"Mempermainkan? Permainan seperti apa maksudmu?"
"Tak perlu-perlu pura-pura tak tahu. Kuyakin kamu tahu maksudku, kutahu kamu mengerti apa yang terjadi." Dua tanduk kecil warna merah menyala mulai menyembul dari kepalamu.
"Maaf kalau begitu. Maaf atas aku yang tak merasa tahu apapun yang terjadi. Maaf kalau atas ketidaksengajaanku aku telah mempermainkanmu. Secara sadar, aku mengakui sepenuhnya bahwa kamu tak pantas dipermainkan. Kuulangi sekali lagi, maaf."
"Tak sengaja? Apa maksudmu? Kau menggodaku secara tak sengaja? Kau merayuku di bawah sadar?" Dua tanduk di kepalamu makin terang menyala.
"Tidak. Aku menggodamu secara sadar. Aku merayumu secara sengaja. Tapi membuatmu jatuh cinta dan berharap padaku, itu bukan kesengajaan."
"Kamu tak berharap aku mencintaimu? Lalu mengapa merayuku? Mengapa membuatku mencintaimu?" Nyala tandukmu sedikit meredup.
"Apapun tujuan itu, tentunya bukan untuk membuatmu mencintaiku."
"Katakan padaku, kau mencintaiku?"
"Ya!" Jawabku singkat dengan penuh keyakinan.
"Lalu mengapa kau tak berharap aku mencintaimu kalau demikian?" Nyala tandukmu berubah, dari merah jadi biru.
"Karena aku cuma mencintaimu."
"Dan kamu tak ingin aku mencintaimu?"
"Bukan tak ingin. Tapi aku tak mengharapkan itu."
"Lalu ketika aku mencintaimu?" Tandukmu berubah lagi jadi merah.
"Kau tak perlu repot-repot mencintaiku."
"Aku tak merasa kerepotan." Sekarang tandukmu padam.
"Lalu mengapa kau repot-repot meributkan perasaanmu?"
"Karena aku mencintaimu." Tandukmu lenyap. Mungkin ia tenggelam dalam kemarahanmu.
"Sudahlah, yang penting kamu sudah tahu aku mencintaimu. Kendati aku tidak berharap kamu mencintaiku. Mari biarkan saja kita saling mencintai. Tak perlu repot-repot untuk hal lain. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Ya sudah, biarkan saja demikian. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Begitu saja?"
"Apa lagi?"
"Entahlah, aku tak mengerti jalan pikiranmu."
"Tak penting. Yang penting sekarang kamu sudah tahu, aku mencintaimu."
"Aku pun begitu."
Kami pun tak pernah bersama sejak itu, tak menjalin hubungan apapun, tak serumah, tak saling mengikatkan diri. Kami kembali ke rumah masing-masing, kembali ke keluarga masing-masing. Aku kembali pada anak-istriku, ia pun pulang pada suami dan anak-anaknya.
Aku punya tiga cucu saat tulisan ini kuakhiri. Ia punya lebih banyak, ada enam cucunya. Dua dari mereka kembar. Anak-anak yang lucu.
Dan sampai kalimat ini kusudahi, aku masih mencintainya. Kutahu diapun demikian.
Wonogiri, Maret 2014
No comments:
Post a Comment