22.12.13

Akhir Senyummu, Akhir Kemayumu

Kata-kata kita berkejaran keluar dari mulut kita masing-masing. Entah kemana perginya. Mungkin menuju ke mangkuk berisi mi rebus dengan kuah panas di hadapan kita. Mungkin juga mencari kesejukan di pinggiran gelas es tehku. Atau bisa jadi mereka ingin berenang dalam segelas es jerukmu. Entahlah.

Begitulah setiap kali kita ngobrol berdua. Tak jelas alurnya, melompat-lompat sesuka kita, dari kenangan sampai cita-cita, dari kisah gundah sampai cerita bahagia, tak tentu. Tapi satu yang selalu datang di tengah bincang, riang.

"Oh ya, Mas, tadi Bapak telepon aku." kau keluar dari cerita tiba-tiba.

"Terus, Bapak bilang apa?" aku pura-pura mau tahu.

"Bilang Halo." jawabmu santai dengan senyum kemayumu.

"Asem." kali ini sambil menyulut sigaret yang sudah menunggu di antara telunjuk dan jari tengahku.

Aku seringkali kau bikin bingung dengan jalan pikiranmu. Melompat-lompat, sesekali ora mutu, tapi aku tetap saja terhibur. Sebenarnya aku juga sudah hafal guyonanmu membelokkan obrolan dengan cerita tak penting. Tapi lagi-lagi, aku suka.

Sambil sebentar-sebentar membetulkan poni, kamu lahap menyantap semangkuk mi rebus di hadapanmu. Entahlah, tampaknya sedap benar makanan itu di matamu. Hampir sama sedapnya kamu di mataku. Sesekali kau mendongak, mengarahkan mata padaku, tersenyum, lalu nyerocos kemana-mana. Usai ceramah, lanjut makan lagi. Terus-terusan seperti itu sampai mangkuk di depanmu sukses kau kosongkan.

Aku selalu suka berhadapan denganmu. Melihat senyummu yang kemayu, menikmati pandanganmu yang terangnya macam lampu mercusuar, mendengarkan ocehanmu yang renyah dan tak hirau jeda. Aku tak pernah berang ketika berdua denganmu. Mengikuti alur kemayumu, yang nakal tapi tetap tawadlu. Melihatmu sebentar-sebentar membenarkan poni. Menyaksikan atraksimu memainkan benda-benda kecil di depanmu. Jarang sekali gagal menghiburku.

Empat bulan ini aku tak pernah lagi melihatmu begitu. Bertemupun tak pernah lagi. Sekarang cerita yang ada padaku benar-benar berbelok, tapi kali ini bukan karena kaubelokkan.

Sekarang tak ada lagi guyonan ora mutu yang keluar dari mulutmu, senyum kemayu yang kau pertontonkan di hadapankupun tak lagi ada. Apalagi atraksimu memainkan botol lada bubuk, tentu juga sudah tiada. Tinggal kenangannya saja yang masih tersisa. Aku masih menyimpan rekamannya di kepalaku.

Cerita kita belok, menuju ke arah yang entah. Beloknya tanpa tanda, tiba-tiba saja. Begitu cepat, bahkan aku belum sempat mempersiapkan diri. Bukan hanya aku yang keteteran karena jalan cerita ini. Pun Ibu dan Bapak. Mereka tak lebih beruntung dariku, sama saja terhempasnya denganku. Sama tak kuasanya mendengar nada "tit" panjang tanpa jeda, seiring gambar garis lurus yang muncul pada monitor di samping ranjangmu. Momen di mana waktu berputar ke belakang dengan sangat cepat, momen di mana kau membawa pergi senyummu yang kemayu dari pandanganku, dari kehidupanku.

No comments:

Post a Comment