24.9.12

Kantuk di Pelupuk

Terantuk kantuk yang berdesakan di pelupuk

Pada embun yang menggelayut di ufuk matamu
Kau bertutur teratur
Tentang resah yang mulai luntur
Tentang risau yang mulai kendur

Pada butir-butir cair di kerut bibirmu
Mengalir alur lirik-lirik
Perlahan kau luruhkan
Beriring lirih merdu nada terpadu

Di ujung hari
Di sepisau sepi
dan sepotong mimpi

Ingat Apa yang Kauingat?

Kau ingat sekian tahun silam?
Sebelum waktu membeku,
Sebelum rasa mencair
meluber
meruah sejauh ruang

Kau ingat apa yang kau ingat waktu itu?
Ketika kau lihat muslihat
yang terus kulontarkan tanpa tenggat
Tapi tak jua terbesit hasrat
di ceruk hatimu untuk selintas melihat
apalagi mendekat

Kau ingat apa yang kau ingat sebelum terjerat?
Saat pikat kau bilang hangat
remang kau bilang temaram
rayu menjadi candu
bujuk menjadi cambuk

Entahlah, aku pun enggan mengingat
Biar ia menjadi padat
terikat
erat
pada masa lalu yang terlampau berat
untuk sekadar diingat

Melenceng Tanpa Sesal

Kurasa tak pantas disalahkan atasku
Tentang jalan-jalan yang kutapaki
Kendati melenceng dari rute awalku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Jalan-jalan tan gemerlap yang kujejaki
Derap demi derap yang kupijakkan
Pada jalan-jalan yang tak serapih
serunut
selurus
semulus rute awal pilihanku

Kurasa tak pantas pula kusesali
Adamu sebagai pemberi navigasi
Meski tak kau genggam kemudi
Arahku senada tuturmu

Dan kurasa memang tak pantas kusesali
Kendati pun harus kujalani di ujung hari

15.8.12

Gardu Tanpa Garda

Kita dengan sadar memasuki gardu
yang terbuka lebar tanpa garda
Memasuki ruang resik
Berbagi rasa, risau, resah
Saling melempar desus, membagi desah
Sampai saat kendali kembali, kita telah basah
Berlumur gelisah

Jangan Ada Hasrat

Aku hanya mencoba
Melenggang tanpa gerak
Mendekat tanpa hasrat
Menggenggam tanpa jemari
Menujumu, kepadamu

Aku hanya mencoba
Menjadi gelap
Sampai kamu tak mampu temukanku
Menjadi terang
Sampai kamu silau karenaku
Menjadi hangat
Sampai kamu tak perlu hadirku memeluk
Menjadi dingin
Sampai kamu merindu hadirku memeluk
Tanpa kamu ketahui

Diam-diam
Tak terasa tapi ada
Tak ada tapi terasa
Di dalammu
Di sisimu
Meliputimu

Kubiarkan tak ada hasrat
Sebab bisa jadi karenanya kita terjerat
Terikat erat
Tanpa bisa melepaskan
Dalam ikatan
yang sama sekali tak menguntungkan

26.7.12

Alufiru di Relung Remang

Kulihat separuh rautmu
di relung remang
di ujung ruang
sungguh jauh dari ruwet
dan tak perlu lagi diruwat

Telingaku meraih-raih
meriah suaramu
di tengah riuh
di relung remang
di ujung ruang
Tak kutemukan

Telingaku meraih
suaramu meracau
di antara racikan reramuan
mengerang
di relung remang
di ujung ruang

Kulihat separuh lagi rautmu
ruwet
meruah darah
di relung remang
di ujung ruang

Terjebak aku dalam alufru
tegang
Bersandar aku pada tiang ruai
di sisi lain
di relung remang
di ujung ruang

20.7.12

Beda

Kita adalah dua insan
dari dua masa berbeda
dari ruang dan waktu
yang berlainan

Akulah selangkangan
sedang dirimu bola mata
bagaimana kita bersatu
bila demikian

Sihirku menjelma doa
Ceracaumu mantra
Di antaranya lah
kita bertemu
untuk kemudian kembali
saling merindu