknya sedang di rumah. Ya, biar aku juga ada kegiatan. Daripada capek nganggur di rumah. Sempat sekali waktu ketika jemput Ibu dari sekolah, ada teman Ibu yang konon punya keponakan seumuranku, bertanya “Mas, mau tak kenalin ponakanku? Masih kuliah, kedokteran, semester 5.” Dengan lancar dan tanpa beban, kujawab “Mboten. Nanti kalau memang harus kenal kan ya kenal sendiri. Ndak usah dikenalin.” Muka teman Ibu itu langsung merah, dalam bahasa biologi mungkin namanya mimikri. Padahal aku bukan predator, dia bukan mangsa, lalu untuk apa mimikri?

Hampir tiap sore, Bapak dan Ibu ngajak wedangan. Kegiatan yang secara garis besar hampir sama dengan yang kulakukan malam harinya. Minum minuman panas sambil ngobrol hangat. Hanya saja, biasanya wedangan sore ini topik utamanya adalah seputar wejangan. Jadi ya diwejang dari soal A sampai soal Z. Kalau Bapak dan Ibu masih kurang puas memberi wejangan di angkringan, biasanya ada perpanjangan waktu yang pelaksanaannya adalah di rumah. Kalau tak di ruang tamu, ya di teras rumah. Seringnya, kalau lagi memberi wejangan, Bapak sambil gitaran, Ibu sambil ngemil, dan aku sambil udad-udud saja, biar menelaahnya lebih khidmat.


Singkat, tapi indah. Tak perlu kuceritakan panjang-panjang bahagianya ngumpul sama Bapak Ibu, kamu pun tentu tahu. Apalagi waktu itu, momennya agak-agak pas kalo memang dipas-paskan. Aku yang baru pulang setelah sekian lama pergi mempersiapkan dewasa. Kemudian pulang sebentar untuk istirahat dan sungkem minta restu untuk berangkat menjadi dewasa. Dan sekarang, aku sedang dalam perjalanan.

No comments:

Post a Comment