6.2.14

Lana Bhanurasmi: Yang Tak Pernah Kembali

Aku Radimin. Sekeluarnya aku dari rahim Ibu, Bapak menghadiahiku nama Reksa Adhiarja. Reksa punya makna menjaga, sedangkan Adhiarja artinya keselamatan. Mungkin maksud Bapak menamaiku seperti itu agar aku menjadi orang yang mampu menjaga keselamatan, sebab setahuku Bapak salah satu orang yang percaya bahwa asma kinarya japa, nama adalah doa. Sedangkan doa adalah rangkuman harapan. Maka kupikir itulah harapannya, anaknya menjadi penjaga keselamatan. Kurasa, keselamatan yang diharapkannya adalah keselamatan dalam konteks makro, keselamatan umat, tak semata keselamatanku saja. Sungguh doa yang agung bukan?

Lalu mengapa kubilang di awal aku adalah Radimin? Begini, kawan. Aku belum siap menyandang nama dari Bapak, nama yang mengharapkanku menjadi penjaga keselamatan. Menjaga keselamatan bukan hal yang remeh, kawan. Tugas yang hampir sama beratnya dengan tugas yang dilimpahkan pada Yesus dan Muhammad. Sudah banyak kisah tentang kepedihan mereka mencapai kedamaian, memperjuangkan keselamatan duniawi dan surgawi umat mereka. Aku belum berani melangkah seperti mereka, kawan. Itulah mengapa kusebut diriku Radimin. Bila namaku dipecah, akan muncul dua kata pembentuk, Radi dan Min. Radi artinya agak, rada. Sedangkan Min itu kurang, minus. Jadi, arti namaku sekarang agak kurang, tidak utuh sepenuhnya.

Radimin ini nama panggungku, kawan. Orang-orang lebih mengenalku sebagai Radimin, bukan Reksa Adhiarja. Meski kubilang nama panggung, aku tak memiliki panggung, kawan. Aku bukan musisi, bukan pesulap, bukan penyanyi ataupun penari yang selalu disediakan panggung baginya beraksi.

*

Minggu pagi itu, aku duduk menghadap easel yang kusandari kanvas, seperti pagi kemarin. Kupandangi gambar yang belum jadi, gambar masa depan yang masih tak keruan. Tak satupun dari jemariku yang menyentuh kuas, menyandang palette, ataupun berlumur cat. Masih bersih, bersih dari benda, bebas dari warna. Bahkan jemari kakiku sekalipun, masih bersih.

Rasmi berjalan dari ruang tengah mengarah padaku, kedua tangannya menopang nampan. Kulihat di atas nampan sepiring gorengan, dan dua cangkir yang mengepulkan asap. Tampak hangat meski belum kusesap, terlebih aura Rasmi turut larut di dalamnya. Kalau benar kiraku, dua cangkir itu berisi minuman yang berbeda. Cangkir yang mengepulkan asap putih berisi kopiku, dan cangkir satu lagi menampung teh dan cinta, yang dari dalamnya mengepul asap merah jambu.

Rasmi mendarat di bangku, menurunkan nampan perlahan ke meja kecil di samping tempat dudukku. Satu per satu isinya mendarat. Secangkir kopi turun pertama kali, diikuti ramuan teh dan cinta, baru sepiring gorengan menyusul ke meja.

"Kopinya, Mas."

Kata-katanya singkat. Tapi sensasinya tak lekas bersijingkat. Rasmi ambil suara, ujung bibirnya ditarik ke atas, orkestra sederhana yang hangat.

"Makasih," aku membalas dengan senyum yang tak kalah hangat.

"Lukisannya belum selesai, Mas?"

"Hampir, dik. Sedikit lagi", aku menjawabnya seakan-akan lukisanku tinggal dipajang saja.

Kau tahu mengapa kujawab begitu pertanyaannya, kawan? Padahal kau tahu, lukisanku masih tak keruan. Cuma ada beberapa warna yang saling kutimpakan sehingga yang tampak cuma hitam. Tapi begitulah Rasmi, ia mengerti apa yang kulakukan, ia paham betul bahwa lukisanku ini sudah hampir jadi. Kendati yang tampak hanya hitam, itupun tak merata kepekatannya. Ia tahu, bahwa setelah kuas kuoleskan pada palette berisi cat, lalu kugoreskan kuas itu ke kanvas, maka lukisanku sudah setengah jadi. Sebab sebelum itu lukisanku masih terperangkap di kepalaku. Dan momen melahirkan lukisan dalam kepalaku ke kanvas, itu adalah perkara besar, berat, menguras tenaga. Hampir setingkat dengan nyeri yang dirasakan wanita saat bayinya menelusup keluar dari rahim.

Rasmi tak banyak bicara, bahkan jarang sekali bicara denganku. Kegemarannya menyanyi. Setiap waktu ia menyanyi, apapun lagunya. Setiap kalimat yang mengucur dari bibirnya adalah lagu. Setiap liuk senyumnya adalah koreografi yang rumit dan magis. Sarat estetika.

Matanya menyala disulut teh dan cinta yang larut dalam cangkirnya. Nyalanya sampai ke mataku. Mataku kelelahan beradu dengan matanya. Kusesap kopi di cangkirku, biar melek maksudku, tapi tak juga. Mataku makin redup, nyali mataku dihabisi nyala mata Rasmi. Tiba-tiba sudah malam. Matakupun padam.

**

Suara pagi mengetuk telingaku, hangatnya membuka mataku. Mataku berdecit, seperti daun pintu rumah tua yang ditinggal lama-lama penghuninya. Tubuhku pulang, darah di kaki dan tanganku hidup lagi. Aku bangun dari mimpi panjangku. Mimpi yang tak sempat kubuatkan kopi, bahkan teh hangat sekalipun. Mimpi yang kasihan, sowan ke hati yang tak berpenghuni. Hati usangku yang dihuni serangga dan laba-laba sepeninggalmu.

"Pak, obatnya diminum dulu. Biar cepat sehat", seorang suster muncul di teras mukaku. Senyumnya manis, tapi tak semanis senyum Rasmi.

"Tapi bukankah aku sudah sehat, Suster?" aku mengajukan pertanyaan yang mudah.

"Hampir, pak. Sedikit lagi," balasnya dengan mencuri kata-kataku pada Rasmi.

Suster itu pergi, setelah sukses menurunkan nampan ke meja di samping ranjangku. Nampan berbeda dengan yang dibawa Rasmi, lebih banyak isinya. Kulihat ada segelas air putih, sepotong roti, dan beberapa potong buah.

Jalannya seperti tari, tangannya melambai ke kanan-kiri, meraih apapun yang berserak di kamarku. Kamar sempit yang bau obat-obatan. Kamar yang cahayanya terlalu terang, seperti nyala mata Rasmi.

Di dekat pintu, seorang wanita yang lebih tua dari suster itu berdiri sambil membawa kain putih. Entah selimut, entah kafan, yang kutau putih warnanya. Seperti pendaran warna-warni cahaya yang disatukan. Putih cerah.

Kudengar ia bicara pada suster itu, "Kasihan dia, berbakat, tapi harus berdiam di tempat seperti ini. Tiap pagi memandangi tembok sambil senyum-senyum sendiri. Sejak istrinya, pedangdut tenar itu meninggal karena kecelakaan."

Suara suster dan wanita itu makin jauh, makin tak terdengar oleh telingaku. Aku teringat tentang Rasmi, kemana saja ia pergi selama ini?



Jakarta, 15 Maret 2014

No comments:

Post a Comment