9.2.14

Pohon Sakit Hati

Aku menanam sakit hati. Akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, tubuhnya tumbuh tinggi. Sakit hatiku menaungi pria-pria bertopeng. Pria-pria dengan kemasan mulus, rapi, bersih, istimewa. Tapi jiwa-jiwa di dalamnya takkan pernah mau bertopeng. Jiwa-jiwa yang jujur, blaka bahwa seelok-elok parasnya mereka tetaplah bajingan. Jiwa-jiwa mereka yang beraksi setiap malam, meneguk darah-darah gadis demi kehausannya atas perempuan.

Sakit hatiku menaungi perempuan-perempuan yang matanya berbalut sabut kelapa. Perempuan-perempuan yang matanya tak sanggup menatap jelas jiwa-jiwa pria dengan paras yang menawan. Perempuan-perempuan yang setiap malam doanya dilayangkan bagi pria-pria yang kehausan rintihan perempuan.

Sakit hatiku tumbuh besar, cabangnya beranak pinak seperti sungai, daunannya lebat. Sakit hatiku menaungi ulama-ulama, pendeta-pendeta, pria dan perempuan budak ketaatan. Orang-orang yang membalut dirinya dengan kesalehan-kesalehan lahiriah. Tapi jiwanya, sukmanya, ruh-ruh yang mendiami tubuh mereka selalu telanjang. Menunjukkan sebenar-benar dirinya lewat tingkah polahnya. Jiwa-jiwa tanpa simpati, ruh-ruh tanpa toleransi, yang setiap saat siap tertawa di atas tangis orang lain. Orang-orang yang tak sejalan dengan aturan-aturan yang diyakininya. Orang-orang yang jauh dari gambaran tentang kesalehan yang mendiami pemikirannya.

Sakit hatiku makin tua, akarnya tak lagi mampu bekerja bagi anak-anak daun, anak-anak ranting. Sakit hatiku mulai kering, dahaganya tak terobati. Sakit hatiku rubuh, menimpa rumah-rumah pekerja kelas bawah, rumah-rumah orang saleh, rumah-rumah pria menawan, rumah-rumah perempuan istri pria-pria jutawan. Sakit hatiku menimpa siapapun di bawahnya. Sakit hatiku mati. Anak-anak daun menangisi kepergiannya. Tangisnya dibawa angin, melayang-layang sepanjang jalan bersama debu.

Tangis anak-anak daun semakin jauh. Tak ada lagi tempat berteduh bagi mereka. Pohon sakit hati sudah mati. Mereka terus melayang, jauh. Sampai akhirnya, tangis-tangis anak daun jatuh di pelukanmu. Perempuan yang matanya terbuka sempurna, perempuan yang batin dan lahirnya seirama, perempuan yang tak tertimpa pohon sakit hatiku yang rubuh, sebab kaulah yang merubuhkan pohon sakit hatiku. Kau, perempuan yang setiap malam jadi muara bagi doa-doaku.

6.2.14

Lana Bhanurasmi: Yang Tak Pernah Kembali

Aku Radimin. Sekeluarnya aku dari rahim Ibu, Bapak menghadiahiku nama Reksa Adhiarja. Reksa punya makna menjaga, sedangkan Adhiarja artinya keselamatan. Mungkin maksud Bapak menamaiku seperti itu agar aku menjadi orang yang mampu menjaga keselamatan, sebab setahuku Bapak salah satu orang yang percaya bahwa asma kinarya japa, nama adalah doa. Sedangkan doa adalah rangkuman harapan. Maka kupikir itulah harapannya, anaknya menjadi penjaga keselamatan. Kurasa, keselamatan yang diharapkannya adalah keselamatan dalam konteks makro, keselamatan umat, tak semata keselamatanku saja. Sungguh doa yang agung bukan?

Lalu mengapa kubilang di awal aku adalah Radimin? Begini, kawan. Aku belum siap menyandang nama dari Bapak, nama yang mengharapkanku menjadi penjaga keselamatan. Menjaga keselamatan bukan hal yang remeh, kawan. Tugas yang hampir sama beratnya dengan tugas yang dilimpahkan pada Yesus dan Muhammad. Sudah banyak kisah tentang kepedihan mereka mencapai kedamaian, memperjuangkan keselamatan duniawi dan surgawi umat mereka. Aku belum berani melangkah seperti mereka, kawan. Itulah mengapa kusebut diriku Radimin. Bila namaku dipecah, akan muncul dua kata pembentuk, Radi dan Min. Radi artinya agak, rada. Sedangkan Min itu kurang, minus. Jadi, arti namaku sekarang agak kurang, tidak utuh sepenuhnya.

Radimin ini nama panggungku, kawan. Orang-orang lebih mengenalku sebagai Radimin, bukan Reksa Adhiarja. Meski kubilang nama panggung, aku tak memiliki panggung, kawan. Aku bukan musisi, bukan pesulap, bukan penyanyi ataupun penari yang selalu disediakan panggung baginya beraksi.

*

Minggu pagi itu, aku duduk menghadap easel yang kusandari kanvas, seperti pagi kemarin. Kupandangi gambar yang belum jadi, gambar masa depan yang masih tak keruan. Tak satupun dari jemariku yang menyentuh kuas, menyandang palette, ataupun berlumur cat. Masih bersih, bersih dari benda, bebas dari warna. Bahkan jemari kakiku sekalipun, masih bersih.

Rasmi berjalan dari ruang tengah mengarah padaku, kedua tangannya menopang nampan. Kulihat di atas nampan sepiring gorengan, dan dua cangkir yang mengepulkan asap. Tampak hangat meski belum kusesap, terlebih aura Rasmi turut larut di dalamnya. Kalau benar kiraku, dua cangkir itu berisi minuman yang berbeda. Cangkir yang mengepulkan asap putih berisi kopiku, dan cangkir satu lagi menampung teh dan cinta, yang dari dalamnya mengepul asap merah jambu.

Rasmi mendarat di bangku, menurunkan nampan perlahan ke meja kecil di samping tempat dudukku. Satu per satu isinya mendarat. Secangkir kopi turun pertama kali, diikuti ramuan teh dan cinta, baru sepiring gorengan menyusul ke meja.

"Kopinya, Mas."

Kata-katanya singkat. Tapi sensasinya tak lekas bersijingkat. Rasmi ambil suara, ujung bibirnya ditarik ke atas, orkestra sederhana yang hangat.

"Makasih," aku membalas dengan senyum yang tak kalah hangat.

"Lukisannya belum selesai, Mas?"

"Hampir, dik. Sedikit lagi", aku menjawabnya seakan-akan lukisanku tinggal dipajang saja.

Kau tahu mengapa kujawab begitu pertanyaannya, kawan? Padahal kau tahu, lukisanku masih tak keruan. Cuma ada beberapa warna yang saling kutimpakan sehingga yang tampak cuma hitam. Tapi begitulah Rasmi, ia mengerti apa yang kulakukan, ia paham betul bahwa lukisanku ini sudah hampir jadi. Kendati yang tampak hanya hitam, itupun tak merata kepekatannya. Ia tahu, bahwa setelah kuas kuoleskan pada palette berisi cat, lalu kugoreskan kuas itu ke kanvas, maka lukisanku sudah setengah jadi. Sebab sebelum itu lukisanku masih terperangkap di kepalaku. Dan momen melahirkan lukisan dalam kepalaku ke kanvas, itu adalah perkara besar, berat, menguras tenaga. Hampir setingkat dengan nyeri yang dirasakan wanita saat bayinya menelusup keluar dari rahim.

Rasmi tak banyak bicara, bahkan jarang sekali bicara denganku. Kegemarannya menyanyi. Setiap waktu ia menyanyi, apapun lagunya. Setiap kalimat yang mengucur dari bibirnya adalah lagu. Setiap liuk senyumnya adalah koreografi yang rumit dan magis. Sarat estetika.

Matanya menyala disulut teh dan cinta yang larut dalam cangkirnya. Nyalanya sampai ke mataku. Mataku kelelahan beradu dengan matanya. Kusesap kopi di cangkirku, biar melek maksudku, tapi tak juga. Mataku makin redup, nyali mataku dihabisi nyala mata Rasmi. Tiba-tiba sudah malam. Matakupun padam.

**

Suara pagi mengetuk telingaku, hangatnya membuka mataku. Mataku berdecit, seperti daun pintu rumah tua yang ditinggal lama-lama penghuninya. Tubuhku pulang, darah di kaki dan tanganku hidup lagi. Aku bangun dari mimpi panjangku. Mimpi yang tak sempat kubuatkan kopi, bahkan teh hangat sekalipun. Mimpi yang kasihan, sowan ke hati yang tak berpenghuni. Hati usangku yang dihuni serangga dan laba-laba sepeninggalmu.

"Pak, obatnya diminum dulu. Biar cepat sehat", seorang suster muncul di teras mukaku. Senyumnya manis, tapi tak semanis senyum Rasmi.

"Tapi bukankah aku sudah sehat, Suster?" aku mengajukan pertanyaan yang mudah.

"Hampir, pak. Sedikit lagi," balasnya dengan mencuri kata-kataku pada Rasmi.

Suster itu pergi, setelah sukses menurunkan nampan ke meja di samping ranjangku. Nampan berbeda dengan yang dibawa Rasmi, lebih banyak isinya. Kulihat ada segelas air putih, sepotong roti, dan beberapa potong buah.

Jalannya seperti tari, tangannya melambai ke kanan-kiri, meraih apapun yang berserak di kamarku. Kamar sempit yang bau obat-obatan. Kamar yang cahayanya terlalu terang, seperti nyala mata Rasmi.

Di dekat pintu, seorang wanita yang lebih tua dari suster itu berdiri sambil membawa kain putih. Entah selimut, entah kafan, yang kutau putih warnanya. Seperti pendaran warna-warni cahaya yang disatukan. Putih cerah.

Kudengar ia bicara pada suster itu, "Kasihan dia, berbakat, tapi harus berdiam di tempat seperti ini. Tiap pagi memandangi tembok sambil senyum-senyum sendiri. Sejak istrinya, pedangdut tenar itu meninggal karena kecelakaan."

Suara suster dan wanita itu makin jauh, makin tak terdengar oleh telingaku. Aku teringat tentang Rasmi, kemana saja ia pergi selama ini?



Jakarta, 15 Maret 2014

3.2.14

Lalu, Untuk Apa Ragu?

Untuk apa meragu? Bukankah takbir yang kau ulang-ulang dalam shalatmu itu kau ucapkan tanpa keraguan? Bukankah keagungan Tuhanmu tak lagi kau ragukan?

Untuk apa meragu? Bukankah tak ada keraguan dalam basmalah yang kau ucapkan bahwa Tuhan benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang?

Untuk apa memalsukan? Terlepas dari apapun yang kau palsukan. Bukankah kau masih ingat Tuhan berulang-ulang menyatakan bahwa Ia Maha Melihat dan Mendengar?

Kucoba iseng kaitkan tiga pernyataan itu saja. Bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih dan Penyayang, serta Maha Melihat dan Mendengar. Kalau kau ragu dalam perjalananmu, ingatlah bahwa Tuhanmu Maha Besar, jauh melebihi besar apapun. Dengan kebesaran-Nya, Ia pun Melihat dan Mendengar. Melihat dengan jelas apa yang terjadi padamu, mendengar dengan jelas rintihan dalam hatimu. Pun Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, mana mungkin tega membiarkanmu dikerubuti kemalangan dan kesedihan?

Ini bukan pertanyaanku, ini sekadar ceracauku. Ceracauku dari perspektif yang tak jauh beda dari yang biasa kau kenakan dalam argumenmu.

"Maka nikmat Tuhan mana yang kau ragukan?" (An Najm: 55)



Jakarta, Februari 2014

Adu Mulut dengan Kopi

Aku duduk menghabiskan pagi bersama kopi
Kopinya sedang tak enak hati
Baru ngobrol sebentar,
Obrolan kami dibawanya menuju debat
Kopinya menggebu-gebu
Mulutku kalah beradu
Aku menyerah

Kopinya malah marah-marah,
Katanya tak pantas aku menyerah,
Padahal debat baru dimulai
Debatnyapun bukan debat kusir,
Kusir tak berani ikut debat, dia tak berani melawan kopi
Kopi yang bersungut-sungut pagi ini
Kopi yang mengorbankan mulutku pagi ini



Warung Kopi, Februari 2014