29.9.12

Yang Terhomat Masa Lalu

Yang terhormat masa lalu,
Adakah gelapmu mampu kuterangi?
Kalau jawabmu ya,
Kucoba cari pemantik
Kurasa kilatannya pun cukup
untuk sekadar menerangi

Masa lalu, seberapa peduli kau padamu?
Seberapa ingin kau diterangi?
Kalau pun kubisa, kucoba

Bisakah aku?
Mana mungkin
Pada masaku yang belum tiba pun
tak kuyakin bisa
Apalagi padamu

Sedang kau masa lalu,
Kau bukan milikku,
Kau tak dalam genggamku,
Kau masa lalu......
nya

Ah, apalah peduliku padamu
Bagiku kekinian puanmu
jauh lebih pantas masuk hitungan

24.9.12

Untukmu, Malaikat dan Iblis Nyawiji

Di sana
Di pusaran riuh
Di pusat ribut
Aku bersila, mengatupkan kelopak mata
Meramu doa, merapal mantra

Di sana
Di ramuan doa
Di rapalan mantra
Kamu lenggangkan pinggang, melepas tegang
Meluruhkan yang kamu kenakan

Dan di hadapmu
Di depan pusarmu
Dua puluh delapan pria
Menawarkan dekapan
Menawarkan ketegangan
yang sebelumnya kamu lepaskan
Dua puluh delapan pria
Meramu bujuk
Merapal rayu
Berharap bisa membuatmu tegang
meregang
menggelinjang
meregang
menggelinjang
Terus menerus

Dan di sana
Di pusaran doa yang kuramu
Di pucuk mantra yang kurapal
Empat belas malaikat
Empat belas iblis
Nyawiji
Menghabisi
Dua puluh delapan pria
yang berharap bisa
membuatmu tegang
meregang
menggelinjang

Berhitung, Bertarung, Belum Bisa

Mungkin sejauh ini kamu merasa kamulah yang berdaya tarung tinggi. Kutegaskan, daya tarung, bukan daya juang. Meski dalam pertarungan kau juga perlu berjuang. Ah, itupun kalau tujuanmu menang.

Setelah kubilang sejauh ini, kurasa kamu mulai lupa sejak kapan kamu mengawali perjalanan sebagai petarung. Kurasa kamu mulai lupa seperti apa tak bertarung, bahkan mungkin lupa siapa kamu sebelum ditahbiskan sebagai petarung.

Memang kini, mau tak mau, dunia memintamu bersarung identitas petarung. Tapi pikirku, tak selamanya kamu ingin bertarung. Bagaimana mungkin kamu ingin terus bertarung kalau kamu tak pernah merasakan tak bertarung?

Coba kutanya, apa tujuanmu bertarung? Memenangkan pertarungan? Andai benar, apa tujuanmu menang? Mendapati gelar sebagai pemenang? Andai lagi-lagi benar, apa tujuanmu mendapati gelar? Cobalah tanyakan perihal gelarmu pada orang-orang yang tak menggeluti pertarungan. Kurasa mereka enggan untuk acuh, apalagi memuji, jauh.

Sudahlah, katamu rindu kedamaian. Tapi tak juga mau kamu berhenti bertarung. Hidup bukan tentang persaingan, bukan tentang pertarungan, bukan tentang kemenangan, apalagi gelar. Tak semua harus dipersaingkan, diperbutkan, dipertarungkan. Tak usahlah buru-buru beradu, bulatkan dulu perjuanganmu. Berjuang untuk apa? Kurasa inginmu untuk kebaikan. Tapi apakah kemenangan sepihak dalam pertarungan kauanggap kebaikan? Kalaupun benar baik, berapa yang menganggapnya tidak baik? Kurasa kamu bisa berhitung tentang itu. Kalau benar kamu bisa berhitung tentang itu, syukurlah. Sebab aku belum bisa.

Ember

Kemana saja kamu cari selama ini? Ke ujung-ujung ruang? Ke balik semak gemuk? Sudah kautemukan? Maka kurasa, sebelum kau temukan, perlu kautahu dulu untuk apa kaucari.

Kamu cari uang? Untuk apa? Ketahuilah dulu kemana akan kaubawa pergi uang-uang yang kau dapatkan kelak. Bagaimana bisa kau hanya berencana mencari? Tanpa merencanakan pula kemana kaubuang? Mana mungkin? Cobalah bayangkan andai seseorang merencanakan untuk memperkaya ilmu, tapi tak tahu kemana mesti menuangkan ilmunya. Tunggu, jangan repot dulu kaubayangkan. Biar aku saja.

Kini kubayangkan, mereka mencari ilmu kemanapun pergi, mengumpulkan sepotong demi sepotong sampai sebesar durian montong. Terus menumpuk sampai tak cukup tanganmu memeluk. Tapi kemana perginya, entah, tak mereka rencanakan sama sekali. Lalu jadi apa ilmu-ilmu itu? Usang? Mungkin? Stagnan tanpa perkembangan? Pasti.

Biar kucoba bandingkan dengan ember dan isinya. Kuibaratkan ember adalah mereka, kapasitas mereka, kemampuan mereka, daya tampung mereka. Sedang kuibaratkan air, yang menjadi isi dalam ember adalah ilmu, uang, popularitas, materi, dan sebangsanya. Kucoba tuangkan sedikit air pada ember, tentu muat. Kutuang terus menerus, sampai meluber tak beraturan. Tapi coba kubayangkan, andai tak kutuang dengan tujuan memenuhi ember, melainkan kulobangi sisi ember sebesar butir kedelai, kurasa tak perlu banyak air meluber tak beraturan. Justru ketika kutuangkan menerus, ember akan tetap penuh terisi air, tanpa meluberkan air, tapi menyalurkan air yang terarah.

Pun begitu dengan ilmu, uang dan materi-materi semacamnya, kurasa. Sebelum kau rencanakan menumpuk, rencanakan dulu membuang. Apalah arti menabung, menumpuk harta, memperpanjang digit angka, tapi sayang untuk membiarkannya keluar secara teratur demi kenikmatan. Apa? Apalah artinya?

Karena sudah kubayangkan tentang analoginya, kini giliranmu membayangkan bagian ini.

Sudah selesai kaubayangkan? Setidaknya yang kaubayangkan itu yang terlintas di benakku.

Sok Tahuku Tentangmu

"sedang jatuhkah kamu?"
"untuk apa jatuh, kalau terlalu tinggi tempatku, parah pula cideraku"
"sedang mencintai kah kamu?"
"mungkin, aku sendiri belum tahu."
"boleh kutahu, siapa yang sedang kamu cintai?"
"tak perlu pura-pura tak tahu, kalau kuboleh sok tahu tentang benakmu"
"maksudmu?"
"kurasa kamu merasa, kutahu kamu tahu, dalam kerangka sok tahuku."
"memangnya apa yang kupikirkan?"
"untuk apa kamu tanyakan? toh kamu sudah tahu."

Tempatmu Baris Tak Genap!

"jadi kamu mau kemana?"
"kemanapun aku, apa pedulimu?"
"setidaknya aku tahu"
"lantas setelah kamu tahu?"
"bisa kusesuaikan kemudian"
"untuk apa kamu menyesuaikan?"
"supaya sesuai saja"
"sesuai dengan...?"
"denganmu"
"aku?"
"ya, kamu"
"memangnya, kenapa aku?"
"tak perlu ada kenapa. jadi kamu mau kemana? jawab dulu"
"kemanapun, sesukaku."
"setidaknya, aku ingin tahu kamu akan lurus ke depan atau memutar balik?"
"antara keduanya."
"biarkan aku tahu."
"tak perlu pura-pura. kamu sudah tahu kemana aku menuju."
"aku tak tahu."
"masih kamu lanjutkan saja pura-pura."
"baiklah, aku mengaku pura-pura."
"ya sudah, jadi kamu sudah tahu kan?"
"ya"

Cangkemanku


Kurasa tak aktual lagi kalau cerita ini kutulis sekarang. Tapi apalah aktual di hadapanku kini, pada akhirnya kutulis juga sekarang. Bukan kemarin. Sebab memang tidak mungkin kutulis pada hari kemarin. Pikirmu aku punya mesin waktu?

Tahukah kamu, nona? Angan-anganku selalu mampir ke alam entah tiap kuputar lagu "for fiona" milik "no use for a name" ini. Maaf, kukoreksi, bukan ke alam entah anganku mampir. Kalau boleh kubilang, anganku selalu mampir pada saat-saat kita melewatkan waktu berdua. Sekali lagi kutegaskan, berdua, nona. Bukan bertiga, beempat, berpura-pura ataupun berandai-andai. Sekali lagi maaf, nona, tulisanku melenceng kemana-mana.

Untuk kamu ketahui, dalam lagu itu, Tony Sly sempat menuturkan kalimat "if i could freeze our small amount of time together" pada bait kedua. Memang tidak ada yang istimewa, kecuali kalau memang ada yang istimewa di dalamku, atau mungkin (semoga) di antaraku dan kamu. Entah zat macam apa yang meliputi anganku saat terlintas kalimat itu, tiba-tiba saja anganku turut beku, mengeras dan terlempar pada saat-saat di mana hanya adaku dan kamu, serta bincang di antaranya. Ah, andai saja. Bahkan Tony Sly pun juga bilang "andai saja" waktu bisa dibekukan. Untuk apa dibekukan? Agar aku dan kamu tetap terperangkap dalam momen kebersamaan, dan tak meluber kemana-mana sehingga tak seorang pun terpaksa tahu.

Ah, nona, lagi-lagi Tony Sly melantunkan kalimat-kalimat yang senada dengan yang terlintas di benakku. Coba kupetikkan kalimatnya untukmu, nona. "When it ends it begins with you...", entah apa "it" yang dimaksud Tony Sly dalam kalimat itu, nona. Bukan karena aku tak bisa membaca pikiran orang. Melainkan karena aku tak pandai memahami bahasa inggris, nona. Ah sudahlah, bukan di situ konsentrasinya. Pastinya, yang kurasa senada adalah aku sedang mengakhiri sesuatu, pun di lain belahan aku sedang memulai sesuatu. Apa kau sempat berpikir bahwa yang kumaksud memulai adalah denganmu, nona? Kalau benar demikian, maka kamu cukup cerdas dan tanggap dengan maksudku, nona. Kuharap memang demikian.

Nona, lagu yang dilantunkan Tony Sly sudah usai. Kurasa tak perlu keperpanjang juga tulisan ini, nona. Karena mungkin sekian saja sudah membuatmu mual. Bukan karena kamu sedang di dalam kapal yang mengarungi ombak malam, tapi karena mencoba memahami ketiadarunutan tulisanku ini. Semoga ketidaksengajaan membawamu membca pesan ini, nona. Selamat petang.

Kantuk di Pelupuk

Terantuk kantuk yang berdesakan di pelupuk

Pada embun yang menggelayut di ufuk matamu
Kau bertutur teratur
Tentang resah yang mulai luntur
Tentang risau yang mulai kendur

Pada butir-butir cair di kerut bibirmu
Mengalir alur lirik-lirik
Perlahan kau luruhkan
Beriring lirih merdu nada terpadu

Di ujung hari
Di sepisau sepi
dan sepotong mimpi

Ingat Apa yang Kauingat?

Kau ingat sekian tahun silam?
Sebelum waktu membeku,
Sebelum rasa mencair
meluber
meruah sejauh ruang

Kau ingat apa yang kau ingat waktu itu?
Ketika kau lihat muslihat
yang terus kulontarkan tanpa tenggat
Tapi tak jua terbesit hasrat
di ceruk hatimu untuk selintas melihat
apalagi mendekat

Kau ingat apa yang kau ingat sebelum terjerat?
Saat pikat kau bilang hangat
remang kau bilang temaram
rayu menjadi candu
bujuk menjadi cambuk

Entahlah, aku pun enggan mengingat
Biar ia menjadi padat
terikat
erat
pada masa lalu yang terlampau berat
untuk sekadar diingat

Melenceng Tanpa Sesal

Kurasa tak pantas disalahkan atasku
Tentang jalan-jalan yang kutapaki
Kendati melenceng dari rute awalku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Jalan-jalan tan gemerlap yang kujejaki
Derap demi derap yang kupijakkan
Pada jalan-jalan yang tak serapih
serunut
selurus
semulus rute awal pilihanku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Adamu sebagai pemberi navigasi
Meski tak kau genggam kemudi
Arahku senada tuturmu

Dan kurasa memang tak pantas kusesali
Kendati pun harus kujalani di ujung hari