21.12.13

Secangkir Kopi dan Fragmen Kebahagiaan

Kopi yang cuma secangkir ini setia menungguku bangun dari lamun. Secangkir kopi yang memegang harapan untuk bisa masuk dalam tubuhku, lalu berkumpul dengan kopi-kopi lain yang sudah lebih dulu singgah di lambungku. Lamunku tak demikian, mereka liar berkejaran, tak punya harapan, tak pula kepastian. Tujuan mereka saja yang tentu, menujumu.

Aku belum bisa melepaskan diri dari lamunan tentangmu, tentang kita, tentang yang di antara kita. Selalu saja seputar itu, tak jauh-jauh dari situ, darimu. Mulai dari kakimu yang kaugoyang-goyang dan sesekali menyentuh ujung sepatuku waktu kita makan di warung tenda belakang kantormu, jemarimu yang suka usil memainkan apapun yang ada di hadapanmu, senyummu yang kemayu, dan mata yang tak pernah bisa menipu bahwa kau bahagia bersamaku. Itu-itu saja yang berkeliaran di kepalaku.

Aku tak bisa menipu, akupun bahagia denganmu. Itulah mengapa aku tak pernah punya alasan untuk tak cemburu ketika melihatmu pulang bersama karibku, yang enam tahun lalu resmi jadi suamimu. Tapi akupun tak punya kuasa menghalangimu pulang bersamanya. Bagaimana mungkin, Danesh, putra tunggalmu, tentu perlu asupan kasih sayang ibu.

Begitulah, perempuanku. Itulah mengapa kubilang lamunanku liar, tak punya harapan, tak pula kepastian. Sebab memang tak ada harapan di sana, di lamunanku, apalagi kepastian.

**

Kurangkai puisi, kubersenandung
Berjubahkan sendu merindu
Berserah diri rela terbelenggu
Aura indahmu menerjangku

Kudengar Dialog Dini Hari melantunkan lagunya. Terdengar jelas menelusur telingaku, tapi tak begitu keras, tak sampai membuatku telingaku panas. Seiringnya, nafasku mulai mengembuskan namamu, sama jelasnya, sama tak kerasnya dengan lagu yang kudengar dari pemutar musikku. Pemutar musik hadiah ulangtahunku darimu, yang waktu itu membuatmu sedikit bermasalah dengan Haryo, suamimu. Entah benar tidaknya, seingatku begitu kau ceritakan padaku.

Natasya, seperti lirik lagu yang melintas ini, aku berjubahkan sendu, terbelenggu aura indahmu. Makin aku mencoba lepas dari ikatan, malah aku makin erat terikat. Padamu, pada segala yang kulewati denganmu, pada pinggiran cangkir yang menyisakan bekas bibirmu, pada keringatmu, pada nafasmu yang terurai usai kulumat bibirmu. Tapi seperti kutuliskan tadi, aku berjubahkan sendu, mengingatmu. Bagaimana tak sendu, bibirmu secara de jure milik suamimu, keringatmu sah secara hukum milik suamimu, nafasmu tentu juga begitu, meski mungkin cintamu secara de facto milikku.

***

Maafkan aku. Aku waktu itu terlalu lama berpikir, sampai tak sempat sowan ke Bapakmu. Padahal dengan sowan kepadanya, saat ini ceritanya bisa saja berbeda. Bisa jadi kau tak perlu bercerai dengan Haryo. Bisa saja Danesh, jagoan kecilmu itu, lebih bahagia. Atau setidaknya tak perlu kehilangan cerita tentang rumah tangga yang bahagia.

Kau sudah tahu, aku memang tak pernah tidak mencintaimu, bahkan ketika aku hadir di pernikahanmu dengan Haryo, dulu. Juga ketika mendengar suaramu yang bercerita Danesh mulai bisa menyuarakan nama ayahnya.

Aku selalu kasihan melihatmu. Bagaimana tidak, tentu kau menguras tenaga untuk bisa membagi cinta untuk Haryo dan Danesh di rumah, dan menyisakan sedikit untukku di sini. Aku tak terbayang betapa enam tahun terakhir begitu berat bagimu. Terlebih ketika kau harus mengambil keputusan untuk mengakhiri rumahtanggamu. Aku yakin sangat berat, aku yakin begitu menguras keringat. Dan yang lebih berat, kau melakukan semua itu hanya untuk bisa disahkan menjadi pasanganku. Hanya untuk bisa diakui di mata hukum bahwa kau milikku.

****

Natasya yang manis, aku tak bisa lebih bahagia dari saat ini. Bersamamu, Danesh, dan janin yang sedang berdzikir di dalam rahimmu. Sungguh, aku pria yang bahagia. Sekarang, institusi apapun di manapun mengakui keterikatanku denganmu. Kita bukan lagi pasangan yang dianggap hina karena dituduh sebagai pezina. Kita pasangan yang terberkati. Berkatnya mewujud janin di rahimmu.

Tunggu sebentar, Sayang. Tapi, bagaimana dengan Haryo?

"Dia juga sudah bahagia. Bersama Dania, wanita yang namanya diambil untuk anak pertama kami," jawabmu dengan senyum yang kauangkat dari bahuku.

*****

Aku percaya bahwa pada akhirnya kebahagiaan akan kembali sejauh apapun ia pergi. Ia akan kembali singgah ke rumah-rumah di mana ia seharusnya berada. Begitu juga kebahagiaan yang pernah pergi dariku, darimu, mantan suamimu, dan jagoan kecilmu. 

Sore ini, kebahagiaanku, kebahagiaanmu, kebahagiaan Danesh, dan kebahagiaan janin di rahimmu sedang berkumpul di sini. Bermain-main di rumah kita, di antara riuh kebahagiaan keluarga lain di kota ini, di bumi Tuhan yang damai. Kopi di cangkir ini, yang tinggal satu sesapan lagi, siap menjadi saksi di kemudian hari.


Jakarta, Desember 2013.

No comments:

Post a Comment