18.4.14

Surat Untuk Nona yang Aku Suka Sekali (2)

Nona manis yang aku suka sekali, aku punya sedikit tawaran buatmu. Mungkin akan sedikit berbusa-busa, seperti yang biasa kamu temui dari salesman berbagai produk. Semoga kamu tak keberatan. Langsung saja kumulai, nona.

Aku bukan pria pemberani, bukan pula pria dengan dada bidang dan lengan berisi. Aku bukan pria yang pandai membahagiakan perempuan dengan jutaan kata dan sikap manis. Aku pria penakut, pengecut. Aku pria biasa saja yang tak pandai merayu wanita. Apalagi wanita sepertimu, tak mungkin termakan rayuku, melirik saja mungkin kamu malas.

Tapi kalau kamu masih punya sedikit tenaga untuk percaya padaku, aku punya sedikit waktu untuk mempertunjukkan bahwa aku tak pernah bercanda dalam mencintaimu.

Aku tahu kamu tak akan kenyang makan cinta dariku. Tak akan bisa membayar cicilan rumah dengan cinta dariku. Tak mungkin bisa membelikan baju bagus untuk anakmu kelak dengan modal cinta seperti ini. Tapi semoga kau sudah tahu, dengan ini aku siap menyisakan waktuku untuk kamu dan anakmu kelak. Siap menabung tenaga untuk bisa bermesra dengan kamu dan anakmu kelak sepulangku kerja.

Kerjaku biasa saja. Tak banyak upah yang kudapatkan dari pekerjaanku. Kalau dibandingkan denganmu, mungkin tak imbang. Tapi kalau kamu bisa merasa cukup dengan upah kerjaku ini, aku akan berusaha mencukup-cukupkan ini untuk menafkahi kamu dan anakmu kelak. Kalaupun tidak, tak jadi soal buatku. Aku sadar betul, kamu harus realistis. Realistis dengan masa depanmu, realistis dengan kelangsungan hidup anakmu, realistis dengan kesehatanmu, jasmani dan rohani.

Apa iya modalku cuma cinta? Mungkin kamu tak percaya, tak apa. Aku juga tak percaya. Tak mungkin modalku cuma cinta. Apalagi demi wanita sepertimu. Tentu mustahil.

Mungkin selain cinta, aku bisa menawarkan setia. Itu kalau kamu percaya. Kalaupun tak percaya, tak apa. Apapun yang tak tampak memang seringkali sulit dipercaya. Aku tahu itu. Bahkan, konon, pada keberadaan Tuhan saja ada yang tak percaya, tak apa juga. Begitu saja, tak perlu kuperluas bahasannya. Kamu tentu juga sudah bisa mengira bagaimana kalimat berikutnya, andai itu kuteruskan.

Sudah, itu saja yang kupunya? Itu saja yang kubisa? Itu saja yang kutawarkan? Kalau kujawab "ya" mungkin kamu tak akan percaya. Karena memang bukan cuma itu yang kutawarkan. Tapi memang, cuma itu saja yang kurasa perlu kusampaikan lewat pesan ini. Untuk yang lain, aku bisa menjelaskannya lebih lanjut padamu kelak kalau kita bertemu. Di manapun pertemuan itu, kereta, bus kota, pasar, atau bahkan di mimpi sekalipun. Ah, kamu tahu yang terakhir ini tentu tak mungkin. Aku bukan orang suci yang bisa bertemu dan berdialog dengan orang lain lewat mimpi. Seperti yang dilakukan Kalijaga dan Khidr suatu kali.

Nona manis yang aku suka sekali, kalau kamu mau menyisihkan waktu dan tenaga untuk mempercayaiku, aku akan senang sekali. Terlebih kalau kamu juga mau meluangkan kesempatan pada segala keterbatasanku ini untuk beraksi. Tentu aku bahagia. Kurasa kamu juga tahu bahwa aku tak akan mungkin melewatkan kesempatan itu dengan sia-sia. Tapi begitulah, semua itu mempersyaratkan keberkenananmu. Kalau kebetulan kamu tidak berkenan, tak apa. Aku bisa mengerti alasanmu.

Kalau kamu sempat membaca pesanku sampai bagian ini, aku sangat berterimakasih. Kalau tidak sampai bagian ini, tidak apa-apa juga. Aku mengerti kamu sibuk. Tidak banyak waktu yang bisa kamu luangkan untuk hal-hal tanpa tujuan jelas seperti pesanku ini.

Sampai bertemu lain waktu, nona manis.

16.4.14

Dialog Imajiner: Suatu Siang di Jakarta

"Le, apa kamu ndak ingin begini begitu?"
"Ya pasti ingin lah. Tapi siapalah saya berani berharap sejauh itu?"
"Lho, ya jangan pesimis begitu to."
"Bukan pesimis. Cuma realistis. Optimis yang melihat sekitar. Bukan waton nggebrus."
"Kamu kan begini, begitu, bisa ini, bisa itu."
"Ya, tapi apa dengan begitu lantas saya jadi punya hak untuk berharap yang tinggi-tinggi? Kan ndak."
"Kalau saya jadi kamu, saya pasti akan begini begitu, membeginikan anu, membegitukan anu."
"Ya, mungkin sampeyan memang mampu untuk itu. Saya belum."
"Ah, ya sudah lah, Le. Semoga kamu begini begitu ya."
"Terima kasih. Semoga Tuhan mendengar dan bersedia mengabulkan."

Suatu siang di Jakarta.

15.4.14

Katakan

Katakan,
Kalau memang kau bosan kurindukan
Biar aku belajar cara merelakan kepergian

Katakan,
Kalau memang kau bosan kucintai
Biar aku belajar cara menanam benci

Dan katakan,
Kalau memang kau tak tahu cara mencintaiku
Biar kuajarkan padamu cara melenyapkanku

Untuk melenyapkanku,
Kau cuma perlu mengatakan
"Aku bosan kaurindukan"
"Aku bosan kaucintai"
Kepadaku

Takut Mendoakanmu

Tuhan, aku tak berani minta banyak-banyak
Aku terlampau buruk untuk minta banyak-banyak
Pada-Mu

Mendoakannya? Tentu juga tak berani
Takut kalau nanti yang Kau berikan padanya justru
Kebalikan dari doa-doaku

Aku cuma berani turut mengamini doa-doanya
Pun doa-doa baik dari mereka yang mencintainya

Untuk segala kebaikan yang didoakan untuknya,
Amin....