26.10.12
Satiman
Kira-kira 15 tahun lalu, aku diceraikan istriku. Kurasa ia tak terima dengan apa yang kulakukan padanya. Bukan karena kekerasan yang kulangsungkan, hanya keberlangsungan hidup layak yang tak dapat kujanjikan. Penghasilanku tak tetap, bahkan pekerjaanku saja berubah tiap saat, sesuai kebutuhan dan keadaan. Mau tak mau, aku angkat kaki dari rumah yang konon rumahku sendiri.
Begitulah kira-kira yang kualami kawan. Selebihnya, kalau kau ingin tahu, tatap muka saja denganku, nanti kuberitahu.
Ke Baturetno aku menuju, desa kecil tak begitu jauh dari rumahku. Kupikir ada harapan untuk tinggal di sana. Dengan sedikit sisa uang, sekantong perlengkapan, dan secuil penyesalan, aku berjalan kaki. Dengan sejumlah lelah, sampailah aku di Baturetno.
Tak banyak beda antara di kampungku tinggal dulu dan di sini. Mudahnya, sama-sama kampung. Sama-sama tak banyak gula untuk dikerubuti semut. Tak seperti yang kutahu tentang Jakarta, dan kota-kota semacamnya yang menjanjikan banyak impian. Bedanya dengan kampungku, aku tak perlu tiap hari bermandi maki berbasuh caci seperti yang biasa dilakukan istriku, padaku. Ada kedamaian di sini, ada kebebasan di sini, kebebasan dari tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, setidaknya.
Aku tak punya kawan di sini. Handai taulan, apalagi. Aku benar-benar sendiri. Menapakkan telapak kakiku pertama kali di sudut terminal yang bau pesing itu. Sambil duduk bersila di warung tenda, kupesan kopi tanpa gula, biar setara pahitnya dengan kehidupanku. Waktu itu, kira-kira sepuluh tahun dari sekarang.
Siang-malam, pagi-petang kujalani tanpa beban atas pencapaian harapan. Aku menjalani begitu saja. Sesekali memang masih aku menggerutu, tentang masa laluku, bersama istriku. Ah, sudahlah, tak perlu banyak kukenang. Kini dia bukan lagi istriku, dia janda kembang di kampungku yang sedang gandrung dengan juragan beras. Setidaknya, begitulah kabar dari kawanku yang tak sengaja kujumpa di deretan warung tenda di sudut terminal.
Kawan, kukenalkan diriku. Aku Satiman, umurku berapa aku tak ingat pastinya. Yang kuingat, ketika Gestapu ramai diberitakan, aku seumuran anak kelas 6 sekolah dasar. Aku duda tua tunawisma, tak rupawan, tanpa pekerjaan jelas, tanpa tujuan hidup yang bisa dideskripsikan. Kalaupun ada yang bisa kubanggakan, adalah tiga lingkar cincin akik di tanganku. Satu jari manis kiriku, dua lagi di jari tengah dan jari manis tangan kananku. Dulu kupikir, lumayanlah untuk modal tipu-tipu. Meski sekarang kutahu, tak ada hebat-hebatnya barang-barang itu. Aku tinggal di emperan toko beras di utara terminal. Tidur beralas adukan semen kering, berbantal tas kecil isi pakaian, selimutku bulu kakiku yang tak kalah hangat dibanding selimut dari wol. Aku tak punya kamar, kawan. Kamar kecil sekalipun. Kalau aku harus buang hajat, toilet umum di terminal itulah tujuanku. Khusus bagiku, toilet itu tak berbayar, kawan.
Aku tak bekerja, kalau tak ada yang meminta. Kerjaku tak menentu, pura-pura jadi peramal aku mau, memijat otot-otot kekar para supir yang kelelahan pun kuiyakan, jadi bandar judi roulette pun bisa. Ah, apa kubilang? Jadi bandar judi kubilang pekerjaan? Bagimu mungkin tak masuk akal, tapi bagiku memang demikian adanya. Mau bagaimana lagi. Tapi yang paling sering, dan sampai sekarang masih menjadi yang utama bagiku, adalah memijat. Tak ada fasilitas plus-plus pada pijat yang kutawarkan. Mana mungkin, pria tua brewokan sepertiku menyediakan fasilitas plus-plus untuk pelanggan. Mustahil, kawan.
Aku belum ceritakan caraku tetap hidup, kawan? Makanku tak seberapa, kawan. Kalau kebetulan aku ada uang untuk makan, kubelikan makanan. Kalau lagi tak ada, dan kebetulan ada yang berbaik hati memberiku makan, kuterima. Begitu seterusnya. Perkara sembako, nasibku tak sama dengan perkara tembakau. Perkara tembakau, aku selalu punya di tas kecilku, yang isinya tiga potong pakaian. Supir-supir yang kupijat, seringkali memberiku tembakau sebagai upah. Hidupku adalah perjalanan, kawan. Bukan pencapaian harapan, atau penyesalan kenangan. Sama sekali bukan. Aku menjalani hidupku begitu saja, tanpa mimpi, tanpa sakit hati, tanpa prasangka. Setidaknya, aku demikian usai diceraikan istriku.
Dulu aku pernah punya mimpi juga, kawan. Sama sepertimu. Aku pernah punya mimpi jadi penyair, kawan. Padahal aku tak pernah tahu siapa saja penyair yang kondang di era itu. Sama sekali tak tahu. Tapi memang itu mimpiku, dulu. Kutulis puisi panjang lebar setiap saat, keliling kampung mencari inspirasi, termenung di pematang sawah kali-kali ada yang bisa kutuangkan jadi puisi. Tapi kenyataannya, bukannya aku berhasil jadi penyair kondang, justru istriku minta cerai, kawan. Mimpi yang sama sekali meleset dengan kenyataan, kawan. Kini, bahkan aku pernah punya mimpi seperti itu saja, tak ada orang sekitarku yang tahu. Hanya kuceritakan ini padamu, kawan.
Sekarang ini, aku tak mau lagi bermimpi, kawan. Aku bosan tidur untuk menggapai mimpi. Aku lebih suka terjaga tanpa mimpi. Aku hanya menjalani apa yang kurasa mesti dijalankan. Melewati apa yang diperintahkan padaku untuk kulewati. Tanpa pernah kutahu kemana aku menuju. Bahkan di mana aku memulai, aku sudah lupa. Ingatanku lebih pendek dari perjalananku. Kawan, kenangan tinggal lebih jauh dari awal perjalanan. Begitupun harapan. Mungkin ia tinggal lebih jauh dari ujung jalan yang kita tempuh. Tapi tak jarang, mimpi hadir di pinggiran jalan, yang dengan mudah kita dapatkan. Mimpi, dan kemudahan mendapatkannya, kurasa sangat tergantung pada perjalanan seperti apa yang kaujalani. Untuk perjalanan yang kujalani, sampai akhirpun kurasa tak ada lagi mimpi yang bisa kudapatkan.
Untuk mimpi dan harapan di sepanjang perjalananmu, kusemogakan kaudapatkan, kawan.
14.10.12
Luruh Seluruh Nafsu Atasmu
Sebagai pria yang normal, menaruh ketertarikan pada wanita sudah barang tentu hal yang wajar. Sangat wajar kubilang. Untuk lebih dari tertarikpun, tentu tak kalah wajar. Begitupun aku, terhadapmu. Kurasa wajar kalau sampai aku tertarik padamu, bahkan ketika bagian abstrak dariku turut tertarik, wajar.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
12.10.12
Pangkal Pagi
Terjawab
Ratus tanya yang menganga
Runtuh ia sekejap mata
Saat pandangku menujunya,
di pangkal pagi
Di pangkal pagi,
Batal aku menuju siang
Urung aku menggapai petang
Tak perluku sampai pada malam
Cukup di sini, di pangkal pagi
Citra yang diterima netraku
Tak cukup buram
Terlalu jernih malah
Sampai apa yang di baliknya
Tampak nyata menganga
Demi siang, petang, dan malammu
Kurelakan milikku
Kucukupkan di sini,
Di pangkal pagi
Kata Belum Mampu
Di tiap tikungan sunyi di ujung malam
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
11.10.12
Mampir Ngombe
Kita punya mimpi, ambisi, dan tujuan dalam hidup. Tentu. Kurasa semua orang pun demikian. Tak ada beda. Memang detil dari mimpi, ambisi, dan tujuan itu kuyakin beda tiap orangnya. Tapi toh, esensinya sama saja.
Mimpi, yang seringkali disetarakan dengan harapan yang seakan sulit dicapai, di alam bawah sadar seringkali jadi motivasi tersendiri untuk kita. Menjadi semacam tujuan yang benar-benar ingin dicapai, kendati dengan penuh kesadaran, bukan itu tujuan utama kita. Bahkan mungkin, bagi sebagian orang, justru memang mimpinya itulah yang jadi tujuan tujuan utamanya. Apa mimpimu, kawan? Aku tak perlu tahu. Kalau nanti kutahu, mungkin aku malah akan merebut mimpimu itu, kawan.
Tujuan, bermakna arah, maksud, haluan. Begitulah dalam hidup, kita punya tujuan, punya maksud, tentang untuk apa kita hidup. Tentu hal ini sesuai dengan kapasitas masing-masing, kawan. Kalau kapasitasku sebagai seorang dokter, tentu tak mungkin aku bermaksud menjadi arsitek yang hebat. Tentu bukan. Kalaupun ada inginku jadi arsitek, itu kugolongkan mimpi, kawan. Dan hampir semua dari kita, tentu menyusun jalur untuk mencapai tujuan, itu pasti. Kendati kadang, kita baru menetapkan tujuan setelah kita melewati beberapa jalur. Tentu ini analogi, kawan. Kuyakin kau mampu artikan ini.
Ambisi, setara dengan kata gairah, nafsu, hasrat, dalam hal ini konteksnya disangatkan. Memang ketika kita bicara tentang ambisi, seringkali imajinasi kita meluncur pada hal-hal yang sangat diinginkan. Sangat diusahakan. Apapun yang sangat. Tapi cobalah kau ingat kawan, ambisi ini setara nafsu. Apa memang tujuan kita membiarkan nafsu begitu liar? Kurasa tidak. Kendati demikian, percayalah, kita tetap perlu nafsu, kawan. Nafsu makan, misalnya.
Baiklah, kulanjutkan bicaraku, kawan. Tak lepas dari ketiga bahasan tadi, kawan. Kurasa kita tak perlu berlebihan menentukan ketiganya. Cukup dengan takaran yang pas. Tidak berlebih, tapi tidak kurang juga. Sulit ditentukan memang seberapa pasnya, kawan. Tapi kuyakin kau juga bisa menakar perlu seberapa, kawan. Kalau menurutku, selama kita berpijak pada realitas, semuluk apapun mimpi, tujuan dan ambisi kita, nantinya akan didapatkan takaran yang pas. Bahkan terkait takaran, ibarat kita masak, kawan. Selera tiap orang tak sama. Aku suka asin, kau tak suka. Kau suka manis, aku tak suka. Begitu, kawan. Tergantung pada selera.
Konteks lain yang ingin kusampaikan padamu, kawan. Adalah tentang keberadaan tiga hal tadi. Ketiganya berada dalam kehidupan. Merujuk pada pepatah Jawa bahwa urip mung mampir ngombe, hidup sekadar mampir untuk rehat minum. Kurasa kita perlu sadar bahwa hidup itu memang singkat, sesingkat waktu yang kita habiskan untuk ngombe, minum.
Tapi perlu kuingatkan padamu andai kaulupa, kawan. Dalam bahasa jawa, ngombe bisa pula bermakna minum minuman keras, meminum alkohol. Dan bukankah kau tahu kawan, bahwa orang-orang jawa punya hobi mengungkapkan kalimat-kalimat konotatif? Bisa jadi yang dimaksudkan ngombe dalam pengibaratan kehidupan ini adalah minum alkohol. Kalau benar diibaratkan demikian, maka bolehlah kuperpanjang ungkapannya menjadi urip mung mampir ngombe, ora perlu nganti mendem; hidup sekadar minum-minum, tak perlu sampai mabuk.
Mengapa kubilang begitu, kawan? Karena kurasa segala yang ada di kehidupan ini punya sifat membuai, mengadiksi, candu. Bisa saja kita kecanduan hidup, kita teradiksi kehidupan, mabuk pada kehidupan. Jadi kugambarkan saja bahwa hidup ini untuk minum-minum, tapi tak perlu sampai mabuk. Cukuplah sampai kita dapat kehangatan, seperti dilakukan orang-orang yang tinggal di wilayah dengan iklim dingin, bahkan iklim kutub. Setidaknya begitulah yang sedang terlintas di benakku, kawan.
Di Simpang Angan
Wahai sosok yang kerap kali tampak
di simpang angan
di hulu sendu
di ujung renung
Hendak singgahkah kamu?
Kalau memang hendak singgahlah
Tapi kurasa, wahai sosok
Kamu tak akan bisa singgah
di simpang angan
di hulu sendu
bahkan di ujung renung sekalipun
Kamu satu tak terbagi tak terpecah tak terpotong
Tak bersimpang, tak bersudut
Maka tak perlu kamu singgah
Nyawiji lah denganku
Tanpa menyinggahi bagian-bagianku
Apalagi sekadar singgah
di simpang angan
di hulu sendu
dan di ujung renung
di simpang angan
di hulu sendu
di ujung renung
Hendak singgahkah kamu?
Kalau memang hendak singgahlah
Tapi kurasa, wahai sosok
Kamu tak akan bisa singgah
di simpang angan
di hulu sendu
bahkan di ujung renung sekalipun
Kamu satu tak terbagi tak terpecah tak terpotong
Tak bersimpang, tak bersudut
Maka tak perlu kamu singgah
Nyawiji lah denganku
Tanpa menyinggahi bagian-bagianku
Apalagi sekadar singgah
di simpang angan
di hulu sendu
dan di ujung renung
Kepada Nama
hai nama,
adakah majikanmu sebagaimana kutahu?
adakah ia benar handal sebagaimana kukenal?
adakah ia pantas sebagaimana yang sering terlintas
di sela-sela hariku, di retakan malamku?
ah nama,
tahu apalah kamu tentangnya?
kurasa ia sendiripun masih sebatas nama
tak lebih
atau mungkin belum saja
adakah majikanmu sebagaimana kutahu?
adakah ia benar handal sebagaimana kukenal?
adakah ia pantas sebagaimana yang sering terlintas
di sela-sela hariku, di retakan malamku?
ah nama,
tahu apalah kamu tentangnya?
kurasa ia sendiripun masih sebatas nama
tak lebih
atau mungkin belum saja
1.10.12
Sanjiwani (Belum Selesai)
Sudah seharian aku mandi peluh, berkeliling sejagad Jakarta sedari subuh. Matahari mulai berlari ke barat demi mengetahui arah datangnya, timur. Sedangkan aku, justru masih tak tahu mesti ke utara atau selatan menuju, demi recehan yang belum tentu berjodoh denganku. Naik turun kotak melaju, dari Pasar Senen sampai Pasar Minggu, siapa tahu banyak puan dan tuan terhibur olehku.
Aku Sanjiwani, setiap hari berputar-putar Jakarta. Melagukan puisi, memuisikan lagu, tegak berdiri di hadapan putra-putri pertiwi yang rapi dan wangi, berharap mereka cecerkan recehan untukku, untuk bisa kubawa pulang. Sekadar untuk nasi dan kopi, juga beberapa linting tembakau.
Tak banyak yang tahu tentangku, apalagi mengenalku. Ada yang acuh padaku saja, kadang cuma mimpi. Ah, apa peduliku juga pada mereka? Tapi percayalah, sebenarnya aku kelewat peduli pada mereka. Sampai-sampai tanpa diminta pun, aku berdendang untuk mereka, kendati dengan suara sumbang. Semoga mereka senang.
Bung, kau tahu? Kadang aku cemburu, pada mereka yang lebih bermodal dariku namun tak lebih handal dariku, bisa menikmati tak sekadar recehan. Sedangkan aku, sampai bosan berputar-putar naik-turun angkutan umum pun, seringkali hanya cukup untuk makan. Kuralat Bung, tak hanya cukup makan maksudku, tapi juga masih ada sedikit sisa untuk merapikan tampilanku. Kupikir, setengah tahun sekali kubelanjakan penghasilanku untuk pakaian "kerja" bolehlah. Supaya tuan dan puan lebih rela kasih recehannya untukku.
Sungguh, Bung. Aku memendam cemburu pada mereka yang semata lebih mahal pakaiannya dan lebih canggih alat musiknya dariku, juga punya relasi yang punya kuasa. Lalu dengan begitu mereka dimudahkan masuk dapur rekaman. Tak hanya masuk dapur, Bung. Masakannya pun dihidangkan dalam tampilan yang mewah. Lebih membuatku cemburu lagi adalah banyak yang suka musik mereka, Bung. Padahal kurasa, tak jauh lebih baik dari yang kubisa lakukan. Kurasa. Menurutku saja ini, Bung.
Lalu mereka bergaya selebritis, menggandeng wanita-wanita idaman, berfoya-foya, membunuh seni, mengindustrikan selera mayoritas. Ah, sungguh aku cemburu, Bung! Kau tahu apa yang lebih membuatku cemburu, Bung? Kali ini, kumohon jangan kau ceritakan pada keluargaku di kampung, Bung. Kali ini tentang istriku, Bung. Aku tak lagi bersamanya. Dan kau tahu kemana perginya istriku, Bung? Kurasa kau cukup cerdas untuk menebak bahwa salah satu dari pria yang kebetulan tenar itu yang membawanya.
Kurasa sekian dulu keceritakan, Bung. Esok kubisa lanjutkan lagi.
Aku Sanjiwani, setiap hari berputar-putar Jakarta. Melagukan puisi, memuisikan lagu, tegak berdiri di hadapan putra-putri pertiwi yang rapi dan wangi, berharap mereka cecerkan recehan untukku, untuk bisa kubawa pulang. Sekadar untuk nasi dan kopi, juga beberapa linting tembakau.
Tak banyak yang tahu tentangku, apalagi mengenalku. Ada yang acuh padaku saja, kadang cuma mimpi. Ah, apa peduliku juga pada mereka? Tapi percayalah, sebenarnya aku kelewat peduli pada mereka. Sampai-sampai tanpa diminta pun, aku berdendang untuk mereka, kendati dengan suara sumbang. Semoga mereka senang.
Bung, kau tahu? Kadang aku cemburu, pada mereka yang lebih bermodal dariku namun tak lebih handal dariku, bisa menikmati tak sekadar recehan. Sedangkan aku, sampai bosan berputar-putar naik-turun angkutan umum pun, seringkali hanya cukup untuk makan. Kuralat Bung, tak hanya cukup makan maksudku, tapi juga masih ada sedikit sisa untuk merapikan tampilanku. Kupikir, setengah tahun sekali kubelanjakan penghasilanku untuk pakaian "kerja" bolehlah. Supaya tuan dan puan lebih rela kasih recehannya untukku.
Sungguh, Bung. Aku memendam cemburu pada mereka yang semata lebih mahal pakaiannya dan lebih canggih alat musiknya dariku, juga punya relasi yang punya kuasa. Lalu dengan begitu mereka dimudahkan masuk dapur rekaman. Tak hanya masuk dapur, Bung. Masakannya pun dihidangkan dalam tampilan yang mewah. Lebih membuatku cemburu lagi adalah banyak yang suka musik mereka, Bung. Padahal kurasa, tak jauh lebih baik dari yang kubisa lakukan. Kurasa. Menurutku saja ini, Bung.
Lalu mereka bergaya selebritis, menggandeng wanita-wanita idaman, berfoya-foya, membunuh seni, mengindustrikan selera mayoritas. Ah, sungguh aku cemburu, Bung! Kau tahu apa yang lebih membuatku cemburu, Bung? Kali ini, kumohon jangan kau ceritakan pada keluargaku di kampung, Bung. Kali ini tentang istriku, Bung. Aku tak lagi bersamanya. Dan kau tahu kemana perginya istriku, Bung? Kurasa kau cukup cerdas untuk menebak bahwa salah satu dari pria yang kebetulan tenar itu yang membawanya.
Kurasa sekian dulu keceritakan, Bung. Esok kubisa lanjutkan lagi.
Saya Pamit Pulang, Puan
"Saya pamit pulang, Puan
Terima kasih jamuannya
Sungguh senang saya dijamu Puan
Kudapan yang nikmat, wahai Puan"
"Kenapa buru-buru, Pria Kampung?
Kau tak ingin singgah dulu di sini?
Kau tak ingin tahu siapa yang kunanti
yang akan tiba malam ini, Pria Kampung?"
"Ribu terima kasih, Puan
Saya rasa tak perlu
Biar Puan dan Tuan nanti malam tak terganggu
Biar Puan dan Tuan nanti khusyuk berbagi peluk"
"Baiklah, Pria Kampung
Hati-hatilah di perjalanan pulang
Jaga dirimu, Pria Kampung
Kelak kalau kau mau tandanglah kemari"
Kalau kemarin kutahu apa yang kelak terjadi, wahai Puan
Tak akan kutelan kudapanmu
Tak akan kutandang ke purimu
Tak akan, Puan
Kini kutelah tahu, Puan
Puan tergila-gila Tuan
Tuan tergila-gila Puan
Aku pamit pulang, Puan
Subscribe to:
Comments (Atom)