16.2.13
10.12.12
Sebut Saja Tetuko
Tetuko, anggap saja begitu namanya, padanya penerimaan-penerimaan. Apapun yang terjadi, ia jalani, meski tak tentu dinikmati. Darinya, kubaca bahwa ia, sama sekali tak kehausan nama baik, tak kelaparan pengakuan. Ia hanya berjalan, hijrah, dari waktu ke waktu, dari kenangan menuju harapan, dengan segala kemungkinan.
Ia lelaki paruh baya, hidup melajang, tanpa pekerjaan jelas. Bagaimana bisa kujelaskan pekerjaannya, tutur katanya pun kadang tak jelas kumengerti. Tinggalnya di rumah petak, tak ada kompor, kulkas, ataupun komputer di rumahnya. Kupikir, ia lelaki yang hidup bersama nostalgia, pada era yang belum diperbudak digital, di mana segalanya masih nyata, bukan sekadar kehidupan angka-angka. Ada tumpukan koran yang rapi tersusun di luar kamarnya, beberapa judul kutemukan, dari koran nasional sama tabloid lokal. Pada tumpukan koran bekas itu, ia memodernisasi pemikirannya, meski kehidupannya sama sekali tak juga berubah jadi lebih modern.
Aku kenal dia di warung kopi terminal, sore hari sepulangku kerja. Ia duduk sendiri, matanya perhatikan sekeliling, seakan-akan ia mencari sesuatu. Mendekatlah kemudian aku padanya.
"Kau mau merokok, Bung?", kusodorkan kotak kretekku padanya.
"Terima kasih, Bung.", ia ambil sebatang dari yang kusodorkan.
"Perlu api?"
Ia tak menjawab, cuma mengangguk sambil menengok ke arahku. Kusulutkan api di ujung rokoknya.
"Kau lagi menunggu seseorang, Bung?"
"Tidak, aku tak pernah menunggu siapapun untuk datang kepadaku, Bung. Kalaupun ada yang ingin datang padaku, silakan saja.", dalam-dalam ia hisap kretek dariku.
Sungguh, orang yang banyak bicara, lawan bicara yang menarik, kupikir.
"Aku Kum, siapa namamu, Bung?"
"Tetuko."
"Kau biasa di sini sore begini, Bung?"
"Ya."
"Kau kerja di sini?"
"Aku kerja di manapun kumau."
"Apa kerjamu, kalau kuboleh tahu?"
"Berjalan."
Jawaban macam apa ini, pikirku. Bagaimana bisa berjalan dikatakan sebagai pekerjaan. Bagaimana bisa berjalan menghidupi seorang pejalan, pikirku.
"Apa definisimu tentang pekerjaan kalau begitu?"
"Apapun yang kukerjakan, itulah pekerjaan."
"Meski tak menghasilkan sekalipun?"
"Tak menghasilkan katamu?", menengoklah dia ke arahku dengan tatapan yang menganggap aneh pertanyaanku. Kuanggukkan kepalaku seusai pertanyaannya.
"Menghasilkan apa maksudmu, Bung? Menghasilkan uang? Kalau aku berjalan dengan meminta-minta, kupikir bisa juga hasilkan uang, Bung. Tapi memang, berjalanku tak menghasilkan uang. Aku hanya berjalan begitu saja.", tanpa kuminta ia bicara panjang begitu padaku.
"Lalu apa yang kaudapat?", kulanjut bertanya sambil menyesap kopiku. Masih cukup panas kurasa di lidahku.
"Pengalaman."
"Pengalaman macam apa?"
"Pengalaman berjalan."
"Maksudmu?"
"Aku tak bermaksud apa-apa."
Kemudian bicaraku dengannya berlanjut, sampai matahari mrengut, bosan pada dunia, lalu pergi meninggalkannya. Kopiku pun mulai dingin, sebab matahari tak lagi menghangatkan. Kretekku juga tinggal tersisa beberapa batang.
"Dimana kau tinggal, Bung?"
"Belakang terminal ini."
"Boleh kusinggah?"
"Dengan senang hati, Bung."
Kemudian aku menuju ke rumahnya, sambil meraba-raba jalan pikiran kawan ini. Sampai di rumahnya, kudengar panjang lebar ceritanya. Tentu, tentang hal yang sama, perjalanannya.
Kalau kau ingin tahu lebih banyak ceritanya, kawanku, temui saja Tetuko ini, pada setiap perjalananmu. Kuyakin, ia sedang berjalan di sana. Karena begitulah pekerjaannya.
30.11.12
Anakku
Berlarilah jauh, Anakku
Jauh,
Mencapai tepi
Melintas batas
Terbanglah tinggi, Anakku
Tinggi,
Sampai setara mantra
Sampai setinggi mimpi
Menyelamlah dalam, Anakku
Dalam,
Sampai dimana kelam tenggelam
Sampai dimana geram terbenam
Anakku,
Pada setiap saf nafsumu,
Kupatrikan mantraku
Jauh,
Mencapai tepi
Melintas batas
Terbanglah tinggi, Anakku
Tinggi,
Sampai setara mantra
Sampai setinggi mimpi
Menyelamlah dalam, Anakku
Dalam,
Sampai dimana kelam tenggelam
Sampai dimana geram terbenam
Anakku,
Pada setiap saf nafsumu,
Kupatrikan mantraku
26.10.12
Satiman
Kira-kira 15 tahun lalu, aku diceraikan istriku. Kurasa ia tak terima dengan apa yang kulakukan padanya. Bukan karena kekerasan yang kulangsungkan, hanya keberlangsungan hidup layak yang tak dapat kujanjikan. Penghasilanku tak tetap, bahkan pekerjaanku saja berubah tiap saat, sesuai kebutuhan dan keadaan. Mau tak mau, aku angkat kaki dari rumah yang konon rumahku sendiri.
Begitulah kira-kira yang kualami kawan. Selebihnya, kalau kau ingin tahu, tatap muka saja denganku, nanti kuberitahu.
Ke Baturetno aku menuju, desa kecil tak begitu jauh dari rumahku. Kupikir ada harapan untuk tinggal di sana. Dengan sedikit sisa uang, sekantong perlengkapan, dan secuil penyesalan, aku berjalan kaki. Dengan sejumlah lelah, sampailah aku di Baturetno.
Tak banyak beda antara di kampungku tinggal dulu dan di sini. Mudahnya, sama-sama kampung. Sama-sama tak banyak gula untuk dikerubuti semut. Tak seperti yang kutahu tentang Jakarta, dan kota-kota semacamnya yang menjanjikan banyak impian. Bedanya dengan kampungku, aku tak perlu tiap hari bermandi maki berbasuh caci seperti yang biasa dilakukan istriku, padaku. Ada kedamaian di sini, ada kebebasan di sini, kebebasan dari tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, setidaknya.
Aku tak punya kawan di sini. Handai taulan, apalagi. Aku benar-benar sendiri. Menapakkan telapak kakiku pertama kali di sudut terminal yang bau pesing itu. Sambil duduk bersila di warung tenda, kupesan kopi tanpa gula, biar setara pahitnya dengan kehidupanku. Waktu itu, kira-kira sepuluh tahun dari sekarang.
Siang-malam, pagi-petang kujalani tanpa beban atas pencapaian harapan. Aku menjalani begitu saja. Sesekali memang masih aku menggerutu, tentang masa laluku, bersama istriku. Ah, sudahlah, tak perlu banyak kukenang. Kini dia bukan lagi istriku, dia janda kembang di kampungku yang sedang gandrung dengan juragan beras. Setidaknya, begitulah kabar dari kawanku yang tak sengaja kujumpa di deretan warung tenda di sudut terminal.
Kawan, kukenalkan diriku. Aku Satiman, umurku berapa aku tak ingat pastinya. Yang kuingat, ketika Gestapu ramai diberitakan, aku seumuran anak kelas 6 sekolah dasar. Aku duda tua tunawisma, tak rupawan, tanpa pekerjaan jelas, tanpa tujuan hidup yang bisa dideskripsikan. Kalaupun ada yang bisa kubanggakan, adalah tiga lingkar cincin akik di tanganku. Satu jari manis kiriku, dua lagi di jari tengah dan jari manis tangan kananku. Dulu kupikir, lumayanlah untuk modal tipu-tipu. Meski sekarang kutahu, tak ada hebat-hebatnya barang-barang itu. Aku tinggal di emperan toko beras di utara terminal. Tidur beralas adukan semen kering, berbantal tas kecil isi pakaian, selimutku bulu kakiku yang tak kalah hangat dibanding selimut dari wol. Aku tak punya kamar, kawan. Kamar kecil sekalipun. Kalau aku harus buang hajat, toilet umum di terminal itulah tujuanku. Khusus bagiku, toilet itu tak berbayar, kawan.
Aku tak bekerja, kalau tak ada yang meminta. Kerjaku tak menentu, pura-pura jadi peramal aku mau, memijat otot-otot kekar para supir yang kelelahan pun kuiyakan, jadi bandar judi roulette pun bisa. Ah, apa kubilang? Jadi bandar judi kubilang pekerjaan? Bagimu mungkin tak masuk akal, tapi bagiku memang demikian adanya. Mau bagaimana lagi. Tapi yang paling sering, dan sampai sekarang masih menjadi yang utama bagiku, adalah memijat. Tak ada fasilitas plus-plus pada pijat yang kutawarkan. Mana mungkin, pria tua brewokan sepertiku menyediakan fasilitas plus-plus untuk pelanggan. Mustahil, kawan.
Aku belum ceritakan caraku tetap hidup, kawan? Makanku tak seberapa, kawan. Kalau kebetulan aku ada uang untuk makan, kubelikan makanan. Kalau lagi tak ada, dan kebetulan ada yang berbaik hati memberiku makan, kuterima. Begitu seterusnya. Perkara sembako, nasibku tak sama dengan perkara tembakau. Perkara tembakau, aku selalu punya di tas kecilku, yang isinya tiga potong pakaian. Supir-supir yang kupijat, seringkali memberiku tembakau sebagai upah. Hidupku adalah perjalanan, kawan. Bukan pencapaian harapan, atau penyesalan kenangan. Sama sekali bukan. Aku menjalani hidupku begitu saja, tanpa mimpi, tanpa sakit hati, tanpa prasangka. Setidaknya, aku demikian usai diceraikan istriku.
Dulu aku pernah punya mimpi juga, kawan. Sama sepertimu. Aku pernah punya mimpi jadi penyair, kawan. Padahal aku tak pernah tahu siapa saja penyair yang kondang di era itu. Sama sekali tak tahu. Tapi memang itu mimpiku, dulu. Kutulis puisi panjang lebar setiap saat, keliling kampung mencari inspirasi, termenung di pematang sawah kali-kali ada yang bisa kutuangkan jadi puisi. Tapi kenyataannya, bukannya aku berhasil jadi penyair kondang, justru istriku minta cerai, kawan. Mimpi yang sama sekali meleset dengan kenyataan, kawan. Kini, bahkan aku pernah punya mimpi seperti itu saja, tak ada orang sekitarku yang tahu. Hanya kuceritakan ini padamu, kawan.
Sekarang ini, aku tak mau lagi bermimpi, kawan. Aku bosan tidur untuk menggapai mimpi. Aku lebih suka terjaga tanpa mimpi. Aku hanya menjalani apa yang kurasa mesti dijalankan. Melewati apa yang diperintahkan padaku untuk kulewati. Tanpa pernah kutahu kemana aku menuju. Bahkan di mana aku memulai, aku sudah lupa. Ingatanku lebih pendek dari perjalananku. Kawan, kenangan tinggal lebih jauh dari awal perjalanan. Begitupun harapan. Mungkin ia tinggal lebih jauh dari ujung jalan yang kita tempuh. Tapi tak jarang, mimpi hadir di pinggiran jalan, yang dengan mudah kita dapatkan. Mimpi, dan kemudahan mendapatkannya, kurasa sangat tergantung pada perjalanan seperti apa yang kaujalani. Untuk perjalanan yang kujalani, sampai akhirpun kurasa tak ada lagi mimpi yang bisa kudapatkan.
Untuk mimpi dan harapan di sepanjang perjalananmu, kusemogakan kaudapatkan, kawan.
14.10.12
Luruh Seluruh Nafsu Atasmu
Sebagai pria yang normal, menaruh ketertarikan pada wanita sudah barang tentu hal yang wajar. Sangat wajar kubilang. Untuk lebih dari tertarikpun, tentu tak kalah wajar. Begitupun aku, terhadapmu. Kurasa wajar kalau sampai aku tertarik padamu, bahkan ketika bagian abstrak dariku turut tertarik, wajar.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
Begitulah adaku, setidaknya kemarin. Sebelum aku tahu tentang mimpi-mimpimu, sebelum dataku cukup untuk menganalisismu, sebelum aku menemu apa maumu. Setelahnya, bisa jadi aku masih tertarik. Tapi situasinya tak demikian denganku. Setelah kutahu mimpimu, setelah data kurasa cukup untuk menganalisismu, setelah kutemukan maumu, luruh seluruh nafsu untuk bisa lebih berarti bagimu. Demikianlah adanya.
Lalu, tentang ketertarikan dan nafsu memaknai fenomenamu kemarin sore, kurasa tak luput dari tingkah yang kausuguhkan padaku. Dengan rapih kaususun menu-menu ciamik yang tak pernah gagal membuatku tertarik. Bagaimana tak menarik, gaya bicaramu saja legit, kalimatmu sedap, dan deret pertanyaan yang kau ajukan yang benar-benar memicuku berpikir yang bukan-bukan. Selalu seperti itu yang terjadi terhadapku, darimu. Berulang tiap sela waktu.
Dan kau tahu setelah keping-keping pertanyaan tentangmu mulai terjawab satu per satu? Luntur segala yang menarik tentangmu, di hadapku. Bukan semata sebab sakit hati atas tak sejalannya perkiraan dan kenyataan, pun pergeseran laku yang terjadi padamu, terhadapku. Memang kurasa aku punya andil salah juga. Bagaimana mungkin aku tak bersalah, kalau justru yang memicu jawaban-jawaban itu adalah pertanyaanku sendiri padamu? Tentu tak layak aku dibenarkan seutuhnya, dan kaupun hanya pantas dipersalahkan seperlunya.
Memang aku memulai saja belum. Mencecer pertanda padamu pun belum, sebab terlalu sibuk mencecar pertanyaan atas penasaranku, terhadapmu. Tapi kurasa kaupun perlu tahu, atau mungkin kau malah sudah tahu, alasanku mencecarmu mencecer tanda. Tentu kaitannya erat dengan apa yang tak tampak dariku, yang terucap mulutku, yang terpampang di mukaku. Cobalah kau jalankan logika, apalah perluku tahu banyak tentangmu, memulung datamu, menganalisismu kalau tak ada agenda lain di balik itu? Apa? Tentu aku ada perlu dengan itu bukan? Tak perlu kujawab, biar kutebak jawabmu.
Pada kenyataannya, entah kau tak tahu, tak mau tahu, atau merasa tak perlu tahu, kau tunjukkan gelagat seakan kau sepolos bocah enam tahun. Diagnosaku, mana mungkin demikian? Kau cukup makan asam garam, aku cukup lama menyelam. Kurasa perkara demikian, kau dan aku sudah sama tahu. Tak ada yang lebih tahu. Bedanya aku merasa perlu tahu, sedang kau tak mau tahu. Pantas saja tak ketemu.
Ah sudahlah, itu kejadian kemarin sore. Yang peka tentu merasa, yang jeli tentu mengerti. Tak perlu kulanjut ceritakan dini hari ini. Sudah basi kurasa. Tak enak lagi kusesap, tak lembut lagi kucerna. Pastinya, aku tahu di tiap semoga yang kauucapkan, ada namanya kausebutkan. Kutahu itu. Maka, atas bahagiamu, kusemogakan.
Yang tak lagi bernafsu padamu,
Wirananda.
12.10.12
Pangkal Pagi
Terjawab
Ratus tanya yang menganga
Runtuh ia sekejap mata
Saat pandangku menujunya,
di pangkal pagi
Di pangkal pagi,
Batal aku menuju siang
Urung aku menggapai petang
Tak perluku sampai pada malam
Cukup di sini, di pangkal pagi
Citra yang diterima netraku
Tak cukup buram
Terlalu jernih malah
Sampai apa yang di baliknya
Tampak nyata menganga
Demi siang, petang, dan malammu
Kurelakan milikku
Kucukupkan di sini,
Di pangkal pagi
Kata Belum Mampu
Di tiap tikungan sunyi di ujung malam
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
Kita beradu mengurai bahasa
Di tiap simpang sepi di pangkal pagi
Kita bersapa membagi salam
Di tiap perjumpaan
melupa perpisahan
mengutuki kerinduan, membiarkannya lalu
Di tiap perpisahan
malas akhiri perjumpaan
mencumbui kerinduan, sekalipun sampai layu
Pada tiap tenggat, selagi sempat\
Kucoba menyapa hangat
Semata memastikan kau dikepung selamat
Pada tiap potong waktu
Kuluangkan merangkai imaji tentangmu
Sembari merapal doa untukmu
Ah,
Percuma menata kata
mengurut kalimat
merunut alinea
meramu cerita
Kata belum mampu menggambarkan kamu
apalagi menceritakan kita
Subscribe to:
Posts (Atom)