Kapan lagi kita berbincang sampai larut?
Sambil memecah keheningan di teras rumahmu
Bukankah kamu pun masih ingat, Ananira
Saat rindu tak pernah mau hadir
Karena ia begitu malu pada kita
Apa kabarmu di surga, Ananira?
Semoga baik-baik saja,
Bukankah Tuhan tiada pernah memiliki kemustahilan?
Bagaimana keadaan surga saat ini, Ananira?
Adakah hangat sebagaimana pelukanku disana?
Kurasa ya,
Bukankah Tuhan menyampaikan pelukanku padamu, Ananira?
Ananira,
Bukankah darahku tetap mengalir di nadimu?
Sebab degupmu pun masih setia di jantungku
Ananira,
Bukankah aku tetap menjadi melodi dalam tiap senandungmu?
Sebab kau pun tetap menjadi tokoh utama dalam ceritaku
Ananira,
Kutahu pergimu sekadar alasan untuk dapat merinduku
Sama sekali bukan untuk meninggalkanku
Bukan benar begitu?
27.4.12
Memangnya Aku Peduli?
Apa tah ia yang merintangi,
Memangnya aku peduli?
Apalah ia yang tak bosan menerpakan pedih,
Memangnya aku rentan pada perih?
Sama sekali tidak
Tak peduli lah seberapa debu di hadapku,
Tak acuhlah seberapa tebal kabut menutupi mimpiku,
Adakah aku tak pantas memegang harap?
Meski aku sesekali terpaksa merangkak
Memangnya aku peduli?
Apalah ia yang tak bosan menerpakan pedih,
Memangnya aku rentan pada perih?
Sama sekali tidak
Tak peduli lah seberapa debu di hadapku,
Tak acuhlah seberapa tebal kabut menutupi mimpiku,
Adakah aku tak pantas memegang harap?
Meski aku sesekali terpaksa merangkak
Entah
Entah akan cerah atau cenderung gerah,
Tiada lah daya kupunya kecuali pasrah
Pun menjaga agar hati senantiasa merendah
Apalah kumampu?
Bahkan tahupun tak tertoreh padaku
Tinggal sedikit nafsu dan gerutu,
Tanpa sedikitpun mau berjibaku
Apalah kupunya?
Bahkan tak sedikitpun kubisa
Tinggal sedikit asa yang berkecamuk di antara
Rasa dan logika
Apalah bisa kuagungkan kecuali kesetiaan Tuhan?
Bahkan nalarpun tak lagi bisa kuandalkan
Meski rasa masih tetap bertahan
Tiada lah daya kupunya kecuali pasrah
Pun menjaga agar hati senantiasa merendah
Apalah kumampu?
Bahkan tahupun tak tertoreh padaku
Tinggal sedikit nafsu dan gerutu,
Tanpa sedikitpun mau berjibaku
Apalah kupunya?
Bahkan tak sedikitpun kubisa
Tinggal sedikit asa yang berkecamuk di antara
Rasa dan logika
Apalah bisa kuagungkan kecuali kesetiaan Tuhan?
Bahkan nalarpun tak lagi bisa kuandalkan
Meski rasa masih tetap bertahan
20.4.12
Angkot, Mohon Dimaklumi
Angkot, alat transportasi massa yang terbilang murah dan ada kapanpun kita mau. Sebuah terobosan di masa lalu yang sampai saat ini pun masih terasa efeknya. Entah siapa yang pertama kali mempersingkat sebutan “angkutan kota” menjadi “angkot” sebagaimana yang sering kita ucapkan saat ini.
Berbagai proyeksi fenomena akan muncul sesaat setelah seseorang berkata “angkot!”. Banyak dan beragam tergantung sejauh mana kita memahami fenomena tentang angkot. Mulai benci, kotor, ngawur, kebut-kebutan, sesak, masyarakat dan sebagainya muncul dalam benak kita.
Angkot, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya sampai sekarang masih tetap survive. Tetap menjadi sesuatu yang menyesaki ibukota, tetap setia mengantarkan sejumlah masyarakat ke tempat mengais nafkah, tetap menjadi ikon sebuah kota (sebab namanya saja angkutan kota), dan tetap saja, mau tidak mau, kita menyapanya setiap hari.
Angkot, seringkali identik dengan kata ugal-ugalan, berhenti sembarangan, tidak terawat, tidak taat lalu lintas, pusat terarahnya umpatan saat berlalu lintas, dan segenap kekurangan lainnya. Sebab memang itu yang seringkali muncul pada diri angkot saat kita berkendara. Jarang sekali kita temukan angkot yang bersih, nyaman, dan taat lalu lintas. Memang seperti itulah kekurangan angkot.
Di ujung-ujung jalan, di sudut-sudut persimpangan, dan di depan pusat-pusat kerumunan masyarakat seringkali kita jumpai angkot ngetem di pinggir jalan, bahkan sering juga tidak di pinggir jalan. Di terminal, supir-supir berteriakan menawarkan jasa menuju tempat-tempat tertentu, sesuai izin trayek yang dimilikinya. Di warung-warung kopi, seringkali angkot menyempatkan berhenti, sekadar memenuhi nafsunya akan kebutuhan asap pengemudinya. Setiap kali terjadi penumpukan kendaraan, angkot tidak rela menghabiskan waktunya untuk antre di belakang kendaraan lain. Jalur lawan pun menjadi halal untuk dilalui, lengkap dengan segenap resikonya. Saat berkejaran dengan angkot lain yang searah, seakan-akan jalan umum jadi sirkuit bagi mereka, para supir angkot. Bunyi klakson yang beriring knalpot berdebu pun tidak lepas dari peredaran angkot. Ujung jalan menjadi tempat ngetem sudah biasa, bahkan lingkungan sekitar pasar pun tentu tidak bisa lepas dari angkot.
Ya, seperti itulah tadi sederet kekurangan angkot yang seringkali kita temukan di jalanan. Bahkan saat berlalu lintas pun tidak jarang sebagian dari kita melontarkan umpatan pada supir angkot, saking ngaco-nya si supir di jalanan.
Meski begitu, bukankah tetap ada sisi baik dari angkot? Meski mungkin tidak sebanding dengan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Bukankah supir angkot adalah gambaran rakyat yang sangat patuh? Bukan patuh terhadap peraturan, melainkan pada penumpangnya. Setiap kali kita bilang “kiri, bang!” dengan sigap si supir pastilah menghentikan angkotnya. Setidaknya tindakan ini sebagai simbol pelayanan jasa yang maksimum tehadap konsumen. Adakah pelayanan semulia ini kita temukan di angkutan yang lebih “berkelas” seperti pesawat dan kereta api? Adakah pelayanan semulia ini kita temukan pada penyedia jenis jasa lainnya? Telekomunikasi misalnya? Boro-boro memberikan pelayanan maksimum, seringkali promosi yang ditawarkan malah tidak sebanding dengan apa yang kita nikmati. Masih ada kelebihan lain dari angkot yang seringkali lepas dari alam sadar kita. Bukankah nyali supir-supir angkot bisa dibilang lebih dari supir kendaraan lainnya? Dengan menerobos lampu merah, bukankah sudah sekaligus dia mengantongi dua resiko? Ditilang pihak berwajib dan bertumbukan dengan kendaraan lain. Dengan mengambil jalur lawan saat terjadi kemacetan, bukankah sudah ibarat menggadaikan nyawa?
Ya, sekian kelebihan dan kekurangan angkot. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki angkot, sudah sepantasnya kita berterima kasih pada angkot. Seperti apapun kondisinya, seringkali langkah kita dipermulus dalam menempuh tempat kerja. Salam.
Angkot, seringkali identik dengan kata ugal-ugalan, berhenti sembarangan, tidak terawat, tidak taat lalu lintas, pusat terarahnya umpatan saat berlalu lintas, dan segenap kekurangan lainnya. Sebab memang itu yang seringkali muncul pada diri angkot saat kita berkendara. Jarang sekali kita temukan angkot yang bersih, nyaman, dan taat lalu lintas. Memang seperti itulah kekurangan angkot.
Di ujung-ujung jalan, di sudut-sudut persimpangan, dan di depan pusat-pusat kerumunan masyarakat seringkali kita jumpai angkot ngetem di pinggir jalan, bahkan sering juga tidak di pinggir jalan. Di terminal, supir-supir berteriakan menawarkan jasa menuju tempat-tempat tertentu, sesuai izin trayek yang dimilikinya. Di warung-warung kopi, seringkali angkot menyempatkan berhenti, sekadar memenuhi nafsunya akan kebutuhan asap pengemudinya. Setiap kali terjadi penumpukan kendaraan, angkot tidak rela menghabiskan waktunya untuk antre di belakang kendaraan lain. Jalur lawan pun menjadi halal untuk dilalui, lengkap dengan segenap resikonya. Saat berkejaran dengan angkot lain yang searah, seakan-akan jalan umum jadi sirkuit bagi mereka, para supir angkot. Bunyi klakson yang beriring knalpot berdebu pun tidak lepas dari peredaran angkot. Ujung jalan menjadi tempat ngetem sudah biasa, bahkan lingkungan sekitar pasar pun tentu tidak bisa lepas dari angkot.
Ya, seperti itulah tadi sederet kekurangan angkot yang seringkali kita temukan di jalanan. Bahkan saat berlalu lintas pun tidak jarang sebagian dari kita melontarkan umpatan pada supir angkot, saking ngaco-nya si supir di jalanan.
Meski begitu, bukankah tetap ada sisi baik dari angkot? Meski mungkin tidak sebanding dengan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Bukankah supir angkot adalah gambaran rakyat yang sangat patuh? Bukan patuh terhadap peraturan, melainkan pada penumpangnya. Setiap kali kita bilang “kiri, bang!” dengan sigap si supir pastilah menghentikan angkotnya. Setidaknya tindakan ini sebagai simbol pelayanan jasa yang maksimum tehadap konsumen. Adakah pelayanan semulia ini kita temukan di angkutan yang lebih “berkelas” seperti pesawat dan kereta api? Adakah pelayanan semulia ini kita temukan pada penyedia jenis jasa lainnya? Telekomunikasi misalnya? Boro-boro memberikan pelayanan maksimum, seringkali promosi yang ditawarkan malah tidak sebanding dengan apa yang kita nikmati. Masih ada kelebihan lain dari angkot yang seringkali lepas dari alam sadar kita. Bukankah nyali supir-supir angkot bisa dibilang lebih dari supir kendaraan lainnya? Dengan menerobos lampu merah, bukankah sudah sekaligus dia mengantongi dua resiko? Ditilang pihak berwajib dan bertumbukan dengan kendaraan lain. Dengan mengambil jalur lawan saat terjadi kemacetan, bukankah sudah ibarat menggadaikan nyawa?
Ya, sekian kelebihan dan kekurangan angkot. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki angkot, sudah sepantasnya kita berterima kasih pada angkot. Seperti apapun kondisinya, seringkali langkah kita dipermulus dalam menempuh tempat kerja. Salam.
Melayani, Belum Tentu Menikmati
Menemani saudara ke mal membuat saya mempertanyakan sesuatu yang jarang dibahas. Saya tergelitik dengan keberadaan karyawan beberapa merk dagang yang terkenal butuh rupiah yang tidak sedikit untuk menebus produk yang dijual di dalamnya.
Saya ambil contoh merk dagang yang menjual atribut olahraga surfing dan skateboard. Mahal benar barang-barang yang dijual di dalamnya. Yang menggelitik saya, pernahkah karyawan toko itu pernah membeli baju di toko itu sendiri? Menurut saya belum tentu. Bukannya merendahkan kemampuan finansial seorang karyawan toko, tapi berapa sih uang penghasilan karyawan toko dalam sebulan? Mungkin besarnya sama dengan sebuah produk yang ada di dalamnya. Asumsinya, ada produk di toko itu yang dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah.
Nah, pernahkah karyawan toko itu membeli produk dari toko yang dipromosikan olehnya? Ya, kalaupun pernah mungkin item yang dibeli bukanlah item dengan banderol harga yang tinggi. Betapa manusia dihargai begitu rendah di negeri ini? Sampai-sampai harga keringat manusia selama sebulan disetarakan dengan harga sebuah barang. Bahkan tak jarang, lebih rendah dari harga barang.
Sebenarnya kalau diperhatikan, kerja karyawan toko itu bisa lebih berat dari kerja tukang ojek. Meskipun, lingkungan kerjanya lebih nyaman. Bayangkan, berdiri di depan pintu masuk toko sambil terus menerus menyapa siapapun yang lewat dengan berkata ’silakan, ada promo spesial dari kami untuk produk X dengan diskon sekian persen’. Tidak boleh duduk dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hmmmm. Upacara peringatan HUT RI saja banyak yang mengeluh. Padahal hanya berdiri berapa menit lamanya. Paling lama 2 jam.
Di luar soal karyawan toko, ada sesuatuyang juga menarik. Pernahkah seorang juru masak atau pelayan di sebuah restoran menikmati makanan yang tertera dalam daftar menu makan dan minum di tempat bekerjanya? Jangankan untuk makan sebagian dari daftar menu, untuk sebentar menikmati gerakan lahapnya pengunjung pun seringkali terlewatkan oleh mereka (jika pada kondisi pengunjung berlebih).
Sebenarnya yang lebih parah adalah tenaga pabrik produsen kendaraan bermotor. Produknya dijual puluhan juta, tenaga kerjanya tidak mendapatkan setengah saja dari harga jual produknya. Nah, kepada pembaca yang budiman kalau anda menemukan fenomena ‘pelayan toko kurang ramah’, ‘pelayan restoran kurang lexat dipandang’ ataupun fenomena lain yang berkaitan dengan karyawan mohon dimaklumi.
Ya, bolehlah kita bilang ini tugas mereka. Tapi seperti apapun tugasnya, pasti ada puncak stress juga kan kalau tugas yang harus dikerjakan berlebih? Seperti berdiri tanpa duduk sama sekali di depan pintu masuk toko selama berjam-jam, atau bergelut dengan pemanas dan kompor tanpa sempat menikmati es teh manis untuk sejenak.
Saya ambil contoh merk dagang yang menjual atribut olahraga surfing dan skateboard. Mahal benar barang-barang yang dijual di dalamnya. Yang menggelitik saya, pernahkah karyawan toko itu pernah membeli baju di toko itu sendiri? Menurut saya belum tentu. Bukannya merendahkan kemampuan finansial seorang karyawan toko, tapi berapa sih uang penghasilan karyawan toko dalam sebulan? Mungkin besarnya sama dengan sebuah produk yang ada di dalamnya. Asumsinya, ada produk di toko itu yang dibanderol dengan harga di atas 1 juta rupiah.
Nah, pernahkah karyawan toko itu membeli produk dari toko yang dipromosikan olehnya? Ya, kalaupun pernah mungkin item yang dibeli bukanlah item dengan banderol harga yang tinggi. Betapa manusia dihargai begitu rendah di negeri ini? Sampai-sampai harga keringat manusia selama sebulan disetarakan dengan harga sebuah barang. Bahkan tak jarang, lebih rendah dari harga barang.
Sebenarnya kalau diperhatikan, kerja karyawan toko itu bisa lebih berat dari kerja tukang ojek. Meskipun, lingkungan kerjanya lebih nyaman. Bayangkan, berdiri di depan pintu masuk toko sambil terus menerus menyapa siapapun yang lewat dengan berkata ’silakan, ada promo spesial dari kami untuk produk X dengan diskon sekian persen’. Tidak boleh duduk dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore. Hmmmm. Upacara peringatan HUT RI saja banyak yang mengeluh. Padahal hanya berdiri berapa menit lamanya. Paling lama 2 jam.
Di luar soal karyawan toko, ada sesuatuyang juga menarik. Pernahkah seorang juru masak atau pelayan di sebuah restoran menikmati makanan yang tertera dalam daftar menu makan dan minum di tempat bekerjanya? Jangankan untuk makan sebagian dari daftar menu, untuk sebentar menikmati gerakan lahapnya pengunjung pun seringkali terlewatkan oleh mereka (jika pada kondisi pengunjung berlebih).
Sebenarnya yang lebih parah adalah tenaga pabrik produsen kendaraan bermotor. Produknya dijual puluhan juta, tenaga kerjanya tidak mendapatkan setengah saja dari harga jual produknya. Nah, kepada pembaca yang budiman kalau anda menemukan fenomena ‘pelayan toko kurang ramah’, ‘pelayan restoran kurang lexat dipandang’ ataupun fenomena lain yang berkaitan dengan karyawan mohon dimaklumi.
Ya, bolehlah kita bilang ini tugas mereka. Tapi seperti apapun tugasnya, pasti ada puncak stress juga kan kalau tugas yang harus dikerjakan berlebih? Seperti berdiri tanpa duduk sama sekali di depan pintu masuk toko selama berjam-jam, atau bergelut dengan pemanas dan kompor tanpa sempat menikmati es teh manis untuk sejenak.
Subscribe to:
Comments (Atom)