28.5.12

Nona, Pandai Benar Kamu

Nona nan biasa saja
Apalah arti kosmetika
Tanpanya pun kamu tetap berestetika
Apalah arti eksotika
Tanpanya pun kamu tetap mengalapkan logika

Nona nan malu-malu
Pandai benar kamu menggodaku
Sekalipun tak pernah kamu mau bergincu
Kamu selalu menjadi candu

Nona,
Caramu mengangkat kedua ujung bibirmu
Selalu membuat kelu lidahku
Sampai-sampai aku tak pernah mampu
Sekadar untuk menyeru namamu

24.5.12

Tanpa Tuan, Tanpa Tuhan


Aku tertawan,
Dalam sebuah cawan
Tanpa seorangpun kawan
Seisinya lawan

Aku berpura-pura tertawa
Mengajak serta ragaku mengkhianati jiwa
Aku berpura-pura bahagia
Mengelabui rasa dengan logika

Bertahun-tahun aku tertawan
Menjadi budak tanpa tuan
Melawan kawan
Berkawan lawan
Memeluk kesunyian tanpa Tuhan

14.5.12

Kita Terlalu

Kadang kita terlalu berlebihan
Saat mencoba memulai
Juga ketika berniat mengakhiri

Kadang kita terlalu berlebihan
Saat mengangkat beban
Sekalipun bagi kita terlalu ringan

Kadang kita terlalu cemburu
Saat sedang memburu
Berpura-pura terjebak dalam haru
Padahal kita sudah lama tahu
Bahwa seperti ini bukanlah hal baru

Kadang kita terlalu buru-buru
Bahkan tak jarang sok tahu
Memalsukan hasrat yang menggebu
Dengan melafalkan "aku mencintaimu"

Pandai benar kita memanipulasi
Mengelabui esensi
Demi menjerat sensasi

Kita Bermain Kata

Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu tak bernyali
Saat bertatap muka
Apalagi saling memandang mata

Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu kaku
Saat berperan dalam cerita
Apalagi terlibat cinta

Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu malu
Saat mencoba melisankannya
Apalagi mementaskannya

Kita pandai dalam bermain kata,
Tapi seringkali terlalu bernafsu
Saat mencoba memulai cerita
Apalagi ketika kita jadi pemerannya

Semacam Deretan Pesan

Malam ini
Aku kehilangan kemampuan selain merindu
Aku pun kehilangan imaji
Selain kamu

Yang mampu kurasakan
Hanya semacam deretan pesan
Yang berusaha menyampaikan
Beberapa kalimat murahan
Tentang cerita yang belum terselesaikan

Ananira, Semata Hanya Kamu

Ananira,
Tidakkah kau dengar teriakku?
Bukankah benar yang kuteriakkan adalah namamu?

Ananira,
Adakah surga begitu kedap suara?
Sampai-sampai tak kau dengar teriakku

Aku merindukanmu, Ananira
Bahkan aku sempat kesulitan
Menggambarkan betapaku merindukanmu
Bahkan sangat kesulitan
Memilah kata yang tepat untuk menggambarkan
Kerinduanku, padamu

Ananira,
Aku tak mampu lagi mengingat
Berserinya raut mukamu
Aku tak mampu lagi mengingat
Apa yang pernah kulakukan bersamamu
Sebab yang mampu kuingat
Semata hanya kamu

Lelaki, yang Pertama Kali Kehilangan Nyali

Sekali waktu, boleh jadi kita pandai menggoda, pandai menyayangi, pandai mengagumi, bahkan pandai mencintai dengan tulus. Namun pada waktu yang lain, belum tentu kita pandai dalam menata keberanian. Ya, setidaknya keberanian mengucapkan kesan.

Bukan atas alasan yang rumit, aku, seorang lelaki, tak pandai mengungkapkan kesan yang kurasakan. Pun bukan untuk alasan yang sangat sederhana aku tak berani. Hanya saja, pengaruh diluar perhitungan kerap kali menjadi masalah setelah mengungkapkan. Lebih dari resiko paling sederhana dari perkara mengungkapkan rasa, setidaknya.

Bukan pula semata karena malu atau ragu yang membuatku tak seketika bernyali mengucapkan sensasi yang menggebu. Sebab bagiku, yang demikian bukanlah suatu yang mempermalukanku, bahkan merusak keyakinanku. Sama sekali tidak.

Ah, kurasa yang demikian tak cuma terjadi padaku. Banyak yang merasakan ini dengan alasan yang jauh lebih sederhana. Setidaknya, mereka bukan merasakan hal ini sebagai yang pertama. Tak sepertiku, dulu tak begini yang terjadi padaku.

10.5.12

Ternyata, Seperti Ini Rasanya

Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Bukan karenaku di dalam kulkas, ataupun terdampar di tengah badai salju. Hanya karena angin malam yang berhembus terlalu kencang, menurutku.

Aku menghadap ke belakang, menjadi saksi kendaraan yang melaju dengan kencang. Sekencang angin yang berhembus malam ini. Sinar lampu kendaraan lain mulai membuat mataku rabun. Bahkan nomor kendaraan di hadapku pun tak pernah bisa kubaca dengan jelas.

Kulitku mulai tampak pucat, entah benar pucat atau rabun mataku saja yang mulai tak ketulungan. Bibirku mulai bergetar mengikuti nafsu syaraf, seiring dengan hentakan-hentakan yang menggoyangkan tubuhku, naik-turun, ke kiri-ke kanan. Pakaianku terasa terlalu tipis untuk malam kukenakan malam ini. Padahal terasa begitu tebal siang tadi.

Wanita tua dan bocah laki-laki kecil di sampingku mulai memadukan nada dengkur. Kaki mereka membujur ke arahku menghadap. Mereka tampak lelah sekali, seakan sehari ini mereka mengelilingi Kalimantan dengan berjalan kaki.

Ternyata seperti ini rasanya, duduk bersandar di bak belakang pickup di malam hari menuju Bogor.

9.5.12

Nuwun, Gusti

Tuhan begitu sederhana membisikkan sesuatu
Begitu jelas mengabarkan sesuatu
Begitu melegakan
Sungguh, Tuhan Maha Keren

7.5.12

25 Tahun, Runyam


Besok aku bebas. Segala harapan dan kenangan berkecamuk mencambuk urat syaraf dalam tubuhku. Antara riang karena kubisa pulang dan bertemu anakku, pun ketakutanku jika nanti tak seorangpun yang mau menerimaku. Tak mudah mengubah persepsi orang tentangku.

Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilewatkan dalam pengasingan. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilewatkan dengan menyaksikan kekerasan setiap pagi. Pun bukan waktu yang singkat untuk dilewatkan tanpa anak dan istriku.

Entah sudah seperti apa anakku kini, dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Mungkin sekarang dia sudah kuliah pada satu perguruan tinggi ternama, atau mungkin ia sudah bekerja pada kantor yang nyaman, atau mungkin ia sudah tinggal serumah dengan teman hidupnya. Kalaupun ia sudah menikah, semoga ia menjadi suami yang baik. Bukan sepertiku. Ah, entahlah, toh ia juga sudah tak mau lagi bertemu denganku sejak saat itu.

Entah bagaimana istriku kini, masihkah dia cantik seperti saat kutinggalkan. Kurasa masih. Entahlah, apakah ia sudah membangun rumah tangga kembali bersama pria lain yang lebih baik. Atau malah, ah, aku tak berani membayangkan yang terlalu jauh dari kuasaku. Andai saja ia masih mau menerimaku kembali nanti. Ah, mana mungkin. Siapa yang mau menerima mantan narapidana sepertiku. Bahkan mungkin dia juga sudah lupa siapa aku.

Entah bagaimana keadaan ibu dan ayahku kini, masihkah mereka bugar? Entahlah, aku pun tak pernah berani menganggap diriku sebagai anak mereka. Terlalu memalukan sepertinya.

Pagi ini, aku masih bisa berteman kopi dan bermesraan dengan kretek. Tapi seminggu lagi, masih mungkinkah? Entahlah, setidaknya kalaupun aku tak lagi bisa menikmati kopi dan kretek, aku akan sangat bersyukur bisa melihat dunia. Terlalu lama aku terasing dari dunia nyata, dunia dimana aku bisa mendengar jerit anak-anak kecil yang berlarian. Dunia dimana aku dapat menyaksikan ratusan supir bus yang tampak ceria mengendarai senja.

“Jarwo, siapkan barang-barangmu. Besok kamu bebas.”

“Baik, pak. Sudah.”

Seorang petugas tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

Ah, sampai dimana tadi? Sampai dimana lamunanku? Sampai pada masa laluku yang kelam? Atau sampai pada masa depan cerah yang kudambakan?

“Jarwo, waktunya sarapan.”

“Aku menyusul saja lah, Tim.”

“Ayolah, ini sarapan terakhirmu di tempat ini bukan?”

“Ya. Baiklah.”

Kulepaskan kata terakhirku sambil tersenyum lega menyambut kebebasan yang dijanjikan padaku esok hari. Aku melangkah bersama Timo, kawan yang lebih lama mendekami tempat terkutuk ini daripadaku.

******************

Senja sudah pergi, udara dingin mulai menghampiri, aku pun masih duduk sendiri terpisah dari kawan-kawanku. Ilusi kegembiraan menyelinap diam-diam ke dalam kepalaku. Masih saja ia hadir dalam wujud yang sama dengan ilusi pagi tadi.

Dalam hening malam ini, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dengan halus dan perlahan. Aku enggan menengok, demi mempertahankan ilusiku.

“Sayang, sudah malam. Tidur dulu.”

“Ehmm, sedikit lagi, sayang.”

“Besok kamu mesti berangkat pagi ke kantor kan, sayang?”

“Iya, sayang.”

“Tidur dulu, sayang. Tidak ada deadline untuk ceritamu ini bukan?”

“Hmmm, iya. Baiklah, sayang.”

Ah, sampai dimana ceritaku? Kali ini benar-benar buyar ilusiku tentang penjara dan kebebasan yang dijanjikan esok pagi. Sampai dimana Jarwo dan Timothy? Ah, ya sudah lah. Lebih baik aku tidur, toh aku juga sudah begitu merindukan pelukan istriku. Selalu ada yang menyenangkan di malam seperti sekarang ini bersama istriku. Mungkin lebih dari sekadar pelukan dan kecupan.

Sudahlah, kuakhiri cerita ini.

5.5.12

Andai Ia Wanita



Hans masih bertahan di bangku depan kedai kopi. Menghadap secangkir kopinya sambil menghirup-hirup aroma kopinya. Masih hangat, tampak dari uap yang keluar dari cangkir kopi Hans. Masih utuh, sebab hanya uapnya saja yang sudah dinikmatinya. Setiap kepulan membawanya semakin jauh dalam lamunannya tentang Diana. Semakin dalam ia menghirup aroma kopinya, semakin dalam kelarutannya dalam bayangan tentang Diana, kekasih yang sudah 5 tahun meninggalkannya.

“Seandainya hatimu adalah hadiah terindah yang bisa kau beri, aku tak akan menerimanya. Aku hanya menginginkanmu. Ya, kamu. bukan hatimu, Ana.” Masih jelas sekali apa yang pernah diucapkannya pada Diana sambil terisak dalam emosi yang berwarna-warni. Cinta, rindu, kesedihan, dan harapan.

“Andai aku bisa. Pasti aku berikan hadiah yang kamu mau. Andai aku bisa.”

“Apa kuperlu mengajarkanmu agar kau bisa?”

“Untuk apa? Hanya supaya kamu dapat hadiah yang kau harapkan? Hanya untuk menikmati hadiah itu, kemudian memasukkaannya ke dalam kardus kala hadiah itu sudah usang?”

Dengan sejuta emosi karena ekspektasi yang tidak terlampaui, Hans terdiam menunduk di hadapan Diana. Mengangkat kembali dagunya, menghadakan mukanya penuh harap pada Diana.

“Kamu bukan hanya akan menjadi hadiah bagiku, Ana.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin kamu menjadi pencetak hadiah bagiku, dan tentu bagimu juga. Mencipta hadiah-hadiah kecil yang akan kita kembangkan bersama. Ya, semakin besar lagi hadiah-hadiah kita itu sampai nantinya mereka saling menjadikan hadiah satu sama lainnya. Aku ingin itu. Bersamamu, Diana.”

“Andai kamu tahu yang sebenarnya, Hans. Andai kamu benar-benar tahu bagaimana, siapa, apa dan mengapa aku disini bersamamu, kuyakin kamu tak akan mengatakan itu padaku.”

“Diana….”

“Sudahlah, Hans.”

Kopi di hadapan Hans sama sekali belum berkurang. Masih tetap utuh, meski tak lagi beruap. Sebab uapnya telah habis dihirup penuh nafsu oleh Hans.
Semakin lesu, semakin kosong pandangnya, semakin dalam sedihnya, semakin membiru otot-otot tangannya. Ia mulai meneguk kopinya yang sudah dingin. Sangat cepat. lebih cepat dari waktu yang dihabiskannya untuk sekadar menghirup uap-uap kopinya.

“Andai dia wanita”

Kemudian Hans beranjak dari tempat duduknya. Berkendara menuju makam Diana di belakang rumahnya. Pria berperilaku dan berperangai wanita, yang sudah seminggu dihabisinya. Yang dulu dicintainya, diharapkan menjadi hadiah baginya.