Kepadamu, nona manis yang aku suka sekali.
Aku sadar betul apa yang terjadi, setidaknya dari sudut pandangku. Aku maunya kamu, tapi aku sendiri ragu-ragu. Ragu-ragunya tak cuma satu. Pertama, aku ragu kamu siap menghabiskan sisa umurmu denganku. Kedua, aku ragu kamu memang mempersiapkan diri menghabiskan sisa umurmu denganku. Ketiga, aku ragu kamu berpikir bahwa selama ini aku masih ragu untuk mau menghabiskan sisa umurku denganmu.
Kalau menurutmu kalimatku ruwet, maklumi saja. Demikian juga pikiranku, terlalu ruwet dimengerti, bahkan olehku sendiri. Kalau kamu mau, mungkin kamu bisa membantuku mengerti pikiranku sendiri. Syukurlah kalau demikian. Kalau pun tidak, tak jadi soal buatku. Sebenarnya lebih penting, kamu tak ikut-ikutan ruwet sepertiku.
Karena kalau aku ruwet, kamu kuperlukan untuk mengurai keruwetan. Begitupun waktu kamu (mungkin) sedang ruwet, mestinya aku jadi pihak yang membantu mengurainya. Kendati kamu tak mewajibkanku bertindak demikian.
Nona manis yang aku suka sekali, kalau boleh aku mau menyita waktumu. Bukan untuk kepentingan negara, cuma untuk kepentinganku sendiri. Aku minta waktu untuk menyelesaikan ragu-raguku dulu, sebelum kelak aku benar-benar memutuskan untuk tidak ragu-ragu menghabiskan sisa umurku denganmu. Aku juga minta sedikit tenagamu, untuk turut menyelesaikan ragu-ragumu untuk menghabiskan sisa umurmu denganku. Itupun kalau saat ini kamu masih ragu-ragu. Kalau kamu memang sudah tak ragu dan tak bersedia menghabiskan sisa umurmu denganku, tak masalah. Setidaknya kamu bisa menghemat tenagamu, dan aku juga bisa menghemat waktuku. Barangkali tenagamu bisa untuk menyelesaikan soal lain. Soal yang lebih penting daripada sekadar soal ragu-ragu belaka. Karena kamu tentu punya soal-soal lain. Aku tahu itu. Kamu tak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk memberitahuku.
Kucukupkan sekian dulu suratku. Sekian saja kurasa sudah membuatmu turut ruwet. Tapi yang demikian itu terjadi jika dan hanya jika kamu berusaha mengerti maksud suratku. Padahal, belum tentu juga kamu ada niat untuk tahu maksud surat ini, bahkan mungkin isi surat ini.
Yang suka sekali padamu,
Radimin
No comments:
Post a Comment