31.3.14

Surat Untuk Nona yang Aku Suka Sekali (1)

Kepadamu, nona manis yang aku suka sekali.

Aku sadar betul apa yang terjadi, setidaknya dari sudut pandangku. Aku maunya kamu, tapi aku sendiri ragu-ragu. Ragu-ragunya tak cuma satu. Pertama, aku ragu kamu siap menghabiskan sisa umurmu denganku. Kedua, aku ragu kamu memang mempersiapkan diri menghabiskan sisa umurmu denganku. Ketiga, aku ragu kamu berpikir bahwa selama ini aku masih ragu untuk mau menghabiskan sisa umurku denganmu.

Kalau menurutmu kalimatku ruwet, maklumi saja. Demikian juga pikiranku, terlalu ruwet dimengerti, bahkan olehku sendiri. Kalau kamu mau, mungkin kamu bisa membantuku mengerti pikiranku sendiri. Syukurlah kalau demikian. Kalau pun tidak, tak jadi soal buatku. Sebenarnya lebih penting, kamu tak ikut-ikutan ruwet sepertiku.

Karena kalau aku ruwet, kamu kuperlukan untuk mengurai keruwetan. Begitupun waktu kamu (mungkin) sedang ruwet, mestinya aku jadi pihak yang membantu mengurainya. Kendati kamu tak mewajibkanku bertindak demikian.

Nona manis yang aku suka sekali, kalau boleh aku mau menyita waktumu. Bukan untuk kepentingan negara, cuma untuk kepentinganku sendiri. Aku minta waktu untuk menyelesaikan ragu-raguku dulu, sebelum kelak aku benar-benar memutuskan untuk tidak ragu-ragu menghabiskan sisa umurku denganmu. Aku juga minta sedikit tenagamu, untuk turut menyelesaikan ragu-ragumu untuk menghabiskan sisa umurmu denganku. Itupun kalau saat ini kamu masih ragu-ragu. Kalau kamu memang sudah tak ragu dan tak bersedia menghabiskan sisa umurmu denganku, tak masalah. Setidaknya kamu bisa menghemat tenagamu, dan aku juga bisa menghemat waktuku. Barangkali tenagamu bisa untuk menyelesaikan soal lain. Soal yang lebih penting daripada sekadar soal ragu-ragu belaka. Karena kamu tentu punya soal-soal lain. Aku tahu itu. Kamu tak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk memberitahuku.

Kucukupkan sekian dulu suratku. Sekian saja kurasa sudah membuatmu turut ruwet. Tapi yang demikian itu terjadi jika dan hanya jika kamu berusaha mengerti maksud suratku. Padahal, belum tentu juga kamu ada niat untuk tahu maksud surat ini, bahkan mungkin isi surat ini.

Yang suka sekali padamu,

Radimin

24.3.14

Kelingan Ngomah

Pikiranku sedang pelesir ke awal sampai tengah tahun lalu. Waktu aku sempat bertutur untuk tak memikirkan perihal pasangan dulu, dan soal kesenangan-kesenangan lain sebelum aku mendapat kejelasan tentang nasib pekerjaanku. Aku seorang pengangguran kala itu. Tak punya penghasilan sama sekali. Kalaupun ada yang bisa kuanggap sebagai penghasilan, mungkin uang buat beli rokok dari Bapak yang waktu itu belum pensiun.

Waktu itu, menerima tawaran bersenang-senang saja hampir aku tak berani. Semacam Gajahmada ketika bersumpah untuk tak bersenang-senang sebelum menyatukan nusantara. Tiap malam kerjaku nongkrong di angkringan. Angkringannya pindah-pindah, obrolannya pun berubah-ubah, tapi jajanku ya tetap saja sama, kopi hitam segelas sama gorengan barang satu dua potong. Kalau laparku sedang agak berlebihan, biasanya aku minta tiwul goreng. Enak, kenyang, murah. Tak berani yang mewah-mewah.

Pagi-pagi, kalau Ibu sedang ingin diantar berangkat mengajar, sesekali kuantarkan. Siangnya kujemput lagi. Biasalah, Ibu juga kadang suka manja kalau anaknya sedang di rumah. Ya, biar aku juga ada kegiatan. Daripada capek nganggur di rumah. Sempat sekali waktu ketika jemput Ibu dari sekolah, ada teman Ibu yang konon punya keponakan seumuranku, bertanya “Mas, mau tak kenalin ponakanku? Masih kuliah, kedokteran, semester 5.” Dengan lancar dan tanpa beban, kujawab “Mboten. Nanti kalau memang harus kenal kan ya kenal sendiri. Ndak usah dikenalin.” Muka teman Ibu itu langsung merah, dalam bahasa biologi mungkin namanya mimikri. Padahal aku bukan predator, dia bukan mangsa, lalu untuk apa mimikri?

Hampir tiap sore, Bapak dan Ibu ngajak wedangan. Kegiatan yang secara garis besar hampir sama dengan yang kulakukan malam harinya. Minum minuman panas sambil ngobrol hangat. Hanya saja, biasanya wedangan sore ini topik utamanya adalah seputar wejangan. Jadi ya diwejang dari soal A sampai soal Z. Kalau Bapak dan Ibu masih kurang puas memberi wejangan di angkringan, biasanya ada perpanjangan waktu yang pelaksanaannya adalah di rumah. Kalau tak di ruang tamu, ya di teras rumah. Seringnya, kalau lagi memberi wejangan, Bapak sambil gitaran, Ibu sambil ngemil, dan aku sambil udad-udud saja, biar menelaahnya lebih khidmat.


Singkat, tapi indah. Tak perlu kuceritakan panjang-panjang bahagianya ngumpul sama Bapak Ibu, kamu pun tentu tahu. Apalagi waktu itu, momennya agak-agak pas kalo memang dipas-paskan. Aku yang baru pulang setelah sekian lama pergi mempersiapkan dewasa. Kemudian pulang sebentar untuk istirahat dan sungkem minta restu untuk berangkat menjadi dewasa. Dan sekarang, aku sedang dalam perjalanan.

20.3.14

Kronologi

Kemarin sore, aku duduk di bangku ini. Bangku yang sama dengan yang kududuki saat ini. Anganku jalan-jalan memilih mimpi untuk tidurku malam harinya. Juga untuk diwujudkan esok paginya.

Semalam tadi, aku benar dapat mimpi. Mimpi pilihan anganku sore harinya. Tak seberapa indah, cukup lah membuat bangunku sedikit gelisah. Tapi yang paling membuatku gelisah, mimpiku tak mewujud pagi tadi.

Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku bangun, mandi, berangkat kerja, dan tak sepotong mimpi pun jadi wujud. Mimpiku tetap singgah di bawah sadar, dan aku masih tetap harus sabar.

Siangnya aku mencoba mengingat-ingat mimpi semalam. Tapi yang kuingat cuma sepotong. Potongan yang memuat kamu. Potongan kecil, tapi gambarnya paling detil. Gambarnya tajam, bahkan sampai cacat-cacatmu pun kelihatan.

Sore tadi, gambar-gambarnya mulai pudar. Mungkin pewarnanya luntur kena hujan. Hujan yang akhir-akhir ini suka membuntuti perjalananmu. Sebab ia masih punya perlu denganmu, menyampaikan rindu yang kutitipkan kemarin sore. Rindu yang kutulis selagi anganku memilih mimpi.

Malam ini, kalaupun mimpiku tak juga mewujud, semoga rinduku tak larut dan dibawa hanyut oleh air matamu. Air mata yang belum surut sejak lelakimu lupa bahwa kamu bukan perempuan yang patut disia-siakan.

2.3.14

Yang Penting...

"Kamu sengaja mempermainkanku?"

"Mempermainkan? Permainan seperti apa maksudmu?"

"Tak perlu-perlu pura-pura tak tahu. Kuyakin kamu tahu maksudku, kutahu kamu mengerti apa yang terjadi." Dua tanduk kecil warna merah menyala mulai menyembul dari kepalamu.

"Maaf kalau begitu. Maaf atas aku yang tak merasa tahu apapun yang terjadi. Maaf kalau atas ketidaksengajaanku aku telah mempermainkanmu. Secara sadar, aku mengakui sepenuhnya bahwa kamu tak pantas dipermainkan. Kuulangi sekali lagi, maaf."

"Tak sengaja? Apa maksudmu? Kau menggodaku secara tak sengaja? Kau merayuku di bawah sadar?" Dua tanduk di kepalamu makin terang menyala.

"Tidak. Aku menggodamu secara sadar. Aku merayumu secara sengaja. Tapi membuatmu jatuh cinta dan berharap padaku, itu bukan kesengajaan."

"Kamu tak berharap aku mencintaimu? Lalu mengapa merayuku? Mengapa membuatku mencintaimu?" Nyala tandukmu sedikit meredup.

"Apapun tujuan itu, tentunya bukan untuk membuatmu mencintaiku."

"Katakan padaku, kau mencintaiku?"

"Ya!" Jawabku singkat dengan penuh keyakinan.

"Lalu mengapa kau tak berharap aku mencintaimu kalau demikian?" Nyala tandukmu berubah, dari merah jadi biru.

"Karena aku cuma mencintaimu."

"Dan kamu tak ingin aku mencintaimu?"

"Bukan tak ingin. Tapi aku tak mengharapkan itu."

"Lalu ketika aku mencintaimu?" Tandukmu berubah lagi jadi merah.

"Kau tak perlu repot-repot mencintaiku."

"Aku tak merasa kerepotan." Sekarang tandukmu padam.

"Lalu mengapa kau repot-repot meributkan perasaanmu?"

"Karena aku mencintaimu." Tandukmu lenyap. Mungkin ia tenggelam dalam kemarahanmu.

"Sudahlah, yang penting kamu sudah tahu aku mencintaimu. Kendati aku tidak berharap kamu mencintaiku. Mari biarkan saja kita saling mencintai. Tak perlu repot-repot untuk hal lain. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Ya sudah, biarkan saja demikian. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan."

"Begitu saja?"

"Apa lagi?"

"Entahlah, aku tak mengerti jalan pikiranmu."

"Tak penting. Yang penting sekarang kamu sudah tahu, aku mencintaimu."

"Aku pun begitu."

Kami pun tak pernah bersama sejak itu, tak menjalin hubungan apapun, tak serumah, tak saling mengikatkan diri. Kami kembali ke rumah masing-masing, kembali ke keluarga masing-masing. Aku kembali pada anak-istriku, ia pun pulang pada suami dan anak-anaknya.

Aku punya tiga cucu saat tulisan ini kuakhiri. Ia punya lebih banyak, ada enam cucunya. Dua dari mereka kembar. Anak-anak yang lucu.

Dan sampai kalimat ini kusudahi, aku masih mencintainya. Kutahu diapun demikian.




Wonogiri, Maret 2014

Dipagari Nalar

Mauku memelukmu, sekadar membagi hangat padamu
Kasihan aku melihatmu menggigil berselimut kesepian.

Mauku menciummu, mengalirkan kasih sayang untukmu
Kasihan aku mendengar suaramu serak berbasuh kekeringan.

Tapi apalah bisaku, tanganku dijerat pikiran. Karenanya pelukanku tak sampai padamu.
Bibirku pun kekeringan, kasih sayangnya habis disesapi logika. 

9.2.14

Pohon Sakit Hati

Aku menanam sakit hati. Akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, tubuhnya tumbuh tinggi. Sakit hatiku menaungi pria-pria bertopeng. Pria-pria dengan kemasan mulus, rapi, bersih, istimewa. Tapi jiwa-jiwa di dalamnya takkan pernah mau bertopeng. Jiwa-jiwa yang jujur, blaka bahwa seelok-elok parasnya mereka tetaplah bajingan. Jiwa-jiwa mereka yang beraksi setiap malam, meneguk darah-darah gadis demi kehausannya atas perempuan.

Sakit hatiku menaungi perempuan-perempuan yang matanya berbalut sabut kelapa. Perempuan-perempuan yang matanya tak sanggup menatap jelas jiwa-jiwa pria dengan paras yang menawan. Perempuan-perempuan yang setiap malam doanya dilayangkan bagi pria-pria yang kehausan rintihan perempuan.

Sakit hatiku tumbuh besar, cabangnya beranak pinak seperti sungai, daunannya lebat. Sakit hatiku menaungi ulama-ulama, pendeta-pendeta, pria dan perempuan budak ketaatan. Orang-orang yang membalut dirinya dengan kesalehan-kesalehan lahiriah. Tapi jiwanya, sukmanya, ruh-ruh yang mendiami tubuh mereka selalu telanjang. Menunjukkan sebenar-benar dirinya lewat tingkah polahnya. Jiwa-jiwa tanpa simpati, ruh-ruh tanpa toleransi, yang setiap saat siap tertawa di atas tangis orang lain. Orang-orang yang tak sejalan dengan aturan-aturan yang diyakininya. Orang-orang yang jauh dari gambaran tentang kesalehan yang mendiami pemikirannya.

Sakit hatiku makin tua, akarnya tak lagi mampu bekerja bagi anak-anak daun, anak-anak ranting. Sakit hatiku mulai kering, dahaganya tak terobati. Sakit hatiku rubuh, menimpa rumah-rumah pekerja kelas bawah, rumah-rumah orang saleh, rumah-rumah pria menawan, rumah-rumah perempuan istri pria-pria jutawan. Sakit hatiku menimpa siapapun di bawahnya. Sakit hatiku mati. Anak-anak daun menangisi kepergiannya. Tangisnya dibawa angin, melayang-layang sepanjang jalan bersama debu.

Tangis anak-anak daun semakin jauh. Tak ada lagi tempat berteduh bagi mereka. Pohon sakit hati sudah mati. Mereka terus melayang, jauh. Sampai akhirnya, tangis-tangis anak daun jatuh di pelukanmu. Perempuan yang matanya terbuka sempurna, perempuan yang batin dan lahirnya seirama, perempuan yang tak tertimpa pohon sakit hatiku yang rubuh, sebab kaulah yang merubuhkan pohon sakit hatiku. Kau, perempuan yang setiap malam jadi muara bagi doa-doaku.

6.2.14

Lana Bhanurasmi: Yang Tak Pernah Kembali

Aku Radimin. Sekeluarnya aku dari rahim Ibu, Bapak menghadiahiku nama Reksa Adhiarja. Reksa punya makna menjaga, sedangkan Adhiarja artinya keselamatan. Mungkin maksud Bapak menamaiku seperti itu agar aku menjadi orang yang mampu menjaga keselamatan, sebab setahuku Bapak salah satu orang yang percaya bahwa asma kinarya japa, nama adalah doa. Sedangkan doa adalah rangkuman harapan. Maka kupikir itulah harapannya, anaknya menjadi penjaga keselamatan. Kurasa, keselamatan yang diharapkannya adalah keselamatan dalam konteks makro, keselamatan umat, tak semata keselamatanku saja. Sungguh doa yang agung bukan?

Lalu mengapa kubilang di awal aku adalah Radimin? Begini, kawan. Aku belum siap menyandang nama dari Bapak, nama yang mengharapkanku menjadi penjaga keselamatan. Menjaga keselamatan bukan hal yang remeh, kawan. Tugas yang hampir sama beratnya dengan tugas yang dilimpahkan pada Yesus dan Muhammad. Sudah banyak kisah tentang kepedihan mereka mencapai kedamaian, memperjuangkan keselamatan duniawi dan surgawi umat mereka. Aku belum berani melangkah seperti mereka, kawan. Itulah mengapa kusebut diriku Radimin. Bila namaku dipecah, akan muncul dua kata pembentuk, Radi dan Min. Radi artinya agak, rada. Sedangkan Min itu kurang, minus. Jadi, arti namaku sekarang agak kurang, tidak utuh sepenuhnya.

Radimin ini nama panggungku, kawan. Orang-orang lebih mengenalku sebagai Radimin, bukan Reksa Adhiarja. Meski kubilang nama panggung, aku tak memiliki panggung, kawan. Aku bukan musisi, bukan pesulap, bukan penyanyi ataupun penari yang selalu disediakan panggung baginya beraksi.

*

Minggu pagi itu, aku duduk menghadap easel yang kusandari kanvas, seperti pagi kemarin. Kupandangi gambar yang belum jadi, gambar masa depan yang masih tak keruan. Tak satupun dari jemariku yang menyentuh kuas, menyandang palette, ataupun berlumur cat. Masih bersih, bersih dari benda, bebas dari warna. Bahkan jemari kakiku sekalipun, masih bersih.

Rasmi berjalan dari ruang tengah mengarah padaku, kedua tangannya menopang nampan. Kulihat di atas nampan sepiring gorengan, dan dua cangkir yang mengepulkan asap. Tampak hangat meski belum kusesap, terlebih aura Rasmi turut larut di dalamnya. Kalau benar kiraku, dua cangkir itu berisi minuman yang berbeda. Cangkir yang mengepulkan asap putih berisi kopiku, dan cangkir satu lagi menampung teh dan cinta, yang dari dalamnya mengepul asap merah jambu.

Rasmi mendarat di bangku, menurunkan nampan perlahan ke meja kecil di samping tempat dudukku. Satu per satu isinya mendarat. Secangkir kopi turun pertama kali, diikuti ramuan teh dan cinta, baru sepiring gorengan menyusul ke meja.

"Kopinya, Mas."

Kata-katanya singkat. Tapi sensasinya tak lekas bersijingkat. Rasmi ambil suara, ujung bibirnya ditarik ke atas, orkestra sederhana yang hangat.

"Makasih," aku membalas dengan senyum yang tak kalah hangat.

"Lukisannya belum selesai, Mas?"

"Hampir, dik. Sedikit lagi", aku menjawabnya seakan-akan lukisanku tinggal dipajang saja.

Kau tahu mengapa kujawab begitu pertanyaannya, kawan? Padahal kau tahu, lukisanku masih tak keruan. Cuma ada beberapa warna yang saling kutimpakan sehingga yang tampak cuma hitam. Tapi begitulah Rasmi, ia mengerti apa yang kulakukan, ia paham betul bahwa lukisanku ini sudah hampir jadi. Kendati yang tampak hanya hitam, itupun tak merata kepekatannya. Ia tahu, bahwa setelah kuas kuoleskan pada palette berisi cat, lalu kugoreskan kuas itu ke kanvas, maka lukisanku sudah setengah jadi. Sebab sebelum itu lukisanku masih terperangkap di kepalaku. Dan momen melahirkan lukisan dalam kepalaku ke kanvas, itu adalah perkara besar, berat, menguras tenaga. Hampir setingkat dengan nyeri yang dirasakan wanita saat bayinya menelusup keluar dari rahim.

Rasmi tak banyak bicara, bahkan jarang sekali bicara denganku. Kegemarannya menyanyi. Setiap waktu ia menyanyi, apapun lagunya. Setiap kalimat yang mengucur dari bibirnya adalah lagu. Setiap liuk senyumnya adalah koreografi yang rumit dan magis. Sarat estetika.

Matanya menyala disulut teh dan cinta yang larut dalam cangkirnya. Nyalanya sampai ke mataku. Mataku kelelahan beradu dengan matanya. Kusesap kopi di cangkirku, biar melek maksudku, tapi tak juga. Mataku makin redup, nyali mataku dihabisi nyala mata Rasmi. Tiba-tiba sudah malam. Matakupun padam.

**

Suara pagi mengetuk telingaku, hangatnya membuka mataku. Mataku berdecit, seperti daun pintu rumah tua yang ditinggal lama-lama penghuninya. Tubuhku pulang, darah di kaki dan tanganku hidup lagi. Aku bangun dari mimpi panjangku. Mimpi yang tak sempat kubuatkan kopi, bahkan teh hangat sekalipun. Mimpi yang kasihan, sowan ke hati yang tak berpenghuni. Hati usangku yang dihuni serangga dan laba-laba sepeninggalmu.

"Pak, obatnya diminum dulu. Biar cepat sehat", seorang suster muncul di teras mukaku. Senyumnya manis, tapi tak semanis senyum Rasmi.

"Tapi bukankah aku sudah sehat, Suster?" aku mengajukan pertanyaan yang mudah.

"Hampir, pak. Sedikit lagi," balasnya dengan mencuri kata-kataku pada Rasmi.

Suster itu pergi, setelah sukses menurunkan nampan ke meja di samping ranjangku. Nampan berbeda dengan yang dibawa Rasmi, lebih banyak isinya. Kulihat ada segelas air putih, sepotong roti, dan beberapa potong buah.

Jalannya seperti tari, tangannya melambai ke kanan-kiri, meraih apapun yang berserak di kamarku. Kamar sempit yang bau obat-obatan. Kamar yang cahayanya terlalu terang, seperti nyala mata Rasmi.

Di dekat pintu, seorang wanita yang lebih tua dari suster itu berdiri sambil membawa kain putih. Entah selimut, entah kafan, yang kutau putih warnanya. Seperti pendaran warna-warni cahaya yang disatukan. Putih cerah.

Kudengar ia bicara pada suster itu, "Kasihan dia, berbakat, tapi harus berdiam di tempat seperti ini. Tiap pagi memandangi tembok sambil senyum-senyum sendiri. Sejak istrinya, pedangdut tenar itu meninggal karena kecelakaan."

Suara suster dan wanita itu makin jauh, makin tak terdengar oleh telingaku. Aku teringat tentang Rasmi, kemana saja ia pergi selama ini?



Jakarta, 15 Maret 2014