"Le, kamu kenapa? Kamu sehat?"
"Syukurlah, sehat."
"Mukamu kelihatan sedih. Kenapa?"
"Tidak sedih."
"Kamu merasakan apa?"
"Merasakan yang biasa saya rasakan."
"Apa itu?"
"Entahlah. Boleh aku meminta sedikit pendapat pada sampeyan?"
"Silakan. Dengan senang hati kalau saya layak berpendapat, saya akan berpendapat."
"Sampeyan layak."
"Baiklah. Kamu mau pendapat saya soal apa?"
"Kalau saya tak pernah punya apa-apa, kemudian saya berharap punya, lantas harapan saya sia-sia, artinya saya tetap tidak berpunya saat ini. Apa pantas saya berang? Apa pantas saya kecewa?"
"Kenapa tidak pantas? Semua orang pantas saja memainkan adegan berang ataupun kecewa."
"Benar begitu? Saya tidak pernah berpunya lho, lantas saya tetap tidak berpunya. Apa alasan saya pantas kecewa? Bukankah harusnya sudah biasa saya seperti itu?"
"Ya, biasa. Biasa kecewa? Kamu biasa tidak berpunya, tapi kamu kecewa atas keadaanmu yang tidak berpunya. Kemudian kamu beranikan diri berharap berpunya, lantas tidak kesampaian. Lantas kamu tetap tidak berpunya, maka wajar saja kalau kamu kembali kecewa. Kondisi awalmu kan kecewa."
"Saya ndak ngerti maksud sampeyan."
"Tak harus kamu mengerti. Kamu cuma minta pendapat kan?"
"Tapi saya ingin mengerti pendapat sampeyan maksudnya apa."
"Nanti kalau kamu gagal mengerti atau memahami maksud saya, kamu kecewa lagi?"
"Tidak juga."
"Lalu, kenapa ketika kamu dari tidak berpunya kembali tidak berpunya kok kecewa?"
"Entahlah."
"Lha, begini Le. Kamu tidak harus kecewa. Kecewa itu muncul karena harapanmu sendiri. Kamu berharap itu kan maumu sendiri. Lha kalau yang kamu harapkan ndak mau? Ya jangan maksa. Semua itu udah ada yang ngatur. Itu kalau kamu percaya bahwa Gusti Allah itu ada lho ya. Saya ndak maksa kamu percaya Gusti Allah itu ada, termasuk rencana-rencana besar-Nya."
"Jadi saya tidak pantas kecewa ketika saya harus kembali pada kenyataan bahwa saya tidak berpunya? Atau bahkan mungkin, belum pantas berpunya atau tak pantas berpunya?"
"Ya, pendapat saya seperti itu. Tapi kamu tidak harus sepakat dengan pendapat saya. Kamu punya kedaulatanmu sendiri sebagai manusia. Kalau kamu memang merasa perlu kecewa ya silakan. Selama kamu tidak lantas jadi takut punya berharap."
"Boleh saya tanya pendapat sekali lagi?"
"Silakan."
"Apa saya ini kira-kira sudah kelihatan sebagai suami yang baik?"
"Tidak."
"Benar?"
"Ya. Karena kamu belum punya istri."
Dan, aku menutup jajak pendapat ihwal kekecewaan siang itu dengan tertawa. Dia pun begitu, sambil pergi sambil tertawa. Entah bahagia, entah menertawaiku.
Suatu siang di Jakarta, Mei 2014.
No comments:
Post a Comment